Belantara Piala Dunia 2010

Ejakulasi Dini Delapan Besar

Di Green Point Stadium, Cape Town, Kamis dinihari, striker baru Barcelona, David Villa berhasil menceploskan Jabulani ke jala Eduardo, duapuluh tiga menit setelah babak kedua dimulai. Dan itu cukup untuk menghentikan laju kapal layar tiga tiang Portugal menuju pelabuhan final di Soccer City Stadium. Berakhir pula pertempuran dua tetangga di semenanjung Iberia yang menjadi simbol petualangan samudra abad pertengahan, demi satu tiket ke perempat final. Nasib menentukan kapitan Cristiano Ronaldo dan rekan harus berkemas mengikuti raja samudra lainnya, Inggris, yang telah angkat sauh terlebih dahulu meninggalkan Tanjung Pengharapan.

Satu setengah jam sebelumnya, di Loftus Versfeld Stadium, Pretoria, Samurai Biru bertarung dengan gagah berani melawan juara grup B Paraguay. Seluruh kekuatan dan strategi dikerahkan guna menaklukkan wakil Amerika Selatan yang sesungguhnya bukanlah tim istimewa. Namun seperti juga Jepang, mereka sangat berambisi untuk memenangkan perang dan mencatatkan kesebelasan mereka dalam sejarah negeri masing-masing negeri sebagai tim pertama yang melaju hingga babak 8 besar.

Dalam pertempuran yang memerlukan perpanjangan waktu, kedudukan tak juga berubah sehingga adu penalti yang pertama dilaksanakan dalam Piala Dunia Afrika Selatan ini harus menjadi penentu yang mendebarkan sekaligus menyakitkan rakyat Asia dan masyarakat Amerika Selatan. Pertempuran demi selembar tiket yang juga gagal direbut kapitan Cristiano Ronaldo dalam laga seru setelahnya. Kepergian Ronaldo melengkapi belasan bintang kejora sepakbola yang gagal berpendar.

Kapten Jepang Makoto Hasebe, bek cemerlang Marcus Tulio Tanaka dan Yuji Nakazawa memeluk Yuichi Komano yang tiba-tiba, seolah-olah, menjadi pecundang di seluruh Jepang dan Asia tentunya, gara-gara sepakannya hanya menyentuh mistar atas gawang Villar. Airmata Kamano yang bermain luarbiasa di sayap kanan sepanjang laga harus menjadi aliran yang menentukan ujung perjalanan ninja-ninja yang bagaimanapun tetaplah kesebelasan yang sangat membanggakan masyarakat Asia. Mereka ternyata adalah ksatria si kulit bundar yang sangat menakutkan Paraguay. Jika harus jujur, Jepang masih lebih keren ketimbang Paraguay.

Kiper Jepang Eiji Kawashima hanya bisa tertegun lesu, sejumlah penyelamatan yang dia lakukan sepanjang laga seperti sia-sia. Apalagi dua tembakan algojo Paraguay dapat dia tebak arahnya, sayang bola melintas sedikit dari ujung jari-jarinya. Kesedihan Komano juga tentu dirasakan kapitan Ronaldo dan rekan-rekannya, terutama kiper Eduardo, yang hingga gol Villa terjadi adalah gawang yang perawan dari kebobolan. Tak satupun anggota grup F, termasuk Brazil yang mampu menceploskan Jabulani ke jala Eduardo. Portugal yang dalam penyisihan bermain menawan dengan tingkat agresivitas yang paling tinggi dari 32 peserta Piala Dunia, toh harus menerima takdirnya.

Seperti juga sejarah kedua negeri, Spanyol ternyata masih tak tergoyahkan pamornya sebagai penguasa semenanjung Iberia. Kapal layar tiang tinggi mereka masih sandar di tempatnya. Sepakbola memang pentas karakter peradaban yang ekspresif dan manusiawi adanya. Dengan segala simpati kepada masyarakat pendukung Jepang dan Portugal, dua negeri yang kebetulan punya kaitan sejarah pendudukan di Indonesia. Pertunjukan harus tetap berlangsung, "the show must go on" kata orang-orang londo. Karena salah satu karakter sepakbola lainnya adalah kemampuan mengatasi duka agar kehidupan dapat dilalui dengan lebih saksama.

Tak boleh ada belasungkawa yang berkelanjutan., sebab di sisi lain dari karakter sepakbola lainnya lagi adalah kegembiraan. Dan untuk itu sepakbola hadir demi kemanusiaan. Gugurnya dua kesebelasan alternatif di samping nama-nama besar yang masih eksis tapi tampil mengecewakan hendaknya tak melarutkan kita dalam duka.

Dengan bubarnya penonton langsung di Loftus Versfeld dan di Green Point, serta milyaran penonton di seantero bumi, maka selesai sudah tahap pertarungan 16 besar yang dramatis. Di hadapan kita terbentang jadwal delapan pemenang yang harus saling bunuh di babak perdelapan final. Pertemuan yang pasti tak seperti diharapkan FIFA, karena begitu banyak kejutan sehingga pot-pot unggulan tak seperti yang diprediksi sebelumnya. Perancis, Inggris, Italia, Yunani mental sebelum puncak performa ditemukan. Peta pertempuran menjadi jadwal yang prematur sifatnya.

Mari kita simak bagaimana pada babak ini para petarung sudah harus saling bunuh. Brazil sua Belanda, Argentina ketemu Jerman, sementara Spanyol yang tertatih di penyisihan namun menemukan form justru saat berhadapan dengan Portugal, cuma berpapasan dengan Paraguay. Tim yang di atas kertas bakal jadi korban, karena banteng akan dihabisi sang matador. Sementara Uruguay yang sama sekali tak nikmat untuk ditonton itu akan menantang satu-satunya wakil Afrika Ghana yang permainannya lumayan memikat kendati terkesan textbook.

Inilah perdelapan final Piala Dunia yang awalnya menggebu dengan drama dan gaya, namun mengalami pertemuan prematur, anti-klimaks alias ejakulasi dini pada jadwal perempat final. Lupakan partai final Jerman vs Argentina, Brazil kontra Belanda. Namun mengikuti jargon bola itu bulat, maka final ulangan Argentina versus Belanda bisa terjadi, atau partai Jerman lawan Brazil, bisa saja Brazil jumpa Spanyol. Tetap terbuka Ghana vs Spanyol. Final sesama benua tentulah kurang seru dinikmati. Yang penting amit-amit jabang bayi, jangan sampai tipikal tim macam Uruguay atau Paraguay yang justru yang melaju hingga ke partai pamuncak di Soccer City, tanggal 12 Juli nanti. Semoga.

oscar motuloh
kurator Galeri Foto Jurnalistik Antara

(Foto: Antara/Reuters/Marcelo Del Pozo)

Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use