22 Okt 2014 :: Diperbarui lalu

19/12/2010 7:56 WIB

KILAS BALIK 2009-2010

Sebuah Definisi Foto Jurnalistik

oleh M. Zarqoni Maksum

Apakah foto jurnalistik itu? Buku bertajuk "Kilas Balik 2009-2010" mencoba mendefinisikannya dalam 242 foto pilihan. Buku fotografi setebal 204 halaman yang memuat kumpulan foto terbaik karya 55 pewarta foto Antara dalam dua tahun terakhir itu menjadi definisi visual foto jurnalistik.

Berlebihankah penilaian itu? Tergantung dari sudut mana melihatnya. Yang pasti, buku yang baru saja diluncurkan dan dipamerkan di Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) hingga 17 Januari 2011 itu bisa disebut sebagai upaya untuk menunjukkan eksistensi foto jurnalistik di era multimedia dan di tengah revolusi dunia fotografi yang kini semakin masif.

Mengapa bisa disebut revolusi? Saya kira kita semua sepaham bahwa sekarang ini fotografi bukan lagi sebuah bidang yang hanya digeluti oleh segelintir orang dengan keahlian khusus pula, namun kini hampir semua orang familiar dengan dunia "mat kodak" ini. Bahkan kini, fotografi digital menjadi kebutuhan setiap orang, apalagi ditunjang dengan hadirnya kamera digital yang tertanam pada ponsel dengan teknologi yang tak kalah dengan kamera-kamera biasa.

Fotografi menjadi sebuah dunia yang kian merakyat dan inklusif. Maraknya jejaring sosial di Internet yang semakin mudah diakses dari ponsel turut menunjang hal itu. Sebuah produk foto digital begitu cepat dan mudah disebarluaskan di kalangan khalayak, baik melalui Facebook, Twitter dan lainnya. Persis cara kerja dunia jurnalistik, bahkan terkadang lebih cepat penyebarannya.

Ketika masyarakat makin akrab dengan dunia fotografi digital, dimanakah posisi foto jurnalistik saat ini? Buku fotografi 'Kilas Balik 2010' barangkali bisa memberikan jawabannya. Paling tidak, dengan mencermati foto-foto yang ditampilkan dalam buku ini akan tercermin bagaimana dan seperti apakah foto jurnalistik itu.

Fotografi jurnalistik jelas berbeda dengan bidang fotografi lainnya. Ada beberapa elemen yang harus dipenuhi dalam sebuah foto untuk bisa dikategorikan sebagai foto jurnalistik.

Foto jurnalistik adalah bagian dari dunia jurnalistik yang menggunakan bahasa visual untuk menyampaikan pesan kepada masyarakat luas dan tetap terikat kode etik jurnalistik. Foto jurnalistik bukan sekadar jeprat-jepret semata. Ada etika yang selalu dijunjung tinggi, ada pesan dan berita yang ingin disampaikan, ada batasan batasan yang tidak boleh dilanggar, dan ada momentum yang harus ditampilkan dalam sebuah frame. Hal terpenting dari fotografi jurnalistik adalah nilai-nilai kejujuran yang selalu didasarkan pada fakta obyektif semata.

Para pewartanya harus selalu berada di garis depan. Mereka pun selalu siaga di garis belakang dalam mewartakan sebuah berita kepada masyarakat luas. Pewarta foto juga dituntut sigap dalam menangkap setiap "momentum" dari sebuah peristiwa, membingkainya dengan dalam sebuah gambar yang berbeda dari apa yang dilihat oleh khalayak awam. Pun yang terpenting, mereka harus mengerti dan paham atas peristiwa yang sedang diabadikannya.

Semua permasalahan itu barangkali bisa ditemukan definisi visualnya ketika menelaah lembar demi lembar buku "Kilas Balik 2009-2010". Terekam dengan jelas bagaimana seorang pewarta foto harus berada di garis depan dalam merekam peristiwa yang terjadi. Merekalah orang-orang pertama yang mengabarkan, bahkan dalam situasi yang mungkin bisa membahayakan jiwanya.

Di sisi lain, buku ini juga menjadi catatan sejarah. Di setiap penggalan sejarah selalu ada pembelajaran. "Kilas Balik 2009-2010" mencoba membuka kembali lembar-lembar sejarah yang tersimpan dan terkunci di masa lalu, mencoba merangkai dalam bingkai kekinian sehingga tersingkap makna-makna yang tersirat di balik sebuah peristiwa. Segala peristiwa yang terjadi sepanjang tahun 2009-2010 dielaborasi, dimaknai kembali dan dipaparkan dalam sebuah sajian visual.

Buku ini juga dapat dianggap sebagai sebuah pertanggungjawaban atas kesaksian para pewarta foto Antara yang selalu menjunjung tinggi nilai-nilai kebenaran universal yang diwujudkan dalam imaji digitalnya.

Pada akhirnya, jika kita sepakat untuk menjadikan buku ini sebagai sebuah definisi, dialog dan pengayaan lebih lanjut tetap diperlukan. Dan, layaknya sebuah definisi, tentunya akan muncul diskursus apakah sebuah definisi itu menjadi terlalu sempit atau malahan melebar.

Namun sebagai sebuah produk murni dari sebuah institusi yang bergerak di ranah jurnalistik, buku ini barangkali bisa dianggap sebagai sebagai salah satu upaya untuk mengawal eksistensi dan keberadaan foto jurnalistik di masa-masa yang akan datang.

M. Zarqoni Maksum
Pewarta foto Antara

10429 x dilihat