Film Flying Swords of Dragon Gate

Sensasi Wuxia di Layar 3D

Bayangkan Anda berada di tengah medan pertarungan jago-jago pedang di dunia persilatan. Suara dentingan pedang yang beradu begitu nyata, berkelebat di depan hidung dan mata anda dan mengharubiru gendang telinga Anda, dan wuss..wuss.. beberapa pisau terbang melesat cepat persis ke arah wajah Anda. Dan awas, sebelum Anda sempat memalingkan wajah dari terkaman pisau terbang itu dari sisi lain ratusan anak-panah berdesingan bahkan dari atas kepala atau melesat cepat ke arah Anda.

Itu hanyalah secuplik adegan yang bikin dada berdegup kencang dari film Flying Swords of Dragon Gate (FSDG) garapan sutradara kelahiran Vietnam Tsui Hark (Sui man-Kong) yang kini sedang menyambangi layar-layar bioskop Ibukota. Ada yang istimewa di film ini, khususnya bagi penggemar film-film silat mandarin karena FSDG dibikin khusus dalam format 3D. Inilah untuk pertama kalinya sebuah wuxia disajikan dalam format tiga dimensi.

Di jagad perfilman Hollywood, teknologi ini memang sudah banyak didedahkan oleh sejumlah sineas untuk memperoleh efek yang lebih riil dalam film-filmnya, namun untuk film mandarin, FSDG adalah yang pertama, artinya Anda bisa menyaksikan "china ngamuk" dalam format lain yang lebih nyata. Dan sutradaranya tidak main-main. Tsui Hark yang pernah bekerja di proyek televisi New York itu menggaet Chuck Comisky, pakar efek khusus (special effects) tiga dimensi film Avatar garapan James Cameron, untuk membawa cerita silat China (wuxia) pertama ke era tiga dimensi.

Hasilnya cukup menggetarkan. Dunia persilatan ditampilkan begitu nyata. Adegan-adegan laganya memukau, penuh gerakan kungfu bergaya akrobatik khas wuxia. Dijamin selama menonton, Anda akan berulang kali memejamkan mata, menggelengkan kepala menghindari sabetan pedang atau kilatan pisau terbang, atau bahkan Anda mungkin lupa dengan popcorn yang Anda bawa.

Dengan perpaduan teknik kamera statis dan bergerak, serta pengambilan gambar dari atas (high angle), Tsui Hark mampu menghadirkan lanskap cerita dengan apik, termasuk menghadirkan adegan pertarungan yang rinci dan dramatis.

Tsui Hark telah lama dikenal dari film-film silat kolosalnya yang menjadi ikon film mandarin, seperti kisah Huang Fei Hung yang diperankan Jet Li dalam serial Once Upon A Time in China, juga The Swordsman, Green Snake. Sutradara lulusan Texas University jurusan film itu mencoba "cari peruntungan" dengan mengusung teknologi 3D. Tsui Hark mengajak lagi Jet Li untuk menjadi pendekar pedang Zhao Huai’an yang harus bertarung mati-matian dengan Yu Huatian (Chen Kun), jawara dari pemerintahan dinasti Ming.

Film ini berkisah tentang penginapan bernama Dragon Gate Inn yang terletak di tengah gurun dan ditinggal pemiliknya. Penginapan itu lalu dikuasai sekawanan perampok yang tengah mencari harta karun yang kabarnya tersimpan tak jauh dari lokasi penginapan itu. Harta karun itu tertimbun di bawah pasir dan hanya akan terkuak ketika badai besar datang setiap 60 tahun sekali. Menjelang kedatangan badai, penginapan itu dipenuhi para perampok, pendekar dan prajurit dari pemerintahan yang menyamar. Aksi-aksi pertarungan memperebutkan harta karun itulah yang dikembangkan menjadi inti cerita.

Mengambil setting pada kejayaan dinasti Ming, film ini merupakan remake dari Dragon Gate Inn karya King Hu (1966) dan The New Dragon Gate Inn garapan Raymond Lee (1992). Namun untuk FSDG, Tsui Hark lebih suka menyebutnya sebagai reimagine, sebuah interpretasi lain dengan pendekatan dan teknologi baru.

Rupanya Tsui Hark lebih mementingkan special effect berbasis 3D-nya, sehingga beberapa aspek lain kelihatan agak keteteran. Film ini minim bintang tenar, hanya ada Jet Li yang kini terlihat semakin dimakan usia. Bandingkan dengan New Dragon Gate Inn yang bertabur bintang seperti Tony Leung, Brigitte Lin dan Maggie Cheung. Namun kekurangan itu dibayar dengan hadirnya efek khusus yang mendebarkan. Di bagian akhir, muncul adegan badai pasir berbentuk puting beliung raksasa yang lebih dramatis dari yang ditampilkan dalam film-film Hollywood semacam Twister (1996) garapan Jan De Bont. Aksi laga tiga dimensinya pun mendebarkan dan memanjakan mata, meski kadang terasa amat surealis.

Dari sisi sinematografi, Tsui Hark barangkali belum sebaik Zhang Yimou yang melahirkan karya-karya artistik, indah dan didukung cerita yang kuat seperti Hero (2002), House of Flying Dagger (2004), dan Course of The Golden Flowers (2006), atau Ang Lee dengan Crouching Tiger Hidden Dragon-nya yang diakui dunia internasional dan menjadikan wuxia semakin mengglobal.

Jika Anda terkagum-kagum dengan adegan jago pedang Li Mu Bai (Chow Yun-fat) berduel dengan musuhnya Jen Yu (Zhang Zi Yi) hingga ke pucuk hutan bambu dalam Crouching Tiger Hidden Dragon atau adegan duel pedang Jet Li dan Tony Leung dalam The Hero , maka Anda bisa menemukan adegan serupa ditampilkan lebih dahsyat berkat teknologi 3D.

Jadi, jangan terlalu mengernyitkan dahi dengan adegan-adegan akrobatiknya yang tampak gak masuk akal itu. Nikmati saja keindahan gerakan dalam setiap pertarungan dan siap-siap pula terkejut saat kibasan ujung pedang itu hampir menyabet wajah Anda, atau panah-panah yang bersliweran dan pisau terbang melesat di atas kepala Anda. Asyik bukan?

Zarqoni Maksum
pewarta foto dan penikmat film

Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use