Foto Terbaik World Press Photo

Kelahiran Kembali Michaelangelo

Dewan juri World Press Photo, penghargaan paling prestisius di bidang fotografi jurnalistik, dalam penyelenggaraan ke-55 di markas besarnya di Amsterdam, Jumat petang (10/2), akhirnya menetapkan foto karya Samuel Aranda, pewarta foto lepas Corbis asal Catalunya sebagai foto terbaik sepanjang tahun 2011. Karya yang diambil di rumah sakit lapangan di Sanaa, 15 Oktober tahun lalu itu, memperlihatkan seorang perempuan mengenakan burka hitam menyangga tubuh seorang pria kerabatnya yang menjadi korban unjuk rasa besar-besaran menentang pemerintahan otoriter Yaman dan presiden Ali Abdullah Saleh yang kemudian lengser dan kabur ke AS. Sebentuk karya foto jurnalistik yang sederhana namun memiliki makna kemanusiaan yang sangat mendalam. Imaji itu sendiri adalah kutipan foto dari penugasan Aranda untuk the New York Times.

Karya Aranda adalah metafora yang mencuat dalam pemikiran sebagai bentuk inspirasi dari patung masyhur era Renaisans, "Pieta" (1498-1499), salah satu masterpiece Michelangelo di Lodovico Buonarroti Simoni (1475–1564) yang dipajang di salah satu sudut dari basilica Santo Petrus di Kota Vatican. Karya yang terbuat dari marmer ini menggambarkan tubuh Yesus di pelukan ibunya Maria setelah penyaliban di bukit Golgota. Patung tersebut dibuat sebagai monumen di makam kardinal Perancis Jean de Bilheres. Imaji serupa juga menginspirasi sejumlah karya fotografi jurnalistik terdahu. Yang paling terkenal adalah Eugene Smith saat membuat esai pencemaran Minamata yang memperlihatkan Tomoko Eumura yang tak berdaya terkena racun merkuri tengah dirawat dengan penuh kasih oleh ibundanya, Ryoko.

Meskipun mimik perempuan dalam foto Aranda itu tak tampak karena tersembunyi di balik cadar hitam, kedua tangan yang menyangga korban tetap dengan kuat mengesankan rasa kasih sayang. Sebentuk sikap paling mendasar dalam kemanusiaan. Sekaligus menjadi representasi dari suatu perlawanan dari yang lemah. Penentangan yang didukung dari hati, seperti yang menyebar dengan cepat dalam hamparan karpet revolusi di Timur Tengah yang dikenal sebagai Musim Semi Arab. Salah seorang anggota dewan juri dalam situs World Press Photo, Koyo Kouoh berkata, "Foto itu mewakili seluruh kawasan yang tersapu musim semi Arab seperti Yemen, Mesir, Tunisia, Libya dan sekarang Syria. Karya Aranda itu memperlihatkan visual yang sangat pribadi, ada kehangatan kemanusiaan yang tengah terjadi. Dalam kondisi itu, kita dapat merasakan peran perempuan, tak hanya memberi atensi, tapi berperan aktif sebagai bagian yang seharusnya dari kemanusiaan".

Sementara ketua dewan juri internasional WPP ke-55 tersebut, Aidan Sullivan, berpendapat, "Foto pemenang ini memperlihatkan konsekuensi sebentuk kejadian yang mulia, suatu kejadian yang tengah berlangsung. Kita tak mengenal perempuan yang menopang tubuh rapuh seorang kerabat yang terluka, tapi dari sana kita mendapat gambaran yang sungguh hidup betapa keberanian dari orang-orang biasa membantu menciptakan babak penting dalam sejarah Timur Tengah". Mungkin Sullivan benar, namun sesungguhnya bagi masyarakat "Timur yang dekat" secara emosional dengan teori domino yang tengah berlangsung di Timur Tengah, foto Aranda adalah simbol dari sebentuk perlawanan terhadap kesewenangan, kemuakan pada korupsi yang tak lagi terbendung dan ketak perdulian pemerintah terhadap rakyat jelata yang terus merangkak untuk menggapai keadilan.

Menyabet penghargaan pertama dalam kategori "People in the News", foto Aranda kemudian dipilih kembali oleh dewan juri internasional (terdiri dari 19 juri mancanegara yang diketuai Aidan Sullivan, wakil presiden editor Getty Images, Inggris) untuk mewakili subyektivitas dewan juri yang praktis dapat dikatakan menjadi representasi kesaksian dan suara pewarta foto sedunia. Tahun ini sebanyak 57 pewarta foto dari 24 negara (Afghanistan, Argentina, Australia, Bosnia Herzegovina, Kanada, China, Denmark, Perancis, Jerman, India, Iran, Irlandia, Italia, Jepang, Meksiko, Belanda, Norwegia, Polandia, Rusia, Afsel, Spanyol, Swedia, Inggris dan AS) yang memenangi 9 kategori kontes. Mereka lolos dari 5.247 pewarta foto yang mewakili 124 negara dengan 101.254 karya foto yang diseleksi juri selama 13 hari.

Samuel Aranda adalah pewarta foto muda Catalunya yang lahir pada 1979 di Santa Coloma de Gramanet, Barcelona, Spanyol. Saat berusia 19 tahun, dia memulai karir jurnalistiknya untuk El Pais dan El Periodico de Catalunya. Beberapa tahun kemudian dia melanglang ke Timur Tengah untuk meliput konflik Israel-Palestina bagi kantor berita Spanyol EFE. Sejak 2004 dia bergabung dengan AFP, meliput beragam konflik politik dan sosial di kampung halamannya, Pakistan, serta Gaza, Lebanon, Palestina, Maroko dan Sahara Barat.

Dua tahun kemudian, Aranda mulai berkiprah dalam raihan penghargaan lokal. Imaji-imajinya mulai tampil di Visa Pour L’Image dan juga dalam program dokumenter BBC. Dia lalu melanjutkan karirnya sebagai pewarta foto lepas. Dia membuat sejumlah proyek visual di Laut Aral Uzbekistan, India, kemerdekaan Kosovo, Afsel sebelum Piala Dunia, Moldova, anak jalanan di Bukares dan mafia Camorra di Napoli. Perjalanannya meliput revolusi musim semi Arab, di Tunisia, Mesir, Libia dan Yemen yang melalui karyanya, akhirnya mengantarnya ke puncak pencapaian di blantika fotografi jurnalistik dunia. Dia juga memasok foto untuk New York Times dan El Magazine de la Vanguardia. Sekarang dia berkantor di Tunisia mewakili Corbis Images.

Imaji dari peristiwa Musim Semi Arab dan tsunami Jepang menyabet masing-masing tujuh pemenang kontes, sementara kali ini pewarta foto Indonesia maupun subyek peristiwa di tanah air tak dilirik dalam kontes yang tahun lalu sempat dimenangi oleh seorang pewarta foto muda Indonesia, Kemal Jufri, melalui cerita fotonya tentang letusan gunung Merapi. Raihan prestasi tertinggi bagi pers nasional dalam kontes World Press Photo sejauh ini masih dipegang oleh Sholihuddin (Jawa Pos) yang karya tunggalnya sempat meraih penghargaan pertama untuk kategori foto spot tahun 1995. Salah satu kategori paling bergengsi dari kategori yang dilombakan dalam kontes. Sementara itu, Mochtar Lubis pernah menjadi salah satu juri dari World Press Photo pada tahun 1980.

Karya Aranda adalah metafora kekuatan dari ketakberdayaan kaum tertindas. Imaji yang mengingatkan kita pada gerakan anti kekerasan Mahatma Gandhi, namun sekaligus juga kenangan pada mimpi buruk kekerasan kemanusiaan yang terus bergejolak di Nigeria dan sejumlah kawasan di dunia serta juga di beberapa sudut tanah air kita. Spirit dari imaji Aranda mestinya adalah pelita yang menerangi peradaban dunia yang tak pernah bersih lari lumuran darah, jahanam dan rasa kebencian yang mendarah dalam daging.

Foto itu jelas menyebarkan ketentraman yang seolah dihaturkan dari sentuhan agung perempuan dan sebentuk harkat pada pentingnya kehidupan. Karena nyawa adalah hembusan Tuhan, dan jiwa adalah ciptaan Ilahi, maka dia wajib dijunjung kehormatannya oleh umat manusia, tak perduli apapun ideologi dan keyakinannya.

oscar motuloh
kurator GFJA

(Foto: halaman depan WorldPress.org yang menampilkan foto terbaik 2011)

Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use