Kuratorial Pameran Visual

Lisensi Membunuh

Pembunuhan perdana konon berawal ketika putra-putra Adam dan Hawa beranjak dewasa. Kain adalah yang sulung. Sehari-harinya dia bertani. Sang adik bernama Habel, penggembala kambing dan domba. Pada suatu hari, begitu dikisahkan, mereka bersiap melakukan persembahan kepada Allah. Usai ritual, persembahan Habel ternyata berkenan bagi Allah, sementara persembahan Kain tak diindahkan Sang Khalik. Arkian, kenyataan itu membarakan kesumat dan angkara dalam diri Kain. Dia lalu menghabisi nyawa Habel, darah dagingnya sendiri. Begitulah pembunuhan pertama versi Injil yang terjadi di suatu kawasan agraris di luar Taman Eden. Selanjutnya, menggelindinglah babak buram dunia pasca-Firdaus. Jaman yang paradoks setelah Adam dan Hawa terpental keluar dari Firdaus yang dilukiskan sangat damai, indah-semerbak, harum mewangi dengan aroma surgawi.

Sejak saat itu antropologi pembunuhan terus dan berulang terjadi dengan rupa-rupa alasan. Di kota kota tertua di bumi, Jericho dan Damascus, pembunuhan politik beroleh panggungnya di antara intrik, ketamakan dan virus ganas bernama ambisi. Begitu juga di blok regional yang lain, katakan Yunani dan Romawi, juga di Tiongkok, India dan Persia sana, nyawa-nyawa gentayangan terengut oleh tangan-tangan yang penuh dengki dan kebencian. Kobaran dendamnya akan ada terus ada sepanjang jaman.

Tengoklah apa yang dilakukan dengan penuh dendam oleh para serdadu gurun NTC terhadap diktator empat dekade, Moammar Gaddafi, di dekat gorong-gorong tempatnya diciduk beberapa waktu lalu. Gorong-gorong sarang tikus di Sirte, pesisir Libya, kota kelahiran Sang Kolonel. Dan Revolusi Musim Semi Arab (Timur Tengah), tampaknya belum akan berakhir.

Tepat pada Natal 1989, stasiun televisi negara Rumania yang sebelumnya direbut para milisi anti Komunis mencatatkan posisi mereka sebagai penyebar reality show angkara murka. Sejak unjuk rasa menentang diktator Nicolai Ceausescu dan istirinya Elena, merebak di kota Bucharest, maka sejak itu televisi menjadi simbol perlawanan rakyat. Dia menjadi semacam teater dendam yang digunakan para milisi anti-Ceausescu sebagai arena pembalasan untuk menggulingkan tirani absolut yang dibangunnya, termasuk menarik tentara dan tentu polisi rahasia "Securitate", untuk memihak pergerakan.

Reality show itu segera berimbas positif, dukungan meluas, sehingga memaksa Nicolai dan Elena serta sejumput loyalisnya terpojok di ujung gorong-gorong kekuasaan yang de fakto tak lagi di tangannya. Puncak pertunjukan adalah saat pasangan maut itu tertangkap militer Rumania kala berupaya kabur dari tanah airnya sendiri. Nicolai mengenakan mantel hitam dan syaal kotak-kotak marun hanya bisa pasrah dan berusaha terlihat cool. Dia tahu adegan berikutnya adalah siaran langsung televisi yang beberapa waktu sebelumnya adalah corong propagandanya dan Partai Komunis Rumania.

"Scene maut" berikutnya adalah milik kapten Ionel Boeru dan dua rekannya yang mengikat tangan sang "Romeo dan Juliet", menggelandangnya keluar ruangan dan menghadiahi pasangan itu dengan berondongan senapan serang buatan Uni Soviet AK-47. Jenasah mereka dibiarkan teronggok di tanah dingin bulan Desember, dengan hanya ditutupi terpal berwarna khaki milik militer Rumania yang sebelumnya adalah alat Ceausescu dalam melenyapkan nyawa rakyatnya. Darah mereka mengalir mencari jalannya sendiri sebelum mengering tak berarti.

Dalam film dokumenter "Videogram of Revolution", karya sutradara Jerman Harun Farocki dan Andrei Ujica (1992, 1 jam 46 menit) diperlihatkan bagaimana kerumunan kawula Rumania berteriak gembira di depan televisi saat kamera reality show-nya kaum pemberontak tersebut memperlihatkan close up wajah Nicolai dan kemudian Elena yang pasi menyembul di antara terpal-terpal khaki yang menutupi tubuh-tubuh kaku mantan orang kuat negeri Rumania tersebut. Kematian yang membuka pintu bagi kekerasan demi kekerasan berikutnya.

Sementara itu, 7 September 2004, di atas cakrawala India, tokoh HAM Indonesia, Munir Said Thalib, mulai keluar-masuk toilet dalam penerbangan GA 974 yang rencananya akan menerbangkannya ke Amsterdam. Itulah reaksi arsenik yang mulai menyerang jaringan tubuhnya. Racun jahanam itu sengaja diselundupkan ke sajian penerbangan untuk pria kurus yang sebentar lagi akan menutup usianya pada angka 38 tahun.

Munir adalah pejuang HAM yang konsisten. Dia membeberkan penculikan-penculikan aktivis yang dilakukan pasukan paramiliter Angkatan Darat loyalis Soeharto pada era gerakan Reformasi. Munir antara lain, menjadi penasehat hukum pada kasus pembunuhan Marsinah, Peristiwa Priok dan empat Mahasiswa Trisakti yang terbunuh aparat di jalan Kiai Tapa, Grogol. Hingga detik ini pemerintah belum menuntaskan janjinya untuk mengungkap habis pembunuhan terencana atas tokoh HAM Indonesia tersebut, kecuali menghukum sebidak "pion" ke hotel prodeo selama 14 tahun. Sementara Sang Dalang masih berkeliaran dengan bebas dan merdeka. Penguasa seperti hanya menyediakan peti es sebagai wadah penampungan bagi kasus Munir dan sejumlah kasus HAM yang pernah terjadi di Indonesia.

Demi mengenang spirit perjuangan Munir dan juga mensaksamai serial 60 pembunuhan politik global dan 4 tokoh yang terancam mati oleh masyarakat tertentu, maka penyelenggaraan pameran "KUARTET PEMBUNUHAN POLITIK INTERNASIONAL" karya seniman, wartawan dan fotografer Belanda Arjan Onderwijngaard di Galeri Foto Jurnlistik Antara digelar juga untuk memperingati Hari HAM Internasional yang jatuh pada 10 Desember 2011, juga HUT Kantor Berita Antara yang didirikan pada 13 Desember 1937.

Katalog pameran didesain dalam bentuk kartu kuartet yang sesungguhnya. Kuartet adalah permainan dengan kartu untuk pendidikan anak yang dirilis pada tahun enampuluhan oleh perusahaan Piatnik di Austria (berdiri sejak 1824). Kuartet ini berisi potret tokoh-tokoh yang menjadi korban pembunuhan politik secara global. Yang dapat dimainkan secara kolektif seraya mengenal lebih dalam figur dan peristiwa yang ada di balik pembunuhan politik internasional dan menganalisis latar belakangnya.

Di penghujung tahun, kita sekaligus dapat merenungkan dan memaknai kembali peristiwa-peristiwa tragis tersebut sebagai kritisi untuk perjalanan politik negeri tercinta kita ke masa depan yang lebih adil dan demokratis dalam kancah bhineka Indonesia. Namun sebelum kita memimpikannya agar benar-benar terjadi, tak ada salahnya kita sedikit bertanya pada awan tebal kelabu yang sebentar lagi akan turun sebagai hujan. "Apa sih yang dapat diberikan oleh penguasa selama hampir dua periode kepada rakyatnya, jika menegakkan hukum dan memberantas korupsi saja tak kunjung tuntas?"

oscar motuloh
kurator

Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use