Liverpool FC

Hodgson, Belajarlah dari Shankly

Musim ini mungkin merupakan fase terburuk yang dialami Liverpool FC (LFC). Betapa tidak, dari tujuh laga yang sudah dilakoninya The Reds hanya sanggup memetik enam poin. Kalah dari Manchester City dan Manchester United mungkin tak begitu mengejutkan, tapi ditekuk tim promosi Blackpool benar-benar mengherankan. Kemenangan mereka baru sebiji, itu pun diperoleh dari klub debutan West Bromwich Albion dengan gol semata wayang. Sisanya bedu alias seri. Apa mau dikata, The Reds pun terlempar ke posisi 18 di zona degradasi yang selama ini dianggap mustahil buat tim-tim berjulukan The Big Four.

"Inilah awal musim yang sangat buruk, sebuah start yang tak pernah bisa kami bayangkan," kata sang manajer, Roy Hodgson. "Ini membuat kami sangat tidak senang tapi kami harus menerimanya bagaimana pun pahitnya."

Alih-alih ingin mendongkrak kinerja Steven Gerrard cs, pelatih gaek yang pernah menangani klub Inter Milan dan Fulham itu justru membuat Si Merah kehilangan ruhnya. Selama tujuh pekan, tak ada match yang betul-betul enak buat ditonton. Tak ada pertunjukan khas Liverpool yang biasa mengeksplorasi kekuatan lini tengah dengan pola 4-2-3-1. Kepergian sang dirijen Xabi Alonso dan si monster Javier Mascherano meninggalkan titik lemah yang belum pulih hingga kini.

Memang, sang manajer lebih menyukai taktik "to kill and end the game". Dengan formasi 4-4-2, dia ingin selekas mungkin melesakkan gol ke gawang lawan dan memenangkan pertandingan. Namun pola ini sangat berisiko di sektor tengah dan barisan belakang. Hodgson berargumen bahwa metode tersebut berjalan mulus saat dia menangani tim Halmstads, Malmo, Orebro, Xamax, timnas Swiss dan Fulham.

Pertanyaan besarnya adalah mengapa Liverpool yang begitu perkasa di musim-musim lalu, tiba-tiba menjadi tim "salah asuhan". Beberapa alasan coba dilemparkan, baik oleh pemain, eks-pemain, atau para liverpudlian. Mereka menganggap cara melatih Hodgson, yang mengubah pola permainan, tidak cocok buat tim sekelas Liverpool. Dulu para pemain sudah terbiasa enjoy dengan skema yang dibawa Rafael Benitez. Dengan pola 4-2-3-1 Liverpool sanggup mengatasi tim-tim yang paling ofensif sekalipun.

Ada juga yang menyebutkan kalau hasil buruk ini disebabkan ketidakbecusan Tom Hicks dan George Gillet dalam mengelola klub yang mereka beli 2006 lalu. Jangankan menggelontorkan duit buat menyegarkan materi pemain atau merehab stadion Anfield, si duo yankee malah menunggak utang 351 juta dolar. Rafa pun akhirnya mundur sebagai pelatih setelah dicap "gagal" memulihkan kedigdayaan The Reds. Sebuah cap yang sebetulnya sulit dilekatkan pada Rafa karena keberhasilannya membawa pulang piala Liga Champions pada 2005.

Hengkangnya beberapa pemain pilar juga ditengarai sebagai awal keterpurukan Liverpool musim ini. Sebut saja kepergian Xabi Alonso yang kini hijrah ke Real Madrid atau Javier Mascherano yang "kebelet" ingin bergabung dengan kompatriotnya di Barcelona, Lionel Messi.

Selepas kepergian beberapa pilar tersebut, Hogdson segera mendatangkan beberapa pemain "jaminan mutu". Maka datanglah Joe Cole, Milan Jovanovic, Christian Poulsen, Raul Meireles, Paul Konchesky, Daniel Wilson, Jonjo Shelvey dan kiper Brad Jones untuk merumput di Anfield. Secara "head-to-head" seharusnya materi pemain The Reds bisa mampu bersaing dengan tiga anggota The Big Four lainnya (Chelsea, Manchester United dan Arsenal).

Sejak Liga Premier digelar tahun 1992, posisi di zona degradasi musim ini adalah yang terburuk yang pernah diduduki Liverpool. Meski belum separuh musim berlalu, namun usaha untuk mengentaskan Si Merah dari "jurang maut" ini bukanlah pekerjaan yang gampang. Lembaga statistik Opta mencatat kalau prestasi yang didapat Liverpool di awal musim ini merupakan yang terburuk dalam 57 tahun. Kejadian terakhir adalah pada musim 1953-1954 dimana klub kota pelabuhan itu menjadi juru kunci divisi utama Liga Inggris. Saat itu mereka cuma mampu memenangi sembilan pertandingan, 10 laga imbang dan 23 kalah. Jumlah poin yang dikumpulkan cuma 28, selisih 39 poin dari jawara saat itu, Wolverhampton Wanderers. Menyusul hasil yang buruk itu, manajemen LFC memutuskan untuk mendatangkan Bill Shankly pada 1959 yang saat itu menangani klub lokal Huddersfield.

Waktu itu situasi LFC sangatlah buruk. Shankly menjumpai stadion Anfield yang kumuh dan tak terurus. Pusat latihannya di Melwood hanya sekelas lapangan bola kampung yang ditumbuhi rumput dan tanaman liar. Keterampilan pemain Liverpool juga biasa-biasa saja. Hanya yang membuatnya semangat adalah orang-orang yang berada di sekelilingnya: Joe Fagan, Reuben Bennett dan staf pelatih Bob Paisley.

Semua keterbatasan itu ternyata tidak membuat Shankly kecil hati. Ia menginstruksikan agar semua pemain berkumpul di Anfield sebelum berangkat latihan ke Melwood yang dulunya merupakan lapangan milik sekolah St. Francois Xaviours (konon Melwood merupakan gabungan dua nama pendeta yang paling terkenal di St. Francois Xaviours, Father Melling dan Father Woodlock). Di Melwood, ia menerapkan jenis latihan lapangan kecil dengan lima pemain di masing-masing tim, sebuah metode yang menggambarkan ciri sepakbola para pekerja tambang "oper dan bergerak cepat".

Hasil tangan dingin Shankly akhirnya mengembalikan LFC ke divisi satu pada tahun 1962. Kesuksesan lainnya adalah merebut trofi Liga inggris pada 1964 saat mempecudangi Everton yang saat itu berstatus juara bertahan. Ini adalah awal dari "The Shankly Years". Di bawah asuhannya, LFC tumbuh menjadi klub tersukses di Inggris Raya. Ia berhasil mempersembahkan banyak kejayaan buat publik Anfield. Beberapa trofi yang dimenangi Liverpool saat itu adalah juara Liga Inggris, (1964), Charity Shield (1964), Piala FA (1965), Piala Liga (1966), Charity Shield (1966), Liga Inggris (1973), Piala UEFA (1973), Piala FA (1974) dan Charity Shield (1974).

Namun pada tahun 1974 secara mengejutkan Shankly mengundurkan diri sebagai manajer Liverpool. Alasannya ia ingin mempunyai lebih banyak waktu bersama keluarga. Kota Liverpool mendadak heboh setelah mendengar kabar itu. Bahkan ada sebuah pabrik mengancam mogok kerja kalau Shankly tidak lagi menjadi manajer Liverpool FC.

Mayoritas penduduk Liverpool adalah kaum buruh. Shankly yang berasal dari kelas pekerja sangat memahami bagaimana para suporter The Reds melihat sepakbola. Mereka memandang sepakbola bukan sekedar tontonan, tapi juga harga diri bahkan "hidup dan mati".

Sosok Shankly begitu penting dalam perjalanan sejarah LFC yang terbentuk tahun 1892. Tanpanya, mungkin klub pelabuhan ini hanyalah sebuah kesebelasan buruh yang keberadaannya terus teronggok di divisi rendah dan nihil prestasi.

Seandainya Shankly masih hidup, mungkin dia akan "cuek" saja soal siapa yang akan menjadi pemilik klub. Dia akan lebih peduli kepada para liverpudlian yang merasa kecewa dengan hasil buruk yang diraih LFC akhir-akhir ini. Dia akan beranggapan bahwa sebuah klub berjaya jika ada sinergi yang baik di antara pemain, manajer dan suporter. Bukan dengan pemilik klub.

Ingatlah bagaimana Shankly menempatkan suporter di tempat yang terhormat. Saat Liverpool menjuarai liga tahun 1973, dia dan para pemain berlari mengitari Anfield melakukan selebrasi. Tiba-tiba seorang suporter melemparkan selembar syal ke arah Shankly. Saat polisi akan menyingkirkan syal tersebut, Shankly justru menghardiknya. "Jangan lakukan itu. Seseorang bisa jadi menaruh seluruh hidupnya di syal tersebut."

Meski William "Bill" Shankly berdarah Skotlandia, tapi dia lebih suka disebut warga Liverpool. "Although I'm a Scot, I'd be proud to be called a Scouser," katanya suatu ketika. Jika di Napoli Diego Maradona dinobatkan sebagai Il Santo, maka Scousers (sebutan orang yang lahir dan besar di Liverpool) membaptis Shankly sebagai orang suci di kota Liverpool.

Penerus Shankly adalah Bob Paisley. Paisley juga merupakan manajer yang sukses. Dia memenangi tiga gelar Piala Champions. Hari-hari pertamanya menukangi Liverpool tidak mudah karena Scousers belum mau menerima kenyataan bahwa Shankly telah pensiun sebagai manajer.

Kondisi yang dialami LFC saat ini sebenarnya tak jauh beda dengan 57 tahun silam. Dulu cuma berkisah soal bagaimana mencari seorang manajer yang bisa mengangkat klub menjadi tim yang terpandang. Sekarang ditambah ruwetnya kasus penjualan klub dan penolakan liverpudlian terhadap duo amrik pemilik klub.

Usaha dan terobosan yang dilakukan Bill Shankly harusnya dapat diambil pelajaran oleh Roy Hodgson dan juga petinggi-petinggi di LFC lainnya. Bagaimana LFC yang awalnya berangkat dari tim semenjana menjelma menjadi kekuatan sepakbola di Eropa.

Hodgson masih punya kesempatan. Tugasnya hanya fokus ke pertandingan berikutnya, derby Merseyside melawan Everton pada 17 Oktober mendatang. Akan ada benang historis yang tersambung saat melawan Everton. Akan ada momentum yang sama, momentum saat LFC dibawah Shankly meraih trofi liga utama saat membenamkan tim biru musuh bebuyutannya itu. Dan momentum buat Hodgson adalah mengembalikan harga diri The Reds saat melawat ke Goodison Park, akhir pekan nanti.

"At a football club, there's a holy trinity - the players, the manager and the supporters. Directors don't come into it. They are only there to sign the cheques."
-- Bill Shankly (1913-1981)


Imung Murtiyoso
Staf antarafoto.com, penikmat sepakbola Inggris

Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use