Avatar: Pandora Membara

Planet bumi kita telah tercemar virus Avatar dalam empat pekan belakangan ini. Muasalnya terpercik dari epos penyelamatan planet Pandora arahan sutradara James Cameron yang menutup blantika sinema dunia 2009 dengan terobosan teknologi yang fantastis. Sebentuk hasil yang sangat membahagiakan mata. Sejak dirilis pada medio Desember silam, film yang juga ditulis dan diproduser bersama Jon Landau itu, kini pemasukannya telah menembus angka 1,34 milyar dolar AS dari seluruh bioskop di seantero jagad raya.

Paling tidak itulah catatan terkini dari situs sinema HitFix, menjelang medio Januari 2010. Secara rekor, sutradara penggila sci-fi dan film animasi Jepang tersebut tengah mengejar rekor pendapatan film Titanic atas namanya sendiri, yang sekarang masih menguasai samudra rekor sinema internasional dengan total pemasukan 1,84 milyar dolar AS. Dalam perburuan rekor sejauh ini, Avatar terus menempel rapat Titanic dengan bertengger di atas posisi The Return of the King (1,12 milyar), Pirates of Caribbean: Dead Man.s Chest (1,07 milyar), dan sequel Batman: Dark Knight ( 1,01 milyar).

Raihan komersial dalam peredaran yang hampir genap sebulan ini setidaknya menimbulkan optimisme para produser Avatar, meskipun total biaya promosi dan produksinya nyaris menembus angka 2 triliun rupiah. Hingga pekan ke empat ini Avatar masih memimpin kejayaan di puncak blantika box office. Di bawahnya ada Sherlock Holmes, Alvin and the Chipmunks, Daybreakers dan satu film komedi romantis dari Universal, It.s Complicated.

Namun disamping hasil pemasukan finansial yang fantastis, James Cameron yang memang piawai menggarap skenario asli yang gurih untuk layar perak, adalah sosok yang paham hati para moviegoers internasional. Memimpin tim editor, mengarahkan kamera, regu efek visual, dan score musik dari James Horner, dia berhasil meraih hasil yang optimal paling tidak secara teknis.

Avatar dapat dikatakan sebagai film sci-fi dengan teknologi tercanggih saat ini, meskipun hadir dengan plot cerita yang sederhana seraya menempelkan .kampanye. lingkungan yang relevan dengan masa kini, meskipun settingnya berlangsung pada tahun 2154! Tokoh utama Avatar adalah Jake Sulley, mantan marinir yang cacat (diperankan aktor medioker Inggris Sam Wotrhington) sementara ini berada di depan pendahulunya macam Luke Skywalker, Han Solo, Indiana Jones, Raja Aragorn, Kapten Kirk dan Mister Spock, Superman, Spiderman, Batman dan robot sekawan C3PO serta R2D2 tentunya.

Deretan pendukung peran film ini bukanlah bintang kejora Hollywood. Kecuali Sigourney Weaver, aktris favoritnya dalam film Aliens, yang kali ini memerankan pakar botani Augustine Grace dengan cukup meyakinkan yang merelakan nyawanya untuk menebus perlawanan melawan kezaliman segelintir manusia atas bangsa Na.vi yang sesungguhnya sangat pasifis. Bangsa yang oleh Cameron digambarkan sebagai mahkluk sang pencipta yang bahkan wajib mendoakan kekekalan pada Eywa, Sang Dewa, sebelum mengakiri hidup setiap hewan buruan di hutan Otimacaya.

Proyek Avatar adalah program yang dikembangkan RDA (Resources Development Administration) suatu perusahaan raksasa non-pemerintah yang tengah meriset transformasi fisik ke komunitas bangsa Na.vi yang menetap di kawasan hutan tropis yang permai dengan kekayaan alam berlimpah untuk mengeksploitasi kandungan energi di alamnya. Alkisah energi yang mereka cari adalah bongkahan Uboptanium yang terdapat di bawah tanah di sekitar habitat pohon raksasa yang sangat keramat bagi suku Omaticaya di planet bangsa Na'vi di Pandora.

Pimpinan proyek ambisius itu adalah Perrer Selfridge (Giovani Ribisi) yang mempekerjakan sejumlah mantan militer di bawah komando kolonel Miles Quarrich (Stephen Lang) yang kejam dan berhati beku. Mereka berniat mulai menambang Uboptanium, yang harga per kilogramnya mencapai 20 juta dolar AS. Dengan setting markas penambangan yang sangat mirip dengan suasana di kawasan Timika Freeport, Cameron mulai menjalankan rakit petualangannya, di hutan rekayasa impian yang penuh dengan perjalanan yang menakjubkan.

Avatar sesungguhnya tampil dengan naskah sederhana yang diramu Cameron dari berbagai sumber sepanjang hidupnya. Mengambil setting di belantara hutan tropis Pandora yang masih perawan, dengan pohon-pohon raksasa dan pulau-pulau terapung. Suatu imajinasi yang barangkali terilhami dari tafsir Nirwana, Shangri La dan tentunya dari sejumlah karya seniman grafis sejamannya, Roger Dean.

Avatar adalah gabungan antara akting lapangan dan kecanggihan teknologi imaji rekayasa komputer (CGI, Computer-Generated Imagery). Komposisinya adalah 40 persen syuting konvensional, sisanya Cameron memfokuskan adegan demi adegan termasuk perang akbar di penghujung film dengan CGI yang sebelumnya sukses merekayasa tokoh Gollum di trilogi Lords of the Ring. Menggunakan kamera PACE Fusion 3-D, film format negative HDCAM (1080p/24) di transfer ke format film 35mm, 70mm (termasuk IMAX seperti yang digunakan di Keong Emas TMII) versi 3-Dimensi.

Keseluruhan kisah masa depan itu kemudian dipoles disana-sini dengan tema kampanye perubahan iklim yang membuat Avatar menjadi lebih canggih dan menjejak bumi. Paling tidak dia tak menjadi cerita antah berantah yang mengawang-awang seperti serial Startrek atau bahkan Starwars. Sebagai sutradara yang termasuk generasi bunga, maka Cameron (lahir di Ontario, Kanada, 16 Agustus 1954) juga terpengaruh budaya pop yang melanda dunia pada dasawarsa tujuhpuluhan.

Termasuk mengusung slogan cinta damai, anti perang, anti kemapanan yang mengedepankan gerakan cinta merdeka, dan tentunya menghadirkan sinema yang sarat dengan kecanggihan teknogi. Sejumlah kreasi yang hadir dalam setting lokasi computer Cameron tampaknya terilhami dari beberapa cover album kelompok art-rock .Yes. yang diciptakan seniman grafis terkemuka Inggris, Roger Dean. Coba tengok pulau terapung, jembatan pohon raksasa, setidaknya telah tergambarkan dengan jelas dalam album Yes bertajuk Fragile (1972), Close to the Edge (1972) Yessongs (1973) dan Tales of Topographic Oceans (1974).

Tokoh antagonis yang menjadi kunci, adalah Colonel Miles Quarrich (Stephen Lang) yang kejam dengan bekas luka disekujur kepalanya. Gaya dan karakternya mengingatkan kita pada acting Robert Duvall sebagai letkol Bill Kilgore dalam Apocalypse Now (Francis Ford Coppola, 1976) yang sangat fenomenal tersebut.

Menyaksikan Avatar, adalah menghadirkan sejumlah tokoh dejavu yang melekat di otak kecil di belakang kepala kita. Sebelum kita sepenuhnya sadar pada sesuatu yang pernah kita kenal itu, Cameron sekonyong-konyong menyemburkan pada kita sinematografi yang padat teknologi 3-D. Mendorong penonton dengan sajian untuk mata dan telinga. Melalui musik James Horner dilengkapi dengan satu dua sentuhan suara-suara etnik yang diciptakan etnomusikolog, Wanda Bryant.

Nun di sana, di antara suku Omaticaya, ada ibunda Neytiri yang mengingatkan kita pada karakter dukun di film animasi Lion King. Ada pohon raksasa yang dikeramatkan orang-orang Omaticaya. Neytiri (Zoe Saldana) adalah putri kepala suku bernama Eytukan. Karakternya tak jauh dari tokoh animasi Disney, Pocahontas yang dalam Avatar di hadirkan berkenalan dan jatuh cinta dengan Sulley. Sepotong romance ala Hollywood yang mendayu, sekaligus menghanyutkan. Mirip Harrison Ford yang jatuh cinta dalam Blade Runners arahan Ridley Scott.

Sementara kepala suku Eytukan yang diperankan oleh Wes Studi yang karakter kejinya masih kita ingat dalam The Last of Moyhicans (Michael Mann, 1992) kali ini muncul dengan karakter yang berani dan bijaksana. Meskipun dia tewas mirip seperti saat dirinya membantai figure Moyhican yang penghabisan, semangatnya menginspirasi seluruh suku di Pandora menaklukkan balatentara colonel Quarrich yang keji dan dilengkapi persenjataan canggih nan mematikan.

Filosofi perubahan iklim secara wacana tentunya tak jauh apa yang terkesan dari Emerald Forest (John Boorman, 1985, hutan Amazon), Dances With Wolves (Kevin Costner, 1990, genosida suku Indian AS ), Apocalypto (Mel Gibson, 2006, ritual Indian Maya), Burning Season (John Frankenheimer,1994, tentang aktivis lingkungan Amazon, Chico Mendes yang tewas dibunuh). Cameron dengan cerdas meramu semuanya dan menjadikannya tema sentral yang dewasa ini tengah seksi diperbincangkan. Perubahan iklim dan manusia-manusia serakah yang korup.

Untuk yang terakhir, Cameron seolah memberi tribute pada tokoh animasi Jepang, Hayao Miyazaki dengan menghadirkan kunang-kunang versi Pandora yang mungkin memberinya inspirasi pada perwujudan impiannya, jauh di rimba raya Pandora. Tanah air suku Omaticaya.

Saat kita masih merasakan kepakan berkilau dari sayap sayap halus yang seolah memberi tribute pada Hayao Miyazaki, kunang-kunang versi Pandora bergerak perlahan meninggalkan perpektif di balik kacamata 3-D para penonton yang masih terkesima, tiba-tiba kreditasi akhir pada penghujung film hadir memunculkan ribuan nama-nama pendukungnya, Mahatma Gandhi rasanya seperti hadir melalui Dr. Auguste Grace. Dan, melayangkan sepotong kata-katanya yang bijak.

"Satu bumi cukup untuk semua umat manusia, namun tak pernah cukup bagi segelintir manusia yang serakah"
- Mahatma Gandhi


* Oscar Motuloh adalah kurator Galeri Foto Jurnalistik ANTARA

(Ilustrasi: Still frame film Avatar IMDB.com)

Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use