Selarik Duka dari Jombang dan Teheran

Senja mulai temaram di sudut kota Teheran, Iran, Juni tahun lalu. Sejumlah pihak yang tidak puas akan hasil pemilu yang dimenangkan kembali oleh penguasa sebelumnya, melakukan protes di sejumlah sudut kota. Aksi unjuk rasa tidak hanya dilakukan di jalan jalan kota, sejumlah orang malah terlihat memilih untuk melakukan aksi unjuk rasanya di atas atap bangunan bertingkat. Belum jelas benar alasannya, entah karena makin kerasnya tekanan penguasa kepada kaum oposisi yang tengah berunjuk rasa di jalanan, sehingga atap bangunan merupakan tempat yang dianggap masih bebas untuk mengekpresikan perlawanannya.

Momentum ini berhasil diabadikan dengan apik oleh fotografer freelance Italia Pietro Masturzo yang tengah bertugas di negeri para Mullah itu. Satu foto seorang wanita berteriak dari atap bangunan bertingkat di kota Teheran yang dicomot dari seri foto yang bertajuk "From the Rooftops of Tehran" itu akhirnya diganjar sebagai foto terbaik 2009 dari World Press Photo (WPP), sebuah lembaga prestisius di bidang foto jurnalistik dunia yang diumumkan 12 Februari lalu.

Beberapa bulan setelah Masturzo berhasil menangkap momentum bersejarah dari atap bangunan bertingkat itu, nun ribuan kilometer dari Teheran, tepatnya di kompleks pondok pesantren Tebu Ireng Jombang, seorang fotografer Assosiated Press (AP) harus bersusah payah harus menyibak kerumunan massa yang menyambut kedatangan jenazah tokoh santri Abdurrahman Wahid (Gus Dur) di sebuah masjid.

Trisnadi Marjan, sang fotografer akhirnya berhasil mengabadikan momentum itu dari sudut yang paling menarik. Foto yang menggambarkan massa yang menyemut dan melambaikan tangan ke arah peti jenazah yang berselimut bendera merah putih itu memang berhasil menyajikan satu momentum puncak dari prosesi pemakaman Gus Dur. Kalau boleh meminjam istilah Cartier-Bresson, Trisnadi berhasil membekukan sebuah momentum yang menentukan decisive moment dari sebuah rangkaian peristiwa kepergian sang tokoh besar itu. Saya kira tidak ada foto lain yang bisa mewakili dan menggambarkan peristiwa besar itu. Dan benar saja foto bertajuk "Jenazah Guru Bangsa" itu juga didapuk oleh dewan juri menjadi foto terbaik dari Pewarta Foto Indonesia 2009, worldpressphoto-nya Indonesia.

Saat melihat foto karya Masturzo, kedahsyatannya tidak langsung menohok mata saya, bahkan awalnya saya kesulitan mencari dimana posisi wanita yang tengah berteriak di sela-sela atap gedung yang mulai temaram itu. Namun menurut juri Ecer Ayperi Karabuda, foto ini justru menunjukkan awal dari sesuatu, awal dari sebuah cerita besar. Foto ini juga secara visual sangat menyentuh emosi. Barangkali benar juga foto itu mungkin tidak memanjakan mata, tapi lebih punya kemampuan mengaduk-aduk emosi. Foto Trisnadi tak kalah dahsyatnya, gambarnya langsung menyentak mata, mengingatkan kita semua akan foto-foto pemakaman tokoh tokoh besar dunia yang kharismatis yang pernah ada. Peti jenazah yang diusung melintasi gelombang para santri yang melambaikan tangan sambil mengucapkan doa-doa seolah menyiratkan rasa kehilangan yang teramat besar dan duka yang mendalam dari para pengikutnya.

Tak heran pula foto Trisnadi berhasil menyisihkan 3026 foto lainnya dalam ajang penjurian. Menurut salah satu dewan juri, foto tersebut memang dipilih secara aklamasi sebagai foto terbaik karena secara simbolik mewakili sebuah rasa kehilangan, sebuah luka dan duka yang mendalam tidak hanya atas kepergian sang tokoh yang selama ini selalu memompa semangat nasionalisme, spirit kebersamaan, pluralisme, tapi juga sekaligus mengingatkan akan makin lunturnya semangat nasionalisme dan spirit kebersamaan itu di tengah-tengah masyarakat. Para juri memang seakan tak punya pilihan lain, karena foto itu mewakili apa yang tengah dirasakannya dan seolah mewakili apa yang tengah terjadi di tengah-tengah masyarakat.

Gambar ribuan santri yang melambaikan tangan mengantar jenazah Gus Dur ini juga seolah mengantarkan Pewarta Foto Indonesia (PFI) sebagai organisasi kaum pewarta foto untuk mengawali kiprah dalam memberikan apresiasi terhadap karya-karya foto yang selama ini kurang mendapat penghargaan yang semestinya dari dunia pers sendiri dengan menyelenggarakan Anugerah PFI 2009 pada tanggal 14 Februari lalu, dengan membuat sebuah "miniatur" penghargaan WWP.

Hasilnya lumayan mengagetkan, Anugerah PFI 2009 bisa juga dianggap sebuah padanan WWP dalam skala yang lebih kecil. Gambar-gambar yang terpilih sungguh mengingatkan kita akan gambar serupa yang tiap tahun ditampilkan oleh WWP sebagai foto terbaiknya. Drama kemanusiaan, kemiskinan, kekerasan perjuangan kaum terpinggirkan termasuk kiprah kaum elite dan tokoh tokoh yang menghiasi sejarah Indonesia ditampilkan dengan berkelas serta berkarakter. Para pewarta foto tidak hanya berhasil menangkap momentum dengan apik, namun juga berhasil menyiratkan makna di balik apa yang tergambar, dengan dukungan skill fotografi yang memadai.

Foto yang ditampilkan di Anugerah PFI 2009 memang tak kalah menariknya dengan WWP. Foto pemakaman Gus Dur itu bisa dibandingkan dengan prosesi pemakaman tokoh tokoh kharismatik dunia yang terkenal dekat dengan rakyat, semisal Ayatullah Khomaeni, Yasser Arafat, Sheikh Yassin (Palestina), Gamal Abdul Nasser (Mesir) dan bahkan Mahatma Ghandi. Dan Trisnadi berhasil mengabarkan bahwa Gus Dur adalah tokoh besar dan dekat dengan rakyatnya khususnya kaum santri. Tengok pula foto yang dibuat oleh Yusuf Ahmad (Reuters) berjudul "Berpartisipasi" yang mengingatkan kita tentang suasana yang sama ketika terjadi pemilihan umum di Afghanistan, yang memperlihatkan tiga perempuan dengan menggunakan pakaian hitam tertutup rapat lengkap dengan cadar memasukkan kertas suaranya. Foto yang meraih pemenang kedua untuk kategori politik itu diambil di Makassar, bukan di Afghanistan.

Kategori Essai Foto adalah bagian yang paling menarik untuk dicermati. Dari tiga pemenang, essai foto karya Desmunyoto P. Gunadi dari harian Jurnal Nasional barangkali menjadi yang paling menarik. Essai bertajuk "Gusuran Cilincing" itu menceritakan "perlawanan" warga pinggiran Jakarta saat aparat pemerintah menggusur pemukiman mereka. Ada sorot kebencian sekaligus ketidakberdayan dari mata mereka. Situasi makin mencekam dengan disajikannya adegan perlawanan itu dari berbagai sudut, ada bakar-bakaran ban, barikade jalanan, bom Molotov dan asap yang membumbung ke angkasa. Dan Desmunyoto menyajikannya dengan dramatis, mirip Intifadah Palestina kecil-kecilan. Tak heran essai itu meraih juara pertama untuk kategori itu.

Tak kalah menariknya adalah laporan visual dari tangan pewarta foto Medan, Chalid Nasution (Zuma Press), yang menyajikan pelaksanaan sebuah operasi dari aparat kepolisian untuk mencari seorang tersangka kriminal. Operasi Pekat sebagai judul essai foto itu menampilkan berbagai adegan operasi di kegelapan malam, lengkap dengan todongan pistol, suasana remang remang prostitusi, yang semuanya di sajikan dalam permainan cahaya gelap terang. Aspek dramatisasi dengan mudahnya terbentuk, dan itu mengingatkan foto serupa yang dibuat di kawasan-kawasan kumuh Rocinha, di Rio de Jeneiro Brazil, atau di ghetto-ghetto di Bronx New York. Chalid Nasution berhasil membuat adegan serupa di tempatnya sendiri di lintas Medan Binjai.

Sebagai sebuah langkah awal, Anugerah PFI 2009 patut diacungi jempol. Mesti belum berhasil membuat kategorisasi selengkap WWP, namun adanya penghargaan yang disertai pameran, dialog dan juga penerbitan buku foto terbaik pilihan para juri, sudah bisa dianggap sebuah prestasi tersendiri, khususnya bagi para pengurus Pewarta Foto Indonesia (PFI) periode sekarang, karena penghargaan itu merupakan salah satu impian para pewarta foto sejak organisasi ini didirikan 1992 silam.

Selamat jalan Sang Guru Bangsa.. Foto Trisnadi Marjan mengajak kita untuk ikut pula melambaikan tangan dengan takzim, persis seperti ribuan santri yang melambaikan tangan di Jombang itu...


* M. Zarqoni Maksum, pewarta foto ANTARA

(Foto-foto: repro poster resmi Anugerah Pewarta Foto Indonesia 2009)


Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use