Final Anak-Anak Buangan

Minggu dinihari.

Kita, beserta 80.400 penonton yang langsung hadir di estadio Santiago Barnebeau, plus ratusan juta penggila bola di seantero planet bumi yang menyaksikan siaran langsung final Liga Champions bakal menjadi saksi sejarah perihal malam pembuktian supremasi klub tercanggih, sekaligus menjawab siapa peracik magic sepakbola terbaik. Louis Van Gaal (58) atau Jose Mourinho (48) alias Mou.

Kita pasti bakal menyaksikan suguhan superior dengan dua dirigen orkestra sepakbola yang mewakili dua negeri gila bola, Jerman dan Italia, yang dua tahun belakangan ini tersingkir dari lingkar dalam peta sepakbola Eropa yang didominasi oleh klub-klub Inggris dan Spanyol. Di tahun macan ini, tak ada singa-singa lapar dari daratan Inggris, juga petarung-petarung flamenco yang sangat mematikan dari tanah Spanyol. Semuanya takluk di telapak kaki anak-anak Bayern dan Inter Milan secara dramatis.

Dua klub finalis Liga Champions kali ini bukanlah harapan banyak orang. Namun sepakbola tetaplah sebongkah misteri yang menganut falsafah life goes on. Dia menawarkan perihal kehidupan dan sportivitas. Apresiasi dalam realita manusia sedikit banyak diajarkan dari blantika sepakbola. Menghargai kemampuan lawan, menyenangkan orang banyak dengan permainan atraktif serta menghibur musuh yang baru ditaklukkan adalah bagian mulia dari kenyataan yang terungkap dari dunia sepakbola.

Menariknya, sejak kedatangan Van Gaal plus sayap cerdik nan licah Arjen Robben di klub elite orang-orang Bavaria itu, Bayern justru sangat menderita di awal musim, padahal pendukung dan manajemen klub terlalu menaruh harapan yang sangat tinggi pada mereka. Dengan gaya, Van Gaal membiarkan mereka masuk dalam dramaturgi sepakbola yang sangat mendebarkan. Membiarkan mereka menanti dengan hati deg-degan, pertarungan demi pertarungan sampai adegan pamungkas di laga penutup bundesliga, Piala Jerman dan juga di ajang Liga Champions.

Akhirnya dua trofi, bundesliga dan Piala Jerman resmi dalam genggaman erat mereka. Di belantara Champions, Bayern dijuluki .The King of Return., karena harus menjalani misi mustahil sejak di penyisihan grup, sampai babak semi-final kemarin. Bayern harus berjibaku habis hingga detik-detik injury time karena umumnya mereka selalu kemasukan gol terlebih dahulu. Kekalahan dalam pertandingan dramatis adalah keruntuhan yang teramat menyakitkan. Juventus merasakan derita itu, juga Olympique Lyonnais, Fiorentina dan tentunya Manchester United yang bahkan dipermalukan di stadion keramat mereka, Old Trafford.

Van Gaal memang sukses membawa anak-anak muda Ajax Amsterdam meraih supremasi Eropa, namun mencoreng wajahnya sendiri ketika memboyong the young guns Belanda itu ke Barcelona, tempatnya berlabuh sebagai pelatih raksasa Kataluna menggantikan mendiang Bobby Robson. Orang-orang Barcelona menyebut Van Gaal seperti memindahkan Ajax ke Barcelona, klub dimana kelak dia dipertemukan dengan seorang penerjemah yang cerdas, bernama Jose Mourinho.

Melihat bakatnya, Van Gaal lalu menawarkan promosi bagi Mou sebagai asisten pelatihnya. Mereka lalu bahu membahu dalam perjuangan klub Kataluna yang penuh dengan atlet bola dari Belanda yang diboyongnya dari Ajax itu. Mulai dari kiper Ruud Hesp, bek Frank de Boer, Michael Reiziger, gelandang Philip Cocu, sampai striker Patrick Kluijvert.

Bersama Barca, prestasi Van Gaal sesungguhnya jauh dari gemilang, di Liga Eropa dia hanya sampai semifinal, merebut juara La Liga dan beberapa trofi kelas dua di Spanyol. Van Gaal mulai kehilangan pamor dan dipecat pada tahun 2000. Mou juga pamit diri pada untuk bertualang sebagai pelatih di Eropa. Sejak itu Van Gaal melatih kesebelasan nasional Belanda yang penuh bintang namun gagal tampil sebagai tim nasional yang padu. Tak ada catatan prestasi Van Gaal sebagai pelatih nasional Belanda.

Di kancah seberang sana, di kota flamboyan Milano, pria kelahiran Setubal Portugal tengah menyiapkan taktik jitu bagi kesebelasan yang baru semusim ini ditanganinya dengan gemilang. Pria flamboyan di kota flamboyan dengan kesebelasan yang tak seflamboyan Chelsea, Manchester United atau Real Madrid itu harus mampu menekuk strategi mantan mentornya yang diakuinya adalah salah satu dari sedikit figur yang dia kagumi.

Satu-satunya kelemahan Inter kali ini adalah karena mereka berada pada posisi yang diunggulkan, sehingga memungkinkan Bayern akan lebih bermain lepas. Sesuatu yang membahayakan lini perhanan tangguh Inter Milan, yang telah sangat teruji. Klub sekreatif Barcelona saja dibuat frustasi berat karenanya. Sistem cattenaccio yang dimainkan dengan baik oleh kwartet legiun asing Inter lebih baik dari tim manapun yang ada di Italia.

Suatu hari pelatih timnas Italia, Marcello Lippi pernah berujar, .apa yang harus disimak dari Inter Milan? Mereka bukan tim dari Italia, karena dilatih pelatih Portugal dan tak satupun pemain intinya berasal dari Italia. Meskipun sekali dua, Mou kerap menurunkan Matrix dan Mario Balotelli yang murni berdarah Afrika sebagai pemain pelapis Inter Milan."

Mou harus diakui keberadaannya sebagai pelatih yang jenial. Meskipun dia hanya anak seorang kiper hebat Portugal di masa silam, Mou tak pernah jadi pemain beken yang kemudian berkarir sebagai pelatih super. Sebut saja Carlo Ancelotti, Frank Rijkaard, Didier Deschamps, dan Pep Guardiola. Namun katanya dengan dingin belum lama ini, .namun mereka semua pernah saya taklukkan..

Sekarang dia harus menghadapi lawan dengan figur yang punya kelas tersendiri. Van Gaal adalah pelatih yang arogan seperti dirinya, namun Van Gaal lebih paham untuk menyenangkan penonton, karena dia dikenal sebagai sebagai penganut strategi total football yang legendaris dan sudah terlanjur menjadi merek dagang kesebelasan dan pelatih-pelatih Belanda. Sama seperti Van Gaal, Mou sangat berambisi melengkapi treble sebelum dia bertualang di Spanyol.

Di lapangan rumput stadion berbintang delapan itu, mereka harus bertarung mati-matian sampai titik darah penghabisan, di hadapan puluhan ribu pendukung mereka termasuk presiden klub masing-masing. Karl Heinz Rummenige (Bayern Muenchen) dan Massimo Moratti (Inter Milan), sementara presiden Real Madrid, pengusaha Florentino Perez, boleh bernafas lega lantaran bukan Barca yang hadir mewakili Spanyol dalam partai final di stadion raksasa yang mengambil nama dari mantan presiden Real Madrid, Santiago Barnebeu itu.

Barangkali Perez bisa lebih bahagia jika kesebelasan Mou yang berhasil meraih trofi yang sudah 45 tahun lepas dari genggaman mereka, sebab pria kontroversial itu bakal direkrut sebagai dirigen Real setelah Manuel Pellegrini di depak menyusul kegagalannya membawa Real yang dilengkapi pemain-pemain bintang yang luar biasa mahal (Cristiano Ronaldo, Ricardo Kaka dan Karim Benzema) untuk tampil dalam final Liga Champions di kandang kesayangan mereka.

Selain kerugian material yang sangat tinggi, Perez harus menelan cemoohan masyarakat sepakbola di seluruh dunia, termasuk direktur kehormatan Barca, Johan Cruijff yang menyindir bahwa materi tak serta merta bisa membawa prestasi. Sementara itu pemain-pemain inti Inter seperti, Samuel Etoo, Esteban Cambiasso, Walter Samuel dan Wesley Sneijder serta sayap andalan Bayern Arjen Robben pasti akan juga memandang Perez dengan pandangan angkuh dari kejauhan di lapangan hijau Santiago Barnebeau. Barangkali sambil berkata, .lihatlah kami mister presiden Perez, pemain-pemain yang kau buang. Tanpa Real justru kami ada final ini..


* Oscar Motuloh, penikmat sepakbola yang juga kurator Galeri Foto Jurnalistik ANTARA

Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use