Belantara Piala Dunia 2010

Selamat Datang Juara Baru

Gol kedua yang cantik berasal dari tendangan bebas gelandang Maxi Pereira. Jabulani meluncur deras melewati pagar pemain Belanda sebelum menembus jala Marten Stekelenburg yang sia-sia terbang mencoba mentip bola. Sayang, gol tersebut terjadi pada menit ke-90. Meskipun kemudian anak-anak Uruguay berhasil menciptakan neraka di lini belakang Belanda dengan mengurung total dan memborbardir habis pasukan Oranye, mereka akhirnya tak sanggup menaklukkan tiga menit masa injury-time. Tak ada cerita kejutan dari para pejuang Republica Oriental del Uruguay. Diego Forlan belum bisa menjadi Sang David yang berjaya di lembah Elah, dinihari tadi di Green Point stadium, Cape Town.

Disaksikan 62.479 penonton yang umumnya mendukung kesebelasan Belanda serta milyaran penggemar sepakbola di seantero jagad, Sang Goliath bermain dengan indah pada 20 menit pertama. Dengan aliran bola dari kaki ke kaki, pergerakan antar lini yang apik, sampai bek kiri sekaligus kapten Giovani. Van Bronckhorst melepaskan tendangan geledek dari jarak 30 meter dan melesak jala kiper tangguh Uruguay, Fernando Muslera yang terlambat mengantisipasi. Setelah itu, Uruguay seperti mendapat angin karena Belanda terlihat menurunkan tempo. Kapten Diego Forlan akhirnya berhasil menyamakan kedudukan empat menit sebelum berakhirnya babak pertama juga dari tembakan jarak jauh yang gagal di tip Stekelenburg yang dinihari tadi bermain di bawah form..

Mengenakan syaal berwarna hitam, pelatih Bert Van Marwijk tampak tegang di bench. Asistennya Ronald de Boer dan Philip Cocu mengamati lapangan dengan dahi berkenyit. Bench Belanda memang kuatir kena kutukan masa lalu. Apalagi saat 3 menit terakhir pada masa unjury-time, ketika Belanda digempur habis-habisan. Karenanya semuanya terlihat begitu girang ketika Ravshan Irmatov benar-benar meniupkan peluit tanda laga semifinal pertama itu berakhir. Kubu Oranye dan putra mahkota Belanda Pangeran Wellem yang hadir di tribun kehormatan melambai gembira tak henti. Marwijk memeluk erat sayap lincah Arjen Robben. Semua bersuka cita. Mereka akhirnya mencatatkan prestasi terbaik sejak final yang gagal pada 1974 dan 1978.

Dengan itu, Belanda akhirnya membuka asa untuk menuntaskan ambisi yang tak lagi pernah kesampaian selama ini. Bahkan saat Johann Cruijff, Johan Neeskens, Johny Rep, Ruud Kroll, Kerkhoff bersaudara, Rob Rensenbrink, Marco Van Basten, Frank Rijkaard dan Ruud Gullit tengah berjaya pada jamannya. Dari dua nama pelatih besar Belanda, Rinus Michels dan Ernst Happl, maka Bert Van Marwijk berkesempatan menorehkan sejarah melebihi dua pelatih yang telah berpulang lebih dahulu itu, jika dia sanggup meraihkan trofi kepada rakyat Belanda.

Masyarakat sepakbola global berharap Piala Dunia kali ini - mumpung di Afrika - direbut oleh kontestan yang sama sekali belum pernah menjuarai turnamen paling bergengsi di seantero jagad ini. Apalagi para juara dunia itu umumnya nota-bene telah pulang duluan, sebut saja, Italia, Perancis, Inggris, dan terakhir rombongan favorit macam Argentina, Brazil dan Uruguay. Untuk itu, orang-orang barangkali dapat berharap final impian idealnya adalah Belanda versus Spanyol. Lupakan laga final adalah Eropa versus Amerika Latin. Sebab, jika Spanyol yang berhasil lolos ke final maka dia sekaligus merupakan Ibu pertiwi negara Latin di Amerika Selatan.

Namun jangan buru-buru berharap final impian Eropa totok versus Eropa Latin itu yang bakal terjadi. Jerman, satu-satunya mantan juara yang tersisa, juga sangat siap untuk menantang Belanda di final. Melihat kemampuan Jerman belakangan ini malah kecenderungan pecinta sepakbola memfavoritkan Jerman ketimbang Spanyol untuk meluncur ke Soccer City Stadium di Johannesburg, untuk menikmati malam final yang menegangkan dan pasti akan berlangsung dalam tensi dan tempo tinggi.

Tim panzer muda itu benar-benar telah siap tarung dinihari nanti. Sebelum benar-benar menantang Belanda dalam ulangan final 1974, Jerman harus melunaskan dulu kesumat mereka dengan tim matador yang menaklukkan mereka pada Piala Eropa 2008, di partai semifinal kedua di Stadion Moses Mabhida, Durban dinihari nanti. Kita berharap atlet-techno macam Manuel Neuer, Mesut Oezil, Sami Kheidira, Jerome Boateng, Philip Lahm, Arne Friedrich, Lukas Podolski, Miroslav Klose dan tentu sang dirigen Bastian Schweinsteiger tetap gemerlap agar penghujung laga Piala Dunia tetap meninggalkan partai klasik sepanjang masa.

Spanyol sendiri, yang tak pernah mencatatkan sejarah dalam perhelatan global macam Piala Dunia ini, tentunya sangat berharap strategi agresif tim matador ini mampu melumpuhkan skuad panzer yang penuh vitalitas, text-book sekaligus bisa menjadi solois macam saxofonis Branford Marsalis atau gitaris Pat Metheny. Del Bosque adalah pencinta keindahan, itu telah dibuktikannya saat membawa Real Madrid ke podium kancah Champions. Dalam kesebelasan yang basicnya adalah kepaduan dalam teknis tinggi itu Spanyol dituntut tak hanya pandai mendominasi penguasaan bola namun juga kecerdikan kancil-kancil mereka yang bernama Andres Iniesta, Xabi Alonso Cesc Fabregas dan Xavi Hernandes.

Dengan ketangguhan barisan belakang yang digalang Carles Puyol, Gerard Pique, Joan Capdevilla serta Sergio Ramos, maka kapten Iker Casillas benar-benar memperoleh tembok yang luarbiasa kokoh sebelum musuh mencapai dirinya. Di depan, tentu David Villa tetap menjadi sasaran prioritas. Del Bosque tampaknya tetap memberi kesempatan pada Fernando Torres yang masih melempem.

Pertarungan antara kedua squad yang mewakili dua kutub penting dalam perjalanan sepakbola Eropa dinihari nanti, pastilah penuh darah dan airmata. Penonton yang telah melihat lima gol dalam semifinal pertama di Cape Town tentu begitu terhibur dan kembali yakin bahwa tak semata-mata taktik yang harus mengorbankan permainan indah. Sindrom Mourinho yang menyodorkan konsep sepakbola pramgmatis mestinya tak perlu diadopsi oleh pelatih-pelatih kesebelasan elit di Piala Dunia. Meskipun hanya sekali, kiranya laga Spanyol versus Jerman dapat menyajikan permainan indah demi peradaban dan harapan kita pada perdamaian di seantero bumi. Siapapun pemenangnya.

oscar motuloh

kurator Galeri Foto Jurnalistik Antara

(Foto: Antara/Reuters/Brian Snyder)

Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use