Berlusconi, Milan dan Politiknya

Ada yang spesial pada jersey AC Milan ketika melawat ke stadion Marc Antonio Bentegodi kandang Chievo. Dalam laga di giornata 26 itu, punggawa Milan mengenakan kostum khusus. Di bagian dada jersey mereka, terdapat tulisan "20 febbraio 1986-20 febbraio 2011" (20 Februari 1986 - 20 Februari 2011). Ya, tepat pada hari itu 25 tahun yang lalu, enterpreneur bernama Silvio Berlusconi membeli Associazione Calcio Milan dari pemilik lamanya, Guiseppe Farina.

1 Maret 1986 atau delapan hari setelah menjadi pemilik resmi, Berlusconi datang ke pusat pelatihan Milanello dengan helikopter Agusta 109 miliknya. Ratusan milanisti menyambutnya bak dewa penyelamat. Maklum, saat itu Milan diambang kebangkrutan karena skandal Totonero (skandal perjudian dan penentuan hasil pertandingan). Di pagi bersalju itu, ia berjanji di hadapan milanisiti akan menyulap Rossoneri menjadi klub yang disegani.

Gebrakan awal, CEO Finnivest yang ambisius dan gila bola itu membangun skuad solid di tubuh Milan. Allenatore Arrigo Sacchi direkrut untuk meracik strategi. Duo Belanda didatangkan yaitu Ruud Gullit yang ditransfer 17 juta gulden dari PSV Eindhoven dan Marco Van Basten dari Ajax. Konon, Berlusconi sangat kesengsem dengan gaya Van Basten. Tak lama sebelum menguasai Milan, dia menonton rekaman video berisi cuplikan aksi Basten. Baru menyaksikan sekelumit gol, hatinya sudah bulat. Dia mematikan video dan berkata "Cukup, saya harus mendapatkan dia".

Duo Belanda tersebut kemudian dipadukan dengan pemain-pemain lokal Italia seperti Giovani Galli, Franco Baresi, Mauro Tasotti, Alesandro Costacurta, Paolo Maldini, Angelo Colombo, Carlo Anceloti, Alberigo Evani, dan Roberto Donadoni. Hasilnya, tanpa menunggu lama, Rossoneri meraih gelar Seri A setahun berikutnya. Milan meraih posisi puncak, selisih tiga poin di atas peringkat dua, Napoli.

Berlusconi kemudian menambah pasukan Milan dengan membeli Frank Rijkard dari Real Zaragoza melengkapi duo oranye sebelumnya. Trio Oranye saat merajai Piala Eropa 1988 resmi berlabel Merah Hitam. Di Piala Champion, Baresi dan kawan kawan sukses menjadi kampiun dengan menghancurkan Steaua Bucharest yang diperkuat George Hagi dengan empat gol tanpa balas. Gol dicetak oleh Gullit dan Van Basten, masing-masing dua gol.

Saat masa emas Milan dengan berbagai gelar, kepemimpinan Berlusconi diuji dengan perseteruan antara Sacchi dan Basten. Pada awal Januari 1991, Basten secara terang terangan mengkritik taktik Sacchi. Menurutnya, permainan Milan mudah ditebak. Dia menilai ruang kosong di sektor sayap perlu dimanfaatkan lebih baik. Intinya, orientasi menyerang ala Sacchi mulai mengendur.

Mendengar kritik itu, Sacchi melawan. Perdebatan semakin memanas sampai akhirnya sang Il Cavaliere Berlusconi turun tangan. Pemilik klub mengajak bicara Van Basten untuk menjelaskan bagaimana menurutnya Milan bisa lebih produktif. Berlusconi menyikapi anak emasnya itu dengan penuh pengertian tetapi ia mewanti-wanti Basten agar menghentikan diskusi publiknya. Berlusconi lantas menemui Sacchi dan meminta agar bersikap lebih luwes.

Selama konflik berlangsung, Basten mangkir dari pertandingan melawan Pisa dan Genoa. Berlusconi menayakan ke Sacchi, tapi sang Allenatore yang kadung kecewa hanya membisu. Berlusconi menggemboskan suasana dengan menyebut Basten sedang kelelahan dan membutuhkan waktu untuk memulihkan stamina. Berlusconi tidak mau ambil pusing dengan rumor yang beredar dan hanya mengusahakan agar Basten dan Sacchi segera bekerja untuk kepentingan klub. Di depan umum ia tidak menjatuhkan satu per satu anak buahnya.



Usahanya berhasil, Basten mengumumkan siap turun melawan Cesena. Sacchi pun meronta-ronta tetapi Berlusconi menengahi dan dia pun luluh dan akhirnya memasang Marco. Di depan gerombolan fotografer, Basten dan Sacchi berjabat tangan di lokasi latihan. Kamera dari berbagai stasiun milik Berlusconi ikut mengabadikan "perdamaian Milan" itu. Akhirnya, karena merasa tertekan Sacchi akhirnya memilih untuk hengkang.

Usai era Sacchi, tongkat komando kepelatihan jatuh ke tangan Fabio Capello. Eks gelandang Milan dan tim Azzuri itu sebelumnya bekerja sebagai komentator dan analis di salah satu stasiun TV milik Berlusconi. Pada masa Capello, Milan meraih masa keemasannya sebagai Gli Invicibli dan The Dream Team dengan 58 pertandingan tanpa keok. Gelar seri A dengan mudah diraih dan puncaknya di Athena, ketika menghempaskan Barcelona di final Piala Champion dengan skor 4-0.

Seiring prestasi Milan yang mentereng ditambah publikasi dari stasiun TV miliknya, Berlusconi mulai gerah. Keinginan untuk terjun ke dunia politik sudah tak terbendung. Berlusconi secara terbuka mengumumkan pada 26 Januari 1994 tentang keputusannya untuk memasuki kancah politik.


Untuk memuluskan niatnya, Berlusconi mendirikan Forza Italia hanya dua bulan sebelum pemilu 1994. Berlusconi sangat cerdik, ia sengaja memilih nama Forza Italia ("Majulah Italia"), jargon yang sering diteriakkan pendukung sepakbola Italia. Ia tampaknya paham kebosanan masyarakat Italia waktu itu dengan jargon-jargon politik seperti demokrasi, liberal, sosialis dan sosial demokrat. Berlusconi melakukan kampanye besar-besaran lewat iklan di ketiga jaringan TV-nya, dan ia memenangkan pemilu itu dengan Forza Italia menjadi partai yang menduduki peringkat pertama dengan 21 persen perolehan suara.

Namun masa jabatannya berlangsung singkat. Berbagai kontradiksi di dalam koalisinya akhirnya memaksa Berlusconi mengundurkan diri. Dalam tekanan itu, mayoritas pendukung partainya membelot ke oposisi. Koalisi partai-partai oposisi tersebut akhirnya melengserkan Forza Italia. Pada Pemilu tahun 1996, Romano Prodi berhasil merebut singgasana Berlusconi.

Jatuhnya Berlusconi, berdampak langsung dengan prestasi Rossoneri. Milan pun mengalami masa sulit selama beberapa tahun. Setelah era Capello berakhir, dalam kurun waktu lima tahun (1996-2001) Milan berganti pelatih sebanyak enam kali. Dimulai dari Pria Uruguay Oscar Washington Tabarez kemudian Arrigo Sacchi, kembali ke Capello, Alberto Zaccheroni, Cesare Maldini dan Fatim Terim. Dari sederet nama beken itu, hanya Zaccheroni yang memberi gelar dengan memboyong juara Serie A musim 1998/1999 ke San Siro. Meskipun sukses di musim sebelumnya, Zaccheroni diangap gagal untuk mentransformasikan Milan seperti The Dream Team dulu.

Pada masa itu, fans Milan beranggapan Berlusconi sudah tidak sehati. Ia sibuk mempersiapkan pertarungan politik di Pemilu tahun 2001. Ia kembali menggalang kroni kroninya untuk merebut kursi perdana menteri melalui koalisi kanan-tengah Casa delle Libertà yang meliputi Alleanza Nazionale, UDC (Demokrat Kristen), Lega Nord (Liga Utara). Koalisinya berhasil memenangkan 45,4 persen suara kursi parlemen.

Melihat prestasi Rossoneri yang pas pasan itu, Berlusconi mulai berbenah. Dia mencoba menganalisis apa yang terjadi pada klubnya itu. Kesimpulan akhir menjurus pada masalah fisik pemain. Sang bos mengklaim bahwa kondisi fisik pemain tidak terpantau secara maksimal, sehingga mempengaruhi performa mereka di lapangan. Ia segera mengutus tangan kanannya Galliani untuk mendirikan sebuah laboratorium sebagai solusi mengatasi problem fisik pemain. Akhirnya, pada tahun 2002, Rossoneri memiliki MilanLab yang saat itu menjadi salah satu pusat penelitian pemain tercanggih dan belum dimiliki klub lain.

MilanLab adalah kombinasi ideal ilmu pengetahuan, IT, kecerdasan buatan dan psikologi. Yang paling fenomenal adalah ruangan anti gravitasi yang didesain khusus untuk latihan fisik pemain usai cidera. Ruangan hampa udara ini meminimalisir beban pasca cidera, sehingga proses pemulihan berlangsung sangat cepat. David Beckham adalah salah satu dari sekian pemain yang pernah mendapatkan perlakuan ini.

Beckham mengalami cedera patah tulang metatarsal usai ditekel pemain Deportivo La Coruna, Pedro Aldo Duscher menjelang Piala Dunia 2002. Saat itu, publik meragukan Becks untuk bisa tampil memperkuat Three Lions. Namun, pada akhirnya Beckham bisa sembuh dari cederanya dan tampil di Piala Dunia hanya dalam waktu satu bulan dari perkiraan awal dua bulan.

Langkah kedua, Berlusconi mendatangkan eks pelatih Juventus dan Parma, Carlo Ancelotti, untuk menggantikan Fatim Terim. Tujuh musim menukangi Milan, Ancelotti meraih gelar juara Liga Champions pada musim 2002/2003 ketika mengalahkan Juventus lewat drama adu penalti di Manchester dan merebut juara Liga Italia pada musim kompetisi 2003/2004.

Era Ancelotti berakhir, muncul Leonardo yang sebelumnya menjabat Direktur Teknik Milan. Karena berseteru dengan sang Big Bos, Leonardo akhirnya mengundurkan diri usai mengalahkan Juventus 3-0 dipertandingan pamungkas Serie A musim 2009/2010. Berlusconi menyebut Leonardo berkepala batu.

"Leonardo merupakan pelatih hebat dan profesional. Sayang, dia keras kepala. ia tak pernah mengikuti apa yang saya perintahkan. Tak pernah," beber Berlusconi dalam sebuah pesta makan malam. Saat itu, Berlusconi mengkritik keras kebijakan Leonardo yang tetap keukeuh mengadopsi strategi menurunkan tiga striker sekaligus dan berbuntut lini belakang I Rossoneri rapuh.

Akibat pemecatan itu, AC Milan mendapat serangan dari fans. Mereka berbondong-bondong menyambangi Milanello, pusat pelatihan tim, untuk mengajukan protes kepada sang presiden klub. Sekitar tiga ribu Milanisti datang menyampaikan kegeramannya atas kebijakan Berlusconi yang menolak melakukan perombakan skuad. Fans mengutarakan kekecewaan serta tuntutannya.

"Kami sangat mengerti kondisi ekonomi global dan kesulitan klub-klub besar dalam menginvestasikan dana. Tapi Anda masih bisa membeli pemain hebat tanpa harus mengorbankan sosok hebat. Kami akan terus melancarkan protes terhadap siapa saja yang tidak menunjukkan kecintaan terhadap Milan," cetus seorang millanista.

Berlusconi menjawab kritik tifosi dengan mendatangkan Zlatan Ibrahimovic dan Robinho. Apapun alasannya, tak ada kado spesial tahun ini untuk sang bos selain scudetto ke-18.

Milan milan solo con te
Milan milan sempre per te
Milan milan sempre con Berlusconi

Milan milan hanya dengan anda
Milan Milan selalu untuk anda
Milan Milan selalu bersama Berlusconi


Prasetyo Utomo
Pewarta foto dan penikmat sepakbola

Foto: Reuters/Darren Staples


Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use