Malam Penghakiman Indonesia vs Malaysia

Kado Pahit Tahun Baru

Gelandang Firman Utina, sang kapten Indonesia, berjalan seolah-olah tegap, naik ke podium menyalami jejeran pejabat AFC untuk kemudian menerima medali "runner-up" yang disematkan ketum PSSI Nudin Halid, pria kontroversial yang malam itu tampil parlente mengenakan jas berwarna gelap. Segera setelah penyematan oleh Nurdin, kamera RCTI dengan sigap mengarahkan lensanya pada kerumunan penonton yang mengacungkan baliho raksasa bertuliskan "Ganyang Nurdin" dan setelah Firman menerima medali dengan mimik kecewa, kamera kembali menukikkan arahnya pada baliho raksasa lainnya bertuliskan "Nurdin Turun".

Malam penghakiman alias final terakhir Rabu malam tadi adalah malam anti-klimaks bagi kubu Indonesia. Meski tampil menggebu, anak-anak Garuda tampak belum pulih benar konsentrasinya. Walaupun menurunkan atlet naturalis Irfan Bachdim dan El Loco yang sekaligus sebagai starter, namun hingga akhir babak 45 pertama gol cepat yang dijanjikan pelatih Alfred Riedl ternyata tak kunjung datang. Serangan bola panjang dapat diantisipasi dengan baik oleh anak-anak Rajagopal yang ternyata dengan berani tetap memerintahkan Tim Harimau Malaya bermain ketat dan menekankan mereka untuk melakukan serangan balik dengan cepat. Lagi-lagi Safee Sali dan Norsharulshah Idlan bermain dengan disiplin tinggi di garis penyerangan mereka. Laga seru tersebut akhirnya meletakkan Malaysia sebagai tim yang harus diakui sangat layak memenangi Piala AFF, namun Safee Sali sayangnya tak ditetapkan sebagai pemain terbaik selama turnamen. Sportivitas dalam dunia olahraga adalah yin-yang antara otot dan otak. Darinya kita beroleh penampilan yang ciamik dari siapapun muncul dengan predikat yang terbaik.

Komentar jumawa Riedl ternyata adalah firasat kekalahan Indonesia, karena hingga akhir babak pertama skor masih kacamata. Angka yang persis sama dengan yang dialami juara bertahan Vietnam saat berhadapan dengan Malaysia di semifinal kedua di Hanoi, yang melesatkan negeri jiran itu meluncur ke final. Pemain Garuda terkesan tergesa-gesa mengejar gol cepat agar ada kesempatan mengejar defisit minus tiga gol mereka. Bisa dibayangkan bagaimana mereka sebagai atlet dan manusia biasa harus membawa beban laga wajib seberat itu, juara di hadapan publiknya sendiri. Malaysia sendiri tampil dengan semangat yang sama seperti di Bukit Jalil. Tak ada rasa gentar dalam permainan mereka, meskipun dalam riuh rendah pendukung tuan rumah yang fanatik. Dalam determinasi itulah Malaysia menjaga tempo untuk mempertahankan keunggulan agregat golnya. .

Kemalangan timnas Garuda semakin nyata saat kegagalan eksekusi penalti kapten Firman Utina terjadi di menit ke-18. Memikul beban terlalu berat, Firman tak mampu menyudahi kesempatan emas itu dengan sempurna. Sejak mengambil ancang-ancang, tampak sekali beban berat itu. Bola Firman meluncur lemah, ke arah lompatan spekulasi kiper Fahmi Che Mat yang bermain luarbiasa pada malam penghakiman tersebut. Detik-detik selanjutnya semangat bertarung menjadi milik Malaysia. Firman yang menjadi tulang punggung Indonesia tak mampu mengembalikkan form permainan ke kualitas yang dimilikinya. Meskipun dia memperoleh penghargaan sebagai pemain terbaik selama turnamen, namun dalam dua final ini, Firman tak berada pada puncak permainan yang sesungguhnya menjadi roh dan jiwa anak-anak Garuda menembus final.

Kegagalan eksekusi itu menjadi tanda keruntuhan moral anak-anak Garuda, pola permainan tak berkembang dalam semangat kreatif seperti babak sebelumnya. Lawan yang mereka hadapi benar-benar tangguh dan membalik diri mereka dari keterpurukan atas kehancuran 1-5 pada babak penyisihan yang mungkin menjadi romantika yang membunuh semangat anak-anak Garuda yang sungguh tak lagi mampu mengepakkan sayapnya ke angkasa raya nun tinggi di sana. Dalam kondisi yang lunglai itulah, ujung tombak Malaysia datang untuk menghunjamkan senjatanya tepat di jantung sang Garuda. Sakaratul maut itu terjadi pada menit ke 54, lagi-lagi karena kecepatan Safee Sali yang dengan gesit menyambar umpan Idlan dalam suatu "blitzkrieg" yang memporandakan pertahanan kita yang amat terbuka.

Dalam sisa waktu rasanya tak bakal ada keajaiban. Malaysia makin pede dengan gol itu. Mereka makin mengunci wilayahnya dengan tekanan yang semakin ketat kepada para pemain Garuda yang hanya mengandalkan bola panjang yang semakin terbiasa bagi pemain belakang dan sejumlah gelandang bertahan anak-anak Harimau Malaya itu. Indonesia tak mungkin mencetak 5 gol demi mengangkat Piala AFF untuk pertama kalinya. Ketika Bek Muhammad Nasuha mencetak gol untuk menyamakan kedudukan (73) dan kemudian Muhammad Ridwan (85) menambahnya untuk kemenangan kita, perang sesungguhnya telah berakhir. Garuda tak mampu mengalahkan waktu.

Lampu stadion tetap terang benderang saat anak-anak Harimau Malaya menjejak panggung kehormatan. Petasan kertas bertebaran di antara sumringah dan eforia timnas Malaysia sebagai kampiun baru AFF. Mereka akhirnya menikmati kemenangan terindah mereka yang berlangsung di markas besar PSSI, musuh bebuyutan mereka. Di depan hidung, di antara puluhan ribu pasang mata pendukung Garuda di GBK dan puluhan juta pendukung timnas lainnya, jika mereka masih menghidupkan televisi yang menyiarkan langsung peristiwa itu.

Di antara mereka, mata Nurdin Halid tampak berkaca, entah karena kegagalan timnas kita, atau karena bakal menghadapi ofensif baru seperti bunyi baliho-baliho raksasa yang terbentang di sisi-sisi tembok tribun atas GBK tadi. Pesta baru berakhir, tak ada "happy-ending", eforia juga harus terkubur bersama kisah tragedi kesebelasan PSSI kita. Anggaplah ini kado pahit menyambut tahun baru 2011 yang sebentar lagi bakal kita masuki. Pahit agar kita segera kembali ke realita, membuka lagi PR yang diistirahatkan sejak demam Garuda jadi fenomena. Saatnya penegakan hukum diwujudkan agar "four freedom" dapat kembali ke negeri Bhineka Tunggal Ika ini.

Oscar Motuloh
kurator Galeri Foto Jurnalistik Antara

Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use