Emporium Santiago Bernabeu

Pesta penobatan raja Eropa sudah usai. Lampu stadion telah lama padam. Kawasan Avenida de Concha Espina 1, sekitar 4,5 dari pusat kota Madrid lengang kecuali gemerincing bunyi yang dikeluarkan para petugas kebersihan yang membereskan stadion megah Santiago Bernabeu agar rapih seperti semula. Trofi liga Champions yang baru beberapa jam silam direbut Inter, pagi-pagi buta telah diterbangkan Massimo Moratti bersama sebagian pengurus Inter untuk segera diamankan di rumahnya yang baru, San Siro, markas besar Inter di Milano.

Minggu pagi, 40.000 pendukung nerazzurri telah menanti di gerbang San Siro, mereka menyambut dengan gempita Moratti dan para pahlawan Inter, tentu dengan trofi keramat yang terenggut sejak 45 tahun yang silam. Namun ada yang ganjil di antara eforia pendukung dan anggota Inter Milan yang masih mabuk kemenangan yang memang telah sangat lama mereka rindukan.

Tak ada Mou di kerumunan yang membahanakan kegempitaan itu.

Salah satu kebiasaan Mou adalah meninggalkan keriaan kemenangan untuk sepenuhnya dinikmati pemain-pemainnya dan pengurus di luar dirinya. Ketika Porto meraih trofi Liga Champion pada 2004, Mou tak muncul dalam victory lap di lapangan kemenangan. Dia memilih meninggalkan arena dan berkumpul dengan istri dan anak-anaknya yang masih kecil.

Di Stamford Bridge, Mou malah lebih ekstrem lagi, dia ikut keriaan di lapangan namun melemparkan medali juara Liga Primer ke arah penonton yang mengelukannya dari pinggir tribun stadion. Ketika official mengalungkan medali pengganti ke lehernya, Mou kembali melemparkannnya ke arah penonton yang histeris berebutan menangkap memorabilia yang barangkali sangat penting bagi pelatih lain.

Mou sadar betul bahwa dia adalah fokus perhatian, karenanya soundbytes dan performance-nya seolah telah dirancangnya dengan sempurna agar pers yang kerap dibuatnya kesal tetap merindukan berita-berita yang meluncur dari mulutnya yang pedas namun mengalir cerdas. Mou adalah santapan berita hangat bagi pers dimanapun dia berada.

Kali ini, ketakhadiran dirinya adalah pertanda perpisahannya? Ketika merebut scudetto dia terlihat meneteskan airmata haru. Hal yang tak pernah dilakukannya di Inggris pada dua tahun pertama kejayaannya. Sabtu malam dia malah menangis lebih eksplisit lagi. Mou tampak terisak-isak, membiarkan airmatanya menyelinap turun ke dagu yang jelas belum dicukur, seraya menatap pendukung Inter yang menyambutnya dari tribun atas lapis kedua.

Pada situs Soccernet.com, beberapa koran lokal menyatakan kesepakatan Mou untuk menangani Real Madrid. Statusnya bisa dikatakan .sudah sangat hampir pasti., kata sumber itu. Artinya, laga final Liga Champions semalam adalah partai terakhir Mou bersama Inter. Mou sendiri menjanjikan akan ada pernyataan pers langsung setelah partai final berakhir. Namun yang ada, Mou tak memastikan statusnya, malah dia membiarkan pers menafsirnya sendiri-sendiri. Paling tidak sebelum kehadirannya di Madrid jika dia benar-benar memutuskan untuk pergi.

Sampai beberapa saat setelah pertarungan bersejarah itu, Mou akhirnya menjawab jaringan TV Italia, RAI. .Trofi yang saya menangi bersama Porto (2004) adalah keberadaan saya yang terakhir di klub itu. Posisi saya sekarang nyaris persis seperti itu., kata Mou dengan pede. .Saya ingin mejadi pelatih pertama yang memenangi trofi ini untuk tiga klub yang berbeda. ujar dia mantap. Sementara di usianya yang terbilang masih muda sebagai pelatih, Mou telah mencatatkan dirinya sejajar dengan Ernst Happl dan Ottmar Hitzfeld. Pelatih besar yang berhasil merengut trofi dua trofi Liga Champions untuk dua klub yang berbeda.

Dari ambisi besarnya itu, Mou menyimak bahwa hanya Real Madrid yang masuk dalam perhitungannya. Begini katanya .Saya membutuhkan tantangan lain dalam karir kepelatihan saya. Saya ingin risiko baru, pengalaman baru dan momentum itu adalah sekarang. Dan kemungkinan itu hanya dapat saya lihat pada Real Madrid. Meski saya sangat mencintai Italia dan publiknya. Real adalah klub luarbiasa, tim yang punya keinginan yang sama dengan saya. Saya ingin kemenangan dan selalu ingin dianggap penting..

Los Galacticos memang membutuhkan pelatih sekelas pria flamboyan ini. Kehadiran Mou tentu akan membuat sepakbola Spanyol akan lebih bergairah. Sama persis seperti yang dilakoninya di London, dan Milano. Tapi Mou adalah pelatih cerdas, dia tak gampang menjulurkan tangan tanda setuju untuk melatih tahun pertama dengan bintang-bintang yang sudah keburu dibeli Perez. Mou adalah pelatih yang tak mengenal kompromi, begitu dia tersinggung karena direcokin wewenangnya maka Mou segera hengkang. Persis seperti yang dialaminya di Chelsea saat Abromovich memaksakan kedatangan Andrei Sheva.

Presiden Florentino Perez menanti ratu adil bagi kesebelasan Real Madrid. Setelah terbukti bahwa materi memang tak otomatis membuat tim kuat, egaliter, solid dan bermental juara. Jika sudah keburu dicap sebagai kesebelasan borju, maka Real Madrid yang juga dijuluki Los Galacticos memang harus beroleh pelatih flamboyan yang piawai menyusun strategi pertandingan dan mumpuni dalam menangani persoalan-persoalan non-teknis.

Eforia bergema di San Siro. Pesta pora kota akan segera digelar untuk menyambut trofi Liga Champions yang hilang hampir setengah abad yang silam. Tak ada Mou di sana. .San Siro., katanya, .kini hanyalah rumahku, selain di Stamford Bridge.. Artinya bisa saja begini, buat apa Mou harus buru-buru kembali ke San Siro. Karena di sini, di Santiago Bernabeu yang senyap, adalah rumah barunya. Meskipun pesta telah berakhir. Tak lagi ada mercon kertas yang membahana biru di langit kota Madrid. Mou pasti mulai menganalisis semuanya demi membentuk Raja Eropa yang baru tahun depan. Di sini, di stadion Santiago Bernabeu.

* Oscar Motuloh, kurator GFJA dan penikmat sepakbola

Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use