Belantara Piala Dunia 2010

Blues Untuk Skuad Azzurri

Lenyap sudah finalis Piala Dunia 2006 Jerman dari tanah Afrika. Skuad Azzurri harus angkat koper lebih awal menyusul ketakmampuan mereka mengatasi semangat juang yang luarbiasa dari kawula muda Slowakia yang baru kali ini ikut perhelatan sepakbola paling akbar sejagad raya. Ellis Park, Johannesburg, Kamis malam bersama 53.412 penonton dan milyaran penonton siaran langsung di seantero bumi menjadi saksi tumbangnya skuad Azzurri yang biasanya selalu lolos dari lubang jarum. Kiprah sang juara bertahan ternyata cukup hanya sampai di sini.

Marek Hamsik dan kawan kawan sukses menggasak Italia 3-1 karena seluruh awak Slowakia bermain dengan jiwa benderang yang menyala-nyala. Dengan determinasi tinggi, semangat dan kepaduan tim yang luarbiasa tentulah bertuah positif. Posisi underdog juga sangat menguntungkan Slowakia. Untungnya skuad Azzuri yang mereka hadapi petang itu adalah juara bertahan yang renta, puritan dan luarbiasa lamban. Lihat saja capitano Cannavaro. Dia memang pemain terbaik Piala Dunia 2006, namun argo usianya yang jalan terus membuatnya tak secepat dulu lagi. Mestinya atlet sebesar Fabio layaknya memimpin skuad Azzuri generasi baru. Kira-kira seperti yang dilakukan Jerman.

Kendati menggunakan pola agresif 4-3-3 dengan Simone Pepe, Antonio Di Natale, dan Vincenzo Iaquinta di depan untuk memforsir kemenangan, namun tak bisa dipungkiri, Lippi tak mampu memotivasi para pemainnya untuk bertempur sebagai pejuang yang mestinya bertarung bak gladiator di Coloseum Roma. Tak ada yang berubah dari tiga laga yang dimainkan Italia. Sementara tekad anak-anak Slowakia sudah terlihat saat mereka dengan penuh cinta menyanyikan lagu kebangsaan mereka sebelum kick-off. Tak ada Plan B buat Slowakia, meskipun mereka hanya menduduki peringkat 34 versi FIFA . Mereka hanya berpikir untuk menang. Titik.

Memasukkan Gennaro Gattuso untuk pertama kalinya juga tak mampu membongkar lini tengah Slowakia yang pegas. Di babak kedua, Lippi menumpuk figur agresif dengan memainkan Fabio Quagliarella untuk menggantikan Gattuso. Sayangnya, Slowakia sudah keburu menemukan kepercayaan diri mereka. Gelandang Marek Hamsik yang sehari-harinya merumput di Napoli bermain luar biasa dan memimpin rekan-rekannya di sektor lapangan tengah. Begitu juga dengan lini belakang yang dikomandani bek Liverpool Martin Skrtel. Belakangan, gelandang spesialis tembakan bebas, Andrea Pirlo, dimasukkan. Namun sudah terlambat.

Tiga gol yang bersarang di jala Federico Marchetti (27) seluruhnya juga terjadi karena pengalamannya yang minim secara cap nasional. Dia kerap kehilangan posisi yang membuatnya gagal menghentikan laju Jabulani mengoyak jalanya. Tak mudah mengisi ketiadaan kiper Gianluigi Buffon yang cedera. Tak cukup hanya mengandalkan "mirip" Buffon saja. Marchetti kebetulan berpenampilan seperti Buffon muda yang tangguh. Buffon asli hanya dapat memberi semangat dari bench Italia dimana Lippi yang biasanya berpembawaan tenang itu kelihatan sangat tegang. Kali ini ada raut putus asa di wajahnya.

Inilah kejutan terbesar sejak Piala Dunia kali ini berlangsung. Italia menyusul Les Bleus yang sudah duluan tamat dan jadi ayam sayur. Peristiwa gugurnya dua finalis Piala Dunia Jerman, yakni Italia dan Perancis, di babak penyisihan adalah yang pertama terjadi sepanjang sejarah Piala Dunia. Sudah tiga kesebelasan besar dengan seragam dasar biru yang pamit di babak awal ini. Mereka gagal menampilkan performa puncak. Yang terburuk performanya di Afrika Selatan ini adalah Perancis (peringkat 9 FIFA), menyusul Yunani (13) dan terakhir tim Italia (5).

Begitu wasit Howard Webb dari Inggris menghembuskan peluit tanda berakhirnya laga penentuan di babak penyisihan tersebut, maka Quagliarella langsung terduduk menangis sejadi-jadinya, sebelum ditenangkan Cannavaro yang bikin blunder pada gol ketiga Slowakia. Marcello Lippi tampak sangat terpukul dan memilih langsung ke ruang ganti meninggalkan pelatih Slowakia Vladimir Weiss sebelum dia menghampiri dirinya untuk menyampaikan selamat yang pasti akan lebih menyakitkan dirinya.

Itallia pasti sedih. Sama seperti Perancis yang punya PR untuk merombak tim nasional mereka. Lippi pasti akan memilih mundur. Domenech sebentar lagi akan diganti dengan Laurent Blanc, pahlawan Piala Dunia Perancis 1998. Dia sadar betul karena FFF telah menetapkan Blanck sebagai penggantinya setelah Perancis memastikan lolos dari babak play-off yang dikenal juga dengan tragedi "Tangan Tuhan Jilid Dua". Sementara sang dewa Ares, Otto Rehhagel, sudah mengundurkan diri begitu Yunani tersisih di babak penyisihan. Kalah menang, soal biasa dalam olahraga, termasuk yang begitu menyakitkan seperti yang mereka alami.

Sekarang tinggal satu biru yang tersisa. Mereka adalah ninja-ninja yang dikenal sebagai Samurai Biru, yang dengan perkasa menjinakkan dinamit Denmark. Juga dengan angka 3-1 di stadion Royal Bafokeng, Rustenburg. Dalam posisi yang tak diunggulkan, Jepang dengan seragam kebesaran berwarna biru ternyata mampu menyihir penonton dengan gaya total-footbal yang justru telah ditinggalkan Bert Marwijk dan anak-anak Oranye van Nassau. Mereka membuat rasa bangga seluruh penduduk Asia. Bayangkan, dua wakil Asia telah memastikan hadir di babak 16 besar dunia dengan permainan menyerang yang sedap dipandang.

Sampai laga terakhir, baru Korsel dan Jepang yang mampu mengoyak gawang lawan dengan tembakan bebas langsung. Penyerang Korsel Park Chu Young yang pertama melakukannya saat tampil melawan Nigeria. Dan yang lebih dahsyat, Jepang membuat dua gol dari dua kesempatan awal tembakan bebas ke gawang Denmark yang dijaga kiper kawakan Thomas Sorensen pada Jumat dinihari itu.

Bintang Jepang Keisuke Honda mengambil tembakan bebas sekitar 30 meter dari garis gawang Sorensen pada menit ke 17. Seperti biasa, bek-bek jangkung Denmark membuat pagar penghalang. Honda dengan tenang mengeksekusi Jabulani, melambungkannya ke tiang jauh. Sorensen sempat bergerak ke kiri dan mencoba menjangkau bola yang dengan cepat menusuk kanan atas jala gawangnya. Kiper Stoke City itu hanya termangu takjub melihat Jabulani bisa menerobos gawangnya.

Tak sampai 15 menit kemudian Jepang kembali mendapatkan tembakan bebas karena pelanggaran sedikit di luar kotak penalti. Tiga penyerang Jepang menghadapi bola. Kali ini bek dan kiper Denmark lebih konsentrasi berjaga. Gelandang Yasuhito Endo mengambil tendangan dengan kaki kiri, Jabulani melintas sedikit di atas pagar bek Denmark, lalu seperti meluncur ke luar gawang. Mendadak bola melengkung tipis menuju sasarannya yang lagi-lagi mampu melampaui jari-jari Sorensen yang tak kuasa menahan laju sang Jabulani. Skor 2-0 pada menit 30.

Setelah itu Jepang menguasai permainan. Pemain-pemain Denmark, termasuk penyerang veteran Jan Dahl Tomasson dan striker muda Niklas Bentner, seperti telah runtuh mentalnya. Di bench Denmark, pelatih Morten Olsen masih termangu dengan apa yang terjadi. Dia tertegun seperti pejuang Viking yang kalah perang. Setiap pergerakan bek kiri Yuto Nagatomo dan Honda di kanan selalu membuat pertahanan Denmark kocar kacir.

Sang Kala akhirnya membiarkan Jepang meluncur ke babak 16 besar dengan dominan. Mereka akan berhadapan dengan juara Grup F, Paraguay, di perdelapan final 29 Juni di stadion Loftus Versfeld di kota Pretoria yang sangat bersejarah bagi perjuangan anti Apartheid pada dekede 1990-an itu. Masyarakat Asia kali ini pasti juga berharap kiprah para pejuang Taeguek dan ninja-ninja Samurai Biru bisa terus berhembus dengan elegan dan indah seperti simfoni bambu yang berdesir di hutan bambu kota tua Kyoto.

Menang dengan indah? Kenapa tidak. Jepang dan Korsel mampu melakukannya.

oscar motuloh
kurator Galeri Foto Jurnalistik Antara

(Foto: Antara/Reuters/Kim Kyung-Hoon)

Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use