Pameran Foto Kilas Balik 2011

Requiem Untuk Peradaban

Atmosfir aneka peristiwa pilihan yang pernah menggelinding sepanjang tahun 2011 hadir kembali secara kolektif di Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) pada permulaan tahun ini. Melalui optis jiwa para kuli citra Divisi Pemberitaan Foto Antara, imaji kejadian-kejadian penting yang dihimpun dalam paket pameran dan peluncuran buku foto jurnalistik KILAS BALIK 2011 tersebut dihamparkan lagi sebagai karpet merah yang sekaligus berfungsi sebagai rambu jurnalisme fotografi alias tonggak peringatan peristiwa visual kita menuju peradaban dan demokrasi yang mestinya dapat bersinar kembali. Dicuplik dari beragam medan persitiwa penting di seluruh tanah air, hakekat dari koleksi kejadian-kejadian dalam sejumlah kriteria fotografi jurnalistik tersebut diharapkan bisa menjadi cermin bagi kelangsungan atas kondisi republik ini, seraya mencelikkan buta hati para pengelola negeri tercinta kita.

Pameran dan peluncuran buku fotografi jurnalistik KILAS BALIK 2011 adalah kegiatan pembuka dari serangkaian program khusus Museum dan GFJA yang pada 27 Desember mendatang akan berusia tepat 20 tahun. Gedung Antara Pasar Baru, sejak masa perjuangan kemerdekaan Indonesia, adalah roh dari pergerakan perjuangan pers itu sendiri. Hanya beberapa saat setelah Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan Kemerdekaan Indonesia di Pegangsaan Timur 56, pada 17 Agustus 1945, kabar Indonesia merdeka telah dipancarkan luas ke mancanegara melalui perangkat Morse yang diselundupkan dari satu pojok di lantai dua gedung Antara no.59. Demi jasanya, maka Gedung Antara yang sekarang disebut Graha Bhakti Antara itu, diputuskan pemerintah Republik Indonesia sebagai gedung bersejarah kelas A.

Dari legacy itu, maka pendirian Museum dan GFJA sejak semula didedikasikan demi kelestarian pengertian jurnalisme kemerdekaan dalam maknanya yang luas. Kesetaraan dan persaudaraan adalah juga pondasi pers yang terus diusung dalam perjalanan GFJA sepanjang dua decade ini. Dalam program-programnya dia dikembangkan untuk menjunjung kebhinekaan Indonesia sebagai kekuatan persatuannya. Keberadaan GFJA adalah juga untuk mendorong dan mencerahkan harkat peradaban jurnalisme visual kita, agar mampu menerobos belantara kebencian yang memasung demokrasi serta kanopi kecemburuan bawah sadar yang menzalimi kemanusiaan. Untuk itulah tonggak peringatan yang menjadi refleksi tahunan dari pameran KILAS BALIK akan terus dihadirkan demi menerangi lorong-lorong fotografi jurnalistik yang terkadang gelap oleh intrik dan kepicikan profesi.

Pameran dan pelucuran buku fotografi jurnalistik KILAS BALIK tahun ini secara realistik mengingatkan betapapun mahalnya kepercayaan itu dibangun, namun dia bisa musnah dalam sekejap akibat ketakseriusan penguasa menegakkan hukum demi keadilan seluruh warga negera Republik ini. Semakin merebaknya virus skandal-skandal korupsi yang dilakukan abdi negara dari seluruh strata yang mewabah lebih semarak ketimbang jamur di musim hujan. Hancurnya kepercayaan masyarakat terhadap perpolitikan yang sarat intrik di Indonesia. Termasuk ambrolnya citra parlemen kita yang ternyata lebih nadir ketimbang pernyataan Gus Dur yang pernah dikumandangnya tempo hari. Merananya TKI kita di negeri orang, serta kegetiran di bidang pendidikan terus dialami anak-anak Nusantara yang terpaksa menuntut ilmu di tempat yang sama sekali tak lagi layak untuk digunakan sebagai sekolah. Porandanya alam dan lingkungan Indonesia yang dahulu selalu dibanggakan rayuannya oleh komponis Ismail Marzuki dalam syair lagu-lagu gubahannya. Tembang kematian macam serial penembakan aparat polisi atas rakyatnya di sejumlah lokasi di Indonesia masih saja terus terjadi.

Jika ada yang menggembirakan - karena jurnalisme harus tetap menawarkan harapan - itulah dunia olahraga yang memunculkan petinju Chris John yang berhasil mempertahankan tahta dunianya di luar Indonesia dan tentunya keperkasaan atlet-atlet Indonesia yang merebut kembali supremasi Indonesia sebagai raja Sea Games. Sayangnya, pembangunan fasilitas olahraganya tetap berlumuran lumpur korupsi yang diprakarsai Nazaruddin, bendahara partai berkuasa yang buru-buru dipecat begitu keterlibatannya terendus pers. Dia sempat buron sambil liburan di mancanegara sebelum diringkus di Kolombia. Drama Nazaruddin menyedot perhatian penuh liputan media tanah air. Dia tampil seperti "reality-show" marathon yang pemberitaannya meneggelamkan prestasi dan citra positif yang dibangun Chris serta segenap atlet emas kita yang bertarung di arena Sea Games 2011.

KILAS BALIK tetaplah sebentuk kaleidoskop peristiwa visual yang mengiringi perjalanan bangsa nan majemuk ini dalam mengisi sekaligus membangun kemerdekaannya. Peristiwa yang menjadi kesaksian para kuli citra Divisi Pemberitaan Foto Antara terhampar sebagai sebagai mata bagi dunia. Pengamatan yang bertugas mengingatkan bahwa tak boleh lagi ada peristiwa yang menyisakan perkara keadilan di lemari pendingin. Menghardik perlunya aksi nyata yang tegas dan revolusioner untuk membasmi korupsi di tanah air. Pemerintah harus menjamin tak boleh lagi ada darah suci rakyat yang mengalir di antara selongsong peluru polisi yang bengis dan tak bertanggung jawab sekaligus menghukum para penanggung jawabnya. Semua itu identik dengan simbol kegelapan yang mencederai kemanusiaan serta membunuh peradaban yang dibangun dengan pengorbanan, darah dan airmata oleh para perintis Republik Bhineka Indonesia. Pengorbanan Sondang Hutagalung yang mangkat untuk mengingatkan penguasa, dan penderitaan serta ketakberdayaan rakyat harus diakhiri sampai di sini. Sebab negeri ini bukan punya penguasa dan partai-partai politik jangka pendek yang fana, dia milik generasi penerus kita.

oscar motuloh
kurator


Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use