Manikam Khatulistiwa

Pagi di stadion Krida Sana Singkawang. Terlihat ribuan panji-panji yang dibawa arak-arakan penandu para tatung yang berdiri gagah dengan atribut masing-masing. Menatap angkuh ke tribun yang sesak oleh penonton. Sejauh mata memandang, yang tampak hanyalah bendera merah putih yang mengelombang menyelinap di lautan panji-panji kebesaran bertuliskan aksara kanji. Meliuk-liuk di antara ribuan peserta yang memenuhi arena. Terkebut kebasan kencang angin bulan Februari.

Atmosfir yang sekilas mengingatkan kita pada scene film-film kolosal China arahan sutradara Ang Lee, Zhang Yimou ataupun John Woo.

Sejak pagi, masyarakat telah tumpah ruah di stadion dan sepanjang jalan protokol yang dilalui arak-arakan tatung, pawai naga, rombongan binatang shio, liong dan barongsai. Kemeriahan dan gemerlap kota menjadi penanda kesertaan masyarakat, entah itu keturunan Tionghwa sebagai mayoritas, etnis Melayu dan juga orang-orang Dayak. Mereka memeriahkan Malam Kelimabelas, alias Cap Go Meh, dalam suatu festival yang merangkum varian tradisi dan ritual leluhur orang-orang Singkawang.

Perayaan Cap Go Meh adalah semacam kemeriahan menyambut datangnya Hari Raya Imlek yang selalu jatuh pada tanggal lima belas bulan satu. Seluruh rumah dihias dan warga mematut diri. Suara tambur dan tetabuhan memenuhi cakrawala kota primadona Kalimantan Barat yang dihuni sekitar 151 ribu jiwa itu. Pada sejarahnya, arak-arakan keliling kota itu dulu dilakukan untuk mengusir wabah, sekaligus roh jahat, yang konon, gentayangan mematikan kota.

Menurut Dr.Margaret Chan, peneliti budaya Tionghwa asal Singapura, meskipun festival Singkawang belum sekolosal perayaan serupa di Taiwan, namun dia istimewa, karena partisipasi para tatung dan sejumlah dewa suku Dayak serta kehadiran para datuk yang mewakili etnis Melayu. Pengaruh dan asilimilasi dengan budaya lokal inilah yang membuat festival Singkawang menjadi unik dan menarik untuk disimak.

Pameran fotografi .SINGKAWANG: Jade of Equator. yang kini tengah digelar adalah kolaborasi sosial delapan fotografer yang mencoba membuka gerbang perkenalan untuk menilik keberagaman budaya adalah mutu manikam yang memperkaya peradaban Nusantara. Betapa tidak, salah satu permata yang di pasung sepanjang pemerintahan Orde Baru baru terbebaskan setelah Presiden Gus Dur mencabut Perpu no.14/1967 yang rasis itu. Keputusan yang mengalirkan kembali sungai spiritual dan kebudayaan kelompok minoritas ke samudra bhineka Indonesia yang bernama pluralisme.

Kehadiran pameran ini di Galeri Salihara Jakarta dan di kota Singkawang sendiri tentulah dapat dipandang sebagai sumbangsih kecil sekelompok fotografer yang percaya bahwa komitmen sosial perihal kekuatan keberagaman sesungguhnya mengikat kita untuk merekat kembali kebhinekaan Indonesia yang semakin luntur. Kekuatan yang selama ini terbukti berhasil menyatukan kita sejak negeri multi etnik bernama Republik Indonesia ini didirikan, yang kemerdekaannya dikumandangkan Soekarno-Hatta pada 17 Agustus 1945, di suatu pagi di bulan Ramadhan yang cerah.

"Saya ingin di kuburan saya ada tulisan: Di sinilah di kubur seorang pluralis."
Gus Dur (1940-2009)

LIGA MERAH PUTIH: Jay Subyakto, Yori Antar, Enrico Soekarno, John Suryaatmadja, Sigi Wimala, Sjaiful Boen, Asfarinal St Rumah Gadang, Oscar Motuloh

(Foto: The Dragon, Jay Subyakto; Panji Kebesaran, Yori Antar)


Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use