Opera Mourinho

Akhirnya drama 90 menit plus tiga menit menutup penghujung manis untuk pria flamboyan yang kerap disapa Mou itu. 80.100 penonton yang tercatat di stadion Santiago Barnebeau, termasuk pendukung fanatik Bayern Munich memberikan aplaus yang meriah untuk kesebelasan Inter Milan yang harus menanti 45 tahun untuk dapat kembali mereguk manisnya berada di puncak kejayaan sepakbola Eropa.

Ketika presiden UEFA, Michel Platini, mantan pemain masyhur Perancis yang juga berdarah Italia menyerahkan trofi Liga Champions kepada capitano Inter Javier Zanetti, maka meledaklah gempita pendukung Inter yang tampak penuh eforia di stadion megah itu. Termasuk sumringah presiden Inter Massimo yang sangat mendamba kejadian itu. Kembang api, mercon kertas membahana biru, menyambut pengabdian Zanetti yang harus menanti 15 tahun untuk sampai pada penghujung yang mengharukan itu.

Semua akhir di Barnebeau itu akhirnya memperlihatkan bahwa sepakbola adalah pemersatu paling unggul saat ini di planet bumi. Saat pasukan Van Gaal dan seluruh tim Bayern dengan sportif memberi aplaus ke arah lawan mereka yang baru menerima trofi kebanggaan di tribun kehormatan, maka seluruh pendukung Bayern sontak juga menyambut kebahagian orang-orang Italia yang ada di stadion berbintang delapan itu. Semua bergembira, termasuk penonton tuan rumah yang sekalian menyapa selamat datang buat Mou di Madrid.

Penantian panjang sejak setahun lampau, mendudukkan jadwal ketat bagi industri sepakbola Eropa yang ujungnya adalah 90 menit plus tiga menit itu. Tak ada kesibukan yang seluarbiasa perhelatan Liga Champions. Tak ada kegiatan siaran langsung yang seheboh final itu. Miliaran pasang mata baru saja menikmati kebahagiaan itu di layar kaca di seantero bumi. Dari La Paz sampai Saudi Arabia. Sepakbola hanyalah permainan, dan perhelatan itu menawarkan pada kita sentuhan kemanusiaan yang saling menghubungkan rasa perdamaian.

Dipimpin wasit dari Inggris yang kerap kita saksikan di EPL, pertandingan sesungguhnya dikuasai anak-anak Bayern. Mereka menguasai hampir 70 persen penguasaan bola. Beroleh 6 sepak pojok (Inter hanya 2), namun skor berkata lain. Melalui dua serangan balik yang mematikan, sang penyihir bernama Alberto Diego Milito dari Argentina membungkam kesebelasan yang terkenal sebagai .King of Return. itu.

Gol pertama terjadi setelah kiper luar biasa Inter, Julio Cesar (Brasil) melambungkan bola ke pertahanan Bayern. Dengan cepat bola disambut Esteban Cambiasso (Argentina) yang segera mengoper ke playmaker Wesley Sneijder (Belanda) sebelum meneruskan ke kaki Milito yang dengan dingin mengeksekusi bola melampaui kepungan pemain belakang Bayern dan tak terjangkau kipper Jorg Butt. Satu kosong.

Bayern membuka babak kedua dengan serangan kilat dari sektor kiri mereka, Hamit Altintop berhasil mengelabui bek Inter yang bermain sangat disiplin malam itu, mengoper ke arah pemain muda Thomas Mueller yang segera menembak ke gawang, sayangnya bola kencang itu masih tertahan dengkul Cesar yang bermain luarbiasa malam itu. Seperti ketika partai Barca versus Inter, Mou hanya mengandalkan serangan balik yang sporadis, untungnya ada Milito yang lagi dalam top formnya. Samuel Eto.o (Kamerun) dan Cambiasso hadir untuk mengacaukan pertahanan Bayern yang agak terbuka.

Serangan Bayern datang bak bak bola salju, namun kastil Inter benar-benar tangguh. Lucio dan Maicon (Brasil), Walter Samuel (Argentina) dan Christian Chivu (Rumania) dengan dingin dan zakelijk berhasil menghalau serangan anak-anak Bavaria itu. Bahkan lewat suatu umpan panjang dari Eto.o, Milito berhasil mengelabui tiga pemain belakang Bayern, dari sektor kiri Bayern Milito terkahir mengecoh Daniel Van Buyten (Belgia) sebelum dengan kaki kanan bagian luar mengirim bola ke tiang jauh tanpa dapat di tepis Butt. Dua kosong pada menit ke tujuh puluh.

Di pinggir lapangan, Mou yang tadinya tegang, kembali ke gaya ekspresifnya, dia mengacungkan dua telunjuknya ke udara. Tampaknya dia yakin pertandingan sesungguhnya telah berakhir. Untuk mengamankan kemenangan, dia memasukkan gelandang bertahan Sulley Muntari (Ghana) dan mengganti sang pahlawan Milito dengan Matrix Materazzi pada menit ke 90 dan menjadikan tim Inter diwakili oleh satu-satunya pemain Italia di penghujung partai final itu.

Setelah Matrix masuk . meski pertandingan belum berakhir -- Mou berinisiatif mendatangi bench Bayern dan memeluk mantan mentor yang dia hormati, Van Gaal. Tiga menit tambahan waktu akhirnya berakhir. Penantian itu tiba pada ujungnya. Milito meloncat dari pinggir lapangan, pekik kemenangan menggaung di Madrid. Mou tampak terharu, memandang ke arah pendukung Inter di curva nord Barnebeau. Dia tampak memegang bola terakhir yang menjadi saksi sejarah untuk disimpannya sebagai kenangan manis di Italia.

Mou memang sungguh-sungguh special. Dia istimewa karena menjadi pelatih yang menerapkan strategi dengan belasan anggota tim yang mendukungnya secara metodis di belakang layar. Meskipun dia tak semenghibur Pep, Ancelotti, apalagi Van Gaal dan Arrigo Sacchi, namun Mou tahu bagaimana meraih kemenangan dengan taktik negatif sekalipun. Dia sekarang mencatatkan sejarah. Di Milan namanya sekarang sejajar dengan pelatih legendaris pujaan internisti bernama Hilario Herrera yang menghadirkan Piala Champions dua kali berturut-turut 45 tahun silam.

Bagi Massimo Moratti yang menjadi presiden yang tabah dan sabar menanti datangnya kejayaan ini, Mou adalah anak emasnya, meskipun hanya untuk semusim. Saat ini Moratti menjadi tokoh baru yang menjadi simbol Italia. Sebentar lagi dia akan meruntuhkan popularitas pemilik klub AC Milan nan flamboyan, Silvio Berlsuconi ke titik nadir setelah berkecimpung di arena politik yang kemudian dilaluinya dengan penuh skandal pribadi yang berkaitan dengan ritsleting celananya.

Final anak-anak buangan itu juga buntutnya mengemukakan bahwa sportivitas adalah tujuan dari olahraga apapun permainannya. Dia menjadi motivasi yang mendorong semangat sebagai contoh bagi siapapun manusia di bumi. Seperti yang diperlihatkan Wesley Sneijder, Arjen Robben, Walter Samuel dan Esteban Cambiasso di hadapan presiden Real Madrid yang membuang mereka dan kini harus menyaksikan mereka berlaga di partai final yang sangat dia inginkan dengan ambisius.

Penghujung itu juga adalah juga simbol loyalitas yang diperlihatkan Javier Zanetti, pemain paling senior di Inter. Pria kalem itu adalah pekerja keras di lapangan hijau. Dia memimpin teman-temannya dengan anggun. Jika dia memperlihatkan emosi yang gemuruh saat memasukkan kepalanya di dasar tofi Liga Champions seperti pangeran yang baru dimahkotai sebagai raja, maka itu bisa dibaca sebagai olok-olok untuk Diego Maradona yang ngeyel membuangnya bersama Esteban Cambiasso dari timnas Argentina yang akan berlaga di Piala Dunia Afrika Selatan pada bulan Juni yang akan datang.

* Oscar Motuloh, kurator Galeri Foto Jurnalistik ANTARA yang juga penikmat sepakbola


Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use