16 Besar Liga Champions

Manchester Berkabung

Sekali tepuk, dua kesebelasan kebanggaan kota Manchester gugur secara dramatis. Pertarungan hidup mati Manchester City di Etihad dan Manchester United yang tandang ke kandang FC Basel menjadi kisah garis tangan misteri sepakbola. Rabu dinihari, tepat pada waktu yang sama pimpinan klasemen liga Inggris, Man City, bermain cemerlang di hadapan fans mereka. Namun kemenangan telak 2-0 atas tamu mereka Bayern Muenchen tidaklah cukup bagi tim penuh bintang polesan Roberto Mancini untuk menyelinap ke fase 16 Eropa. Di Madrigal, kandang Villareal, wakil Italia yang kembali bersinar, Napoli, berhasil menggosok kisah lama mereka. Tak tanggung-tanggung, Yellow Submarine mereka tenggelamkan di perairannya sendiri. Dua gol tanpa balas. Maka hanya airmata yang bisa menetes di lapangan dingin bulan Desember. City gagal ke fase 16, karena perolehan nilai Napoli lebih baik.

Kemenangan City sesungguhnya telah diraba oleh pengamat sepakbola, karena anak-anak Bavaria meskipun datang dengan tim utama, pastinya mereka akan menurunkan daftar pemain lapis kedua. Jupp Heycnes, sang pelatih, tak mau mengambil risiko sebab mereka telah memastikan meraih tiket 16 sebelum kick-off melawan tim biru langit yang ramai-ramai berdoa agar Villareal bermain sungguh-sungguh serta habis-habisan saat menerima kedatangan kesebelasan Napoli yang sudah lama tenggelam dalam nadir prestasi. Dengan Marek Hamsik dan Edinson Cavani, serta gosokan motivasi yang luarbiasa dari sang pelatih, Walter Mazzari, yang benci sepakbola bertabuh pundi-pundi emas macam City.

"Kami berhasil mempencundangi tim yang dibangun hanya dengan uang," komentar Mazzani dengan nyinyir saat berhasil menekuk City di kandang Napoli. Kemenangan yang membuat posisi City mendadak di ujung tanduk. Akhirnya kemenangan Napoli di El Madrigal menutup semua peluang yang tadinya masih ada. Untuk sedikit hiburan bagi City barangkali karena warna kostum Napoli sama dengan seragam kebesaran mereka.

Di Stadion El Madrigal, kandang Kapal Selam Kuning yang prestasinya memang tengah terpuruk belakangan ini, ternyata menjadi kuburan City yang sesungguhnya. Dengan motivasi yang luarbiasa tinggi, bekas klub Maradona ini bermain kesetanan. Dalam 25 menit di babak kedua, meskipun menguasai posisi bola, kapal selam Villareal benar-benar karam terkena dua torpedo yang dilesakkan Gokhan Inler (65) dan striker muda mereka Marek Hamsik (76).

"Saya seperti berada di langit," komentar Inler seperti yang dikutip Soccernet.com usai laga bersejarah itu. Itu adalah gol pertamanya di ajang kiblat sepakbola yang paling bergengsi di benua biru Eropa. Paling tidak Mazzini telah membuktikan bahwa motivasi mampu menekuk kesebelasan yang dibangun dengan kekuatan materi yang seperti ingin membangun prestasi dalam satu malam. Di samping itu, tekad Mazzani pula untuk menggusur Mancini yang menjadi rivalnya sejak masih berkiprah melatih tim seri A bernama Inter Milan.

Yang sungguh dramatis justru laga hidup-mati antara Manchester United versus FC Basel di kandangnya, stadion St. Jakob-Park. Menurunkan formula 4-4-2, Fergie menduetkan Wayne Rooney dengan Nani. Pasangan pada duel penentuan itu justru tak mampu bermain lepas dan kreatif. Rooney, begitu juga Nani kerap terlihat frustrasi. Dan beban harus lolos minimal dengan bermain seri tampaknya membuat tim setan merah yang mengenakan kostum tandang putih bermain kagok, sehingga mereka sudah kebobolan melalui tendangan terukur dari Marco Streller.

Sejak itu Dewi fortuna tampaknya lebih menginginkan Basel yang menang. Apalagi semangat serta tekad yang bulat anak-anak Basel ternyata lebih solid ketimbang anggota setan merah yang hingga detik terakhir tak pernah lagi dapat menemukan jati diri mereka yang sesungguhnya. Bahkan sejak gol Streller yang terjadi begitu cepat (menit 9), Manu tak hanya tersingkir namun juga harus kehilangan kaptennya yang zakellijk, Nemenja Vidic, karena cedera dan posisinya digantikan poros halang muda Johnny Evans.

Menguasai permainan ternyata tak cukup untuk menaklukan kegigihan anak-anak Basel yang mengenakan seragam mirip kepunyaan Barcelona, tim yang menghabisi Manu di final Champions tahun silam. Bahkan melalui umpan silang gelandang yang begitu pegas, Granit Xhaka, ke tiang jauh kiper de Gea, Alexander Frei yang masuk ke belakang Chris Smalling berhasil menyundul bola sambil menjatuhkan diri. Gol kedua yang terjadi pada menit ke 84 itulah yang menghabisi nyawa setan merah. Meskipun sanggup membalas dengan gol yang dibuat Phil Jones pada menit ke 89, tentulah sudah terlambat. Anak-anak Basel sudah keburu tinggi tensinya untuk bertahan. Dan saat wasit Bjorn Kuiper meniupkan peluit panjang, di stadion City of Manchester airmata juga mengalir. Mancini harus menyimpan dahulu ambisinya di kancah Eropa, paling tidak untuk setahun ini. Menaklukan Muenchen ternyata tak cukup.

Tergusurnya sekaligus dua tim paling tangguh di liga Inggris itu adalah tragedi yang sulit diterima akal sehat. Hanya dalam 90 menit, dua kebanggaan Inggris yang nangkring di puncak klasemen itu harus berakhir kiprahnya dalam kompetisi yang siang hari pun belum. Hati warga Manchester pastilah hancur oleh misteri sepakbola ini. Bayangan headline koran esok pagi pasti seru dan penuh romantika.

Namun sepakbola mengalir persis seperti drama kehidupan. Ada cinta dan benci. Ada suka dan duka. Ada anggur dan racun. Pelatih gaek Alex Ferguson alias Fergie sama dengan Mazzani, juga mengecam kesebelasan yang jor-joran dengan materi sebagai gurita yang bakal membenamkan filsafat seni sepakbola. Sayangnya, Mazzani mampu menginspirasi Napoli dengan membenamkan kesebelasan ala American Idol itu ke dasar samudra, sementara Fergie harus menggali makamnya sendiri di St.Jakob Park.

Kiranya menarik disimak komentar mantan kapten Manu yang elegan tapi penuh kontroversi, Roy Keane, "kekalahan ini adalah introspeksi". Siapa bilang misteri sepakbola itu hanya bisa tidur?

oscar motuloh
kurator GFJA dan penikmat sepakbola

(Foto: Antara/Reuters/Phil Noble)

Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use