Indonesia dan Musuh Bersama

Keriuhan menyaksikan final sepakbola SEA Games ke-26 telah membangkitkan kembali sikap patriotisme sebuah bangsa bernama Indonesia. Di negeri yang prestasi sepakbolanya kalah kinclong dari korupsi ini, setiap laga pamungkas yang melibatkan timnas selalu menjanjikan harapan. Harapan tentang kembalinya si "Macan Asia", harapan bahwa Indonesia pantas bertarung di pentas mana pun termasuk Piala Dunia.

Lihat saja ketika Garuda Muda mulus melenggang di tiga pertandingan awal babak grup: Kamboja digilas 6-0, Singapura ditekuk 2-0 dan Thailand dipecundangi 3-1. Jika kemudian muncul eforia, lalu menganggap timnas sudah juara sebelum mencapai babak final, secara psikologis itu adalah hal yang wajar. Harap maklum, Tuan, kita sudah bosan melihat prestasi sepakbola Indonesia yang begitu pas-pasan akibat salah urus, salah bina dan salah asuhan.

Lihat pula ketika para pemuda kita berjibaku melawan Malaysia di laga berikutnya. Meski akhirnya kalah tipis 0-1, asa itu masih kita gantungkan. Tak ada caci maki, tak ada yang protes kenapa sang pelatih hanya memainkan tim pelapis. Penonton jelas makin dewasa, mereka tahu itu hanyalah strategi untuk menyimpan energi. Dengan tiket semifinal di tangan, menghadapi lawan-lawan di babak selanjutnya bukanlah perkara enteng.

Dan strategi itu terbukti di semifinal. Tekel demi tekel yang dilancarkan Vietnam tak mampu meredam semangat timnas muda kita. Pasukan Ho Chi Minh akhirnya menyerah juga di kaki Tibo-Wanggai cs yang dikomandani secara heroik oleh Egi "Sang Dinamo". Pintu ke final terbuka dan Indonesia kembali menghadapi Malaysia.

This is the real final, setidaknya bagi rakyat Indonesia. Mereka teringat kembali pertemuan keduanya di ajang final AFF Cup akhir tahun lalu. Kekalahan 0-3 oleh Malaysia di Bukit Jalil tak menyurutkan langkah para suporter untuk memerahkan Gelora Bung Karno. Meski memenangi leg kedua itu, skor 2-1 jelas tak cukup buat Indonesia untuk mengakhiri puasa gelarnya.

Dan ketika Garuda Muda melenggang ke final SEA Games 2011 dengan catatan skor yang cukup fantastis, para pendukung pun memadati jalan-jalan di sekitar GBK. Di sejumlah kawasan lainnya, jalanan macet oleh kendaraan warga yang ingin menyaksikan laga itu di rumah masing-masing atau di tempat lain yang menggelar acara "nobar".

Ada apa dengan Malaysia sehingga kita rela berdesak-desakan di dalam kereta komuter atau bus kota untuk pulang lebih cepat ke rumah? Ada apa dengan Malaysia sehingga sejumlah anggota DPR menunda rapat penting dengan pemerintah? Ada apa sebenarnya antara Indonesia dan Malaysia?

Meski bertetangga dan serumpun, kita tahu bahwa kedua negara seringkali "berhadap-hadapan" dalam tensi yang tinggi. Tak usahlah menarik waktu jauh ke belakang saat terjadi konfrontasi dengan Malaysia (1962-1966). Mari kita putar-ulang sejumlah kasus yang membuat Indonesia bersitegang dengan negeri Melayu itu dalam sepuluh tahun terakhir ini. Masih ingat perebutan Sipadan-Ligitan? Konflik Blok Ambalat? Penangkapan petugas kelautan kita? Belum lagi klaim Malaysia atas batik Indonesia...

Bukan tujuan saya mengungkit-ungkit masa lalu untuk menutupi kekecewaan kita melihat Indonesia kalah di laga final tadi malam (21/11). Kalah adu penalti setelah bertarung habis-habisan selama 120 menit, bagi saya tetap merupakan tindakan ksatria. Drama itu telah menyadarkan kita bahwa ada "faktor X" di dalam setiap pertandingan olahraga yang sulit diukur dengan metode matematika. Dan percayalah, Indonesia tadi malam hanya dikalahkan oleh sang dewi fortuna...

Tapi, sadarkah bahwa malam tadi kita telah menciptakan sesuatu di benak kita yang bernama "musuh bersama"? Musuh dalam konotasi positif yang menggugah kebersamaan kita untuk melawan segala hal yang "mengganggu" bangsa ini? Jadi, lupakan saja kekalahan timnas kita oleh Malaysia. Lupakan pula soal keberuntungan. Ada "musuh bersama" lain yang lebih pantas untuk segera diperangi di negeri ini. Jika kita kompak seperti mendukung timnas, kita pasti bisa mengalahkan musuh ini dengan skor sangat telak. Setujukah Anda jika musuh bersama itu kita namakan korupsi?

Anton Santoso
Webmaster dan penikmat sepakbola

(Foto: Antara/Yudhi Mahatma)

Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use