Belantara Piala Dunia 2010

Diktator Lapangan Hijau

Selesai sudah perjuangan Prancis di pentas Piala Dunia 2010. Kekalahan 1-2 dari tuan rumah Afrika Selatan pada laga pamungkas grup A menenggelamkan .Les Blues. ke dasar klasemen dan harus pulang kampung lebih awal dengan kepala tertunduk. Ini merupakan prestasi terburuk tim ayam jantan di pentas Piala Dunia sejak menjadi kampiun tahun 1998

Sosok yang tentunya menjadi sorotan adalah pelatih Raymond Domenech. Pelatih berusia 58 tahun itu selalu menjadi bahan perbincangan di kolom surat kabar karena keputusan-keputusan kontorversialnya. Sikapnya juga nyeleneh, termasuk minatnya pada ramalan bintang.

"Saya memilih pemain dengan mempertimbangkan semua hal dan saya memasukkan astrologi sebagai salah satu parameter," kata Domenech lugas, saat baru ditunjuk sebagai pelatih Prancis pada 2004 menggantikan Jacques Santini. Prinsip itu masih dipegangnya sampai sekarang. Paling tidak, Domenech belum pernah mengungkapkan kalimat yang menganulir prinsipnya itu.

Domenech, kelahiran 24 Februari 1952, berzodiak Aquarius. Dia tak menyukai pemain-pemain berzodiak Scorpio. Robert Pires, gelandang serang yang moncer bersama Villarreal, tidak dia panggil karena berzodiak Scorpio. Dia lebih memilih Vikash Dhorasso yang hanya berstatus pemain cadangan di AC Milan untuk mengisi posisi sayap. "Pemain berzodiak Scorpio akan saling bunuh di antara mereka sendiri", ucapnya memberi alasan.

Dari satu sisi, Domenech tak menyukai sifat temperamental Leo. Tapi mantan pelatih Lyon itu butuh orang-orang Leo yang akan membuat Prancis lebih beringas terutama di lini depan. Kehadiran Thierry Henry yang lahir 17 Agustus 1977 (Leo) melegakan sang pelatih, meskipun Domenech kerap ketar-ketir melihat temperamen Gallas, yang bertanggal lahir sama persis dengan Henry. Katanya, "orang Leo sering tak bisa menahan emosi." Cancer adalah zodiak favorit Domenech, sama dengan zodiak Zinedine Zidane.

Empat tahun kemudian, tepatnya Piala Dunia 2006, Pelatih yang masih keturunan ekspatriat Catalan itu membuat sensasi lagi. Ludovic Giuly harus gigit jari, posisinya digantikan Franck Ribery yang kala itu belum 'ada apa-apanya' dibanding Giuly yang sedang dalam performa terbaiknya. Rakyat Perancis semakin geleng-geleng kepala saat Domenech memberi kepercayaan kepada si plontos Fabien Barthez sebagai penjaga gawang ketimbang Grégory Coupet. Ditilik dari prestasi, Coupet jelas lebih unggul tatkala membawa Lyon juara liga tiga kali berturut-turut. Dua tahun berselang, di pentas Piala Eropa 2008, Domenech lagi-lagi bikin orang bingung. Pelatih yang jarang mengumbar senyum itu mengangkut 10 pemain yang bukan berasal dari klub papan atas. Hasilnya, Les Bleus terkapar.

Kontroversi mantan pelatih U-21 Perancis itu berlanjut ke Afrika Selatan. Bermula saat permainan buruk mengadapi Meksiko dalam penyisihan grup. Prancis dibuat tak berkutik dan mati kutu setelah dibobol dua kali oleh Hernandez dan Blanco. Penyerang Nicolas Anelka melemparkan kritik pedas dan ucapan kasar kepada Domenech usai laga itu. Penyerang Chelsea itu menolak minta maaf sehingga menerima pendepakannya dari timnas sebagai konsekuensi.

Pemulangan Anelka oleh Domenech itu langsung disambut aksi mogok latihan pemain Prancis. Para pemain berpendapat keputusan mengusir Anelka sama sekali tidak masuk akal karena hanya berdasarkan pada fakta yang dilaporkan media massa tanpa berkonsultasi dengan para pemain. Bahkan kapten tim Patrice Evra sampai berteriak-teriak saat berlatih fisik bersama Robert Duvurne. Evra berspekulasi bahwa Duverne sebagai pengkhianat yang membocorkan perselisihan di kamar ganti itu.

Akibat reaksinya itu, Domenech memutuskan untuk tidak memasukkan Evra dalam starting eleven Prancis untuk menghadapi Afrika Selatan. Thierry Henry yang disebut-sebut sebagai pemain yang pro-Anelka juga tidak masuk dalam susunan tim. Demikian juga Jeremy Toulalan yang hampir selalu bermain di dua laga awal Prancis.

Sebagai pengganti Anelka, Domenech memilih Djibril Cisse mengisi pemain depan. Sementara Sebastien Squillaci menempati pos Eric Abidal sebagai pendamping William Gallas. Sementara Gael Clichy menempati posisi yang ditinggalkan Evra.

Seusai laga yang dimenangkan tuan rumah itu, Domenech tetap hadir pada jumpa pers. Saat jurnalis lebih menyoroti kondisi internal tim Prancis dibanding hasil pertandingan di Blomfontein, dia berkata, "Saya tak berencana untuk menjawab pertanyaan itu, apa ada pertanyaan lain?"

Pernyataan tersebut kembali diungkapkannya ketika ditanya mengapa menolak untuk menjawab pertanyaan tersebut. "Jika memang tidak ada pertanyaan lain, saya akan meninggalkan Anda. Kita tidak berada di dunia yang sama," tandasnya.

Domenech memang keras kepala. Tapi itulah dia yang sesungguhnya. Yang jelas pendukung Les Bleus sudah terlanjur kecewa.

prasetyo utomo

Pewarta Foto Antara dan penikmat sepakbola

(Foto: Antara/Reuters/Siphiwe Sibeko)



Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use