Belantara Piala Dunia 2010

This Time is (not) for Africa

Usai sudah petualangan tuan rumah berjuang menuju babak 16 besar Piala Dunia 2010. Bafana-bafana akhirnya kandas di babak penyisihan meskipun anak-anak Madiba itu dengan perkasa menumbangkan juara 1998 dan finalis Piala Dunia 2006 dengan skor 2-1 di Free State Stadium, Selasa malam. Afsel harus ikhlas menyerahkan satu tiket ke babak berikutnya kepada Meksiko yang meskipun ditekuk Uruguay 0-1 masih memiliki nilai yang sama dengan Afsel, namun mempunyai selisih gol yang lebih baik.

Janji pelatih Afsel Carlos Alberto Perreira mempersembahkan satu kemenangan akhirnya tercapai. Meskipun Bafana-bafana telah bertarung dengan gagah berani namun garis tangan menghentikan langkah mereka. Juga memupuskan harapan Nelson Mandela dan Presiden Zuma yang menginginkan Bafana-bafana dapat meluncur ke final dan memenangi Piala Dunia yang mumpung tengah berlangsung di tanah air mereka.

Di Grup B, benua Afrika kembali kehilangan satu wakilnya karena Nigeria yang punya sedikit sekali harapan, hanya mampu menahan Korea Selatan dengan skor 2-2 di Durban Stadium, Rabu dinihari. Hasil ini menjadikan Park Ji-sung dan kawan-kawan menjadi wakil Asia pertama yang meluncur ke babak 16 besar, karena dalam pertarungan lain Argentina dengan sejumlah pemain cadangan memulangkan Yunani dari Afsel setelah menggasak mereka 2-0, di Soccer City Stadium, lewat gol duo Martin: bek Bayern Munich Miartin Demichelis dan striker veteran Martin Palermo.

Kepergian juara Eropa 2004 Yunani kiranya tak perlu diratapi karena mereka adalah tim yang paling membosankan untuk ditonton. Bersama mereka, yang tak kalah jelkeknya adalah Perancis yang juga merupakan kesebelasan elite dunia namun harus angkat koper lebih awal karena tuahnya sendiri. Perancis sejak kick-off perdana sudah terhukum untuk memainkan sepakbola superior untuk membuktikan bahwa memang mereka yang lebih pantas untuk ada di Afsel ketimbang Irlandia yang meradang karena Les Bleus lolos akibat gol "Tangan Tuhan Jilid Dua".

Kehadiran Perancis yang penuh dengan selebitis sepakbola bernama besar memainkan sepakbola tanpa motivasi. Mereka sesungguhnya tak cukup kualitasnya untuk hadir pada arena seakbar Piala Dunia ini. Mereka hanya berlarian, membiarkan Frank Ribery bermain sendirian. Beruntung Florent Malouda mampu mencuri satu gol ke gawang Afsel di Free State Stadium yang dipenuhi 39.415 penonton. Pasukan badut sirkus berseragam biru itu masih dapat pulang dengan kado satu gol, dua kali kalah dan sekali draw. Bandingkan dengan Piala Dunia Korea-Jepang 2002 dimana mereka tersisih tanpa mencetak satu gol pun.

Yang membuat Perancis kali ini mendapat status sebagai Les Bleus yang lebih buruk dari tim Ayam Jantan 2002 adalah pada tingkah laku tak profesional para punggawanya. Karena merasa selebriti, mereka memang lebih manja dan gampang sekali ngambek. Tak ada jiwa ksatria yang siap tanding dengan perkasa kapanpun, di manapun. Sebelum mogok latihan menjelang laga penentuan kemarin, mereka juga pernah memboikot kehadiran Menteri Olahraga Perancis di hotel mereka, gara-gara sang menteri pernah menyindir pola hidup mewah mereka sejak hadir di Afsel.

Babak selanjutnya pasti akan makin panas karena Meksiko tak dapat mengusir nasib. Akibat kekalahannya atas Uruguay, maka ganjaran bagi Meksiko adalah menghadapi apa yang sangat mereka kuatirkan: Argentina. Tim asuhan legenda hidup Diego Maradona tersebut berhasil memuncaki grup B dengan sempurna (9 poin). Sementara Uruguay (juara Grup A) akan menerima tantangan pejuang-pejuang Taeguk yang sama sekali tak bisa dipandang remeh.

Malam ini dan dinihari nanti akan ada laga penghakiman di Grup C dan D. Akankah Inggris dapat bangkit saat tubuhnya penuh konflik internal seperti yang juga dialami Perancis? Di grup ini AS dan Aljazair juga masih berpeluang di atas kertas. Slovenia lebih nyaman karena hanya memerlukan hasil seri untuk hadir di babak selanjutnya. Sementara di grup D, tiket panas merata di semua peserta. Jerman harus melibas Ghana jika mereka masih ingin berbicara di babak 16 besar. Dan Serbia juga harus mengamankan tempat dalam laga versus tim Kanguru.

Tiga wakil Afrika tersisa, Ghana, Aljazair dan Pantai Gading, tetap diharapkan mampu meluncur ke babak selanjutnya. Ghana sedikit lebih baik posisinya ketimbang Aljazair yang sempat ditekuk Slovenia. Begitu juga Pantai Gading yang belum lama dibekap Brasil. Jika mereka juga gugur, maka Piala Dunia di tanah Afrika ini akan kehilangan rohnya. Dan bait demi bait lagu "Waka-Waka" yang disenandungkan biduanita jelita Shakira kiranya tak berubah menjadi anti-klimaks yang tragis.

Tsamina mina zangalewa
Anawa a. a
Tsamina mina e e
Waka Waka e e
THIS TIME IS (NOT) FOR AFRICA
"

oscar motuloh
kurator Galeri Foto Jurnalistik Antara

(Foto: Antara/AFP/Jewel Samad)

Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use