In memoriam Bubi Chen (1938-2012)

Denting Paradiso di Surga

Di antara celoteh renyah penyiar radio dalam kendaraan yang terhimpit kemacetan Jakarta, terperangkap suara seronok Lady Gaga dan musik berang dari Foo Fighters yang menggebu-gebu. Tiba-tiba hening, semacam saat teduh, lalu penyiar centil bersuara lincah tadi mengabarkan warta duka: pianis kawakan Bubi Chen wafat Kamis petang. Begitu saja, tak ada keterangan tambahan macam lokasi apalagi penyebabnya. Setengah detik kemudian suara remajanya menyambarkan lagi satu nomor kencang dari album teranyar grupnya Dave Grohl, mantan drummer Nirvana, Wasting Light. Menggelindingkan kejayaan musik grunge, sementara belasungkawa untuk jazz Indonesia.

Sejak lama pianis kebanggaan Indonesia itu bersama mendiang Jack Lesmana bergerak mempopulerkan combo mereka pada periode gempitanya musik rock 1970-an. Berbarengan dengan semerbak mewanginya generasi bunga yang dihembuskan angin Woodstock, Jack dan Bubi terus menghembuskan musik yang sesungguhnya lebih merdeka: jazz. Chord gitar Jack Lesmana dan denting Bubi beriringan mengisi relung-relung cakrawala. Dalam kedamaian jiwa, improvisasi mereka menjadi refleksi kemerdekaan jiwa yang membawa Indonesia ke panggung dunia. Mereka adalah pionir yang terus meneroboskan kebebasan nada menyeruak di antara kastil-kastil kaku yang bernama industri musik Indonesia.

Seperti pebiola jazz Stephane Grapelli (1908-1997), salah satu anggota Quintette du Hot Club de France bersama pentolannya, gitaris Gypsy Django Reindhardt, sangat terkenal pada periode sebelum PD II. Hingga akhir hayatnya Stephane terus tampil di panggung manapun, tak peduli usianya hingga ajal menjemput dan talentanya mungkin untuk diperdengarkan di Nirvana nun di atas sana.

Bubi, semangatnya tetaplah sebagai guru dan pianis yang seolah bermain untuk semua jaman. Akhirnya maut toh tak mampu ditampiknya. Dalam usia 74 tahun di RS Telogorejo, Semarang, maestro jazz itu pergi menyusul sahabatnya, Jack Lesmana, yang telah berpulang lebih dulu. Diabetes mellitus yang melilit tubuhnya tak mampu dilawannya. Bagaimanapun, Bubi telah memberi arti perdamaian dalam musik dan pergaulan kehidupan. Pesan yang perlu terus didengungkan pada era pasca-reformasi yang justru lebih mendengungkan kebencian ketimbang kesentosaan dan welas asih yang hakiki.

Bubi adalah putra Tan Khing Hoo yang tak asing dengan cakrawala musik. Abang-abangnya, Jopie dan Teddy, adalah pemusik keluarga. Bakatnya membuat orangtuanya melepas Bubi berkelana di luar negeri demi beroleh ilmu yang lebih tinggi. Meskipun terlatih dalam disiplin piano klasik yang menempa kualitasnya, jiwa Bubi sesungguhnya adalah jazz. Aliran kebebasan itulah yang membawanya berkenalan dan kemudian belajar langsung dengan salah satu maestro dunia swing bernama Teddy Wilson, salah satu pentolan dari big-band-nya Benny Goodman yang termasyhur itu. Dari sana pengaruh swing mengakar dalam musik sang maestro kelahiran Surabaya itu. Meskipun Bubi kemudian merambah ke sub-aliran jazz lainnya, namun gaya Wilson dan Oscar Peterson mengalir dalam nadinya. Bersama kakaknya, Jopie, Jack Lesmana, Maryono, Kiboud Maulana, Benny Mustapha, Bubi bergabung sebagai Indonesian All Stars dan sempat manggung di Berlin Jazz Festival 1967 menyuguhkan nomor fusion, "Djanger Bali".

Komposisi "Djangger Bali" yang memadukan idiom jazz dan musik pentatonik Bali serta secuplik hentakan rock dapatlah dikatakan sebagai bentuk fusi yang sangat menggejala pada musik jazz periode 1970-1980-an. Masa itu ditandai dengan gerakan begawan jazz AS, Miles Davis, yang membentuk kelompok jazz elektrik pertamanya dan memainkan paduan musik jazz dan rock. Album Davis semacam "Bitches Brew" dan "In A Silent Way" segera menjadi tonggak yang mengglobal dalam hitungan cahaya. Pasca-Davis, bermunculan grup yang dibentuk alumninya, sebut saja Mahavishnu Orchestra dan Weather Report, Return to Forever dan Tony William Lifetime dan berpengaruh jauh hingga ke seberang Samudra Pasifik sampai gaungnya juga mencapai tanah air. Dalam perjalanan waktu, di era 90-an Bubi kerap ber-session dengan Indra Lesmana, putra mendiang sahabatnya, Jack Lesmana. Mereka memainkan karya-karya jazz kontemporer karya Indra yang agak dipengaruhi oleh suguhan Chick Corea Elektric Band dan versi fusion ala Head Hunters-nya Herbie Hancock.

Sepanjang karirnya yang begitu panjang dalam dunia jazz, Bubi yang pada dekade 1950-an sempat membuat album dengan maestro lainnya, Nick Mamahit, terus berkarya hingga akhir hayatnya. Dalam studio rekaman dia telah mencetak puluhan album, bermain bersama Jack, Tony Scott, Jopie dan Teddy, Benny Likumahuwa, Embong Rahardjo, Margie Segers, Grace Simon, Ermy Kulit, hingga generasi berikutnya macam Indra Lesmana, Dwiki Dharmawan dan Syahrani.

Bubi menikah pada 1963 dengan Anne Chiang dan dikaruniai empat anak. Dia memperoleh anugerah satya lencana pengabdian seni 2004 pada masa pemerintahan Megawati dan mendapat anugerah sebagai legenda hidup jazz pada pergelaran Java Jazz perdana, sedangkan gubernur Jatim menimpali Bubi dengan Life Achievement Award karena mengharumkan nama Surabaya sampai ke luar negeri. Anugerah yang disampaikan dalam penyelenggaraan Wismilak the Legend of Jazz, di Surabaya 2010.

Sementara itu tampang sejumlah jazzer asing, macam Bobby McFerrin, Herbie Hancock, Pat Metheny, Erykah Badu, Geroge Duke dan Stevie Wonder kini terpampang di sudut-sudut jalan Jakarta mempromosikan Java Jazz yang bakal dihentakkan kembali di Kemayoran pada awal Maret. Perhelatan jazz bersuasana pop terakbar di tanah air itu, tahun ini bakal menggelinding tanpa kehadiran improvisasi sang maestro, namun biarlah nada-nada yang diciptakannya tetap kekal dalam jiwa siapapun yang mencintai kemerdekaan mencipta. Juga bagi mereka yang menghargai kebebasan sebagai jalan terang bagi imajinasi untuk memperoleh rohnya. Roh yang menjadi jiwa dalam setiap sentuhan Bubi Chen dan berfungsi sebagai simbol kreativitas yang mencerahkan di antara semangat buram yang menjadi ekstrak dari intrik politik praktis kontemporer di Indonesia.

oscar motuloh

Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use