26 Okt 2014 :: Diperbarui 1 jam lalu

8/3/2012 15:6 WIB

16 Besar Liga Champions

Anak Bawang Menantang Matahari

oleh Oscar Motuloh

Belum lagi 24 jam berlalu usai pencinta sepakbola global menikmati drama perlawanan luarbiasa yang diperlihatkan ujung tobak Arsenal Robin Van Persie dkk saat menjamu raksasa Italia AC Milan di kandang mereka Emirates, pelatih Arsene Wenger menyatakan lempar handuk. Meski menang 3-0 dalam laga yang berlangsung tak seimbang itu, Arsenal harus tersingkir sebab pada leg pertama di San Siro, Zlatan Ibrahimovic cs melumat mereka dengan skor mematikan 4-0.

Namun yang terjadi di Emirates adalah pertarungan yang mempertontonkan etos kerja anggota Liga Primer Inggris, bahwa tak ada kemenangan sebelum wasit meniupkan peluit. Sayang sejarah tak jadi tercatat di stadion megah kebanggaan orang-orang London Utara itu. Milan dikejutkan dengan tiga gol indah di babak pertama namun Arsenal gagal menambahnya di babak pamungkas. Bagaimana pun, Arsenal telah menyajikan pada kita hakekat seni pertarungan yang sesungguhnya, sekaligus memberi wajah pada misi yang mustahil.

Baru pada Kamis dinihari, sejarah bisa ditorehkan pada dinding stadion sederhana orang-orang Siprus, Neo GSP, kandang kebanggaan kesebelasan APOEL Nicosia. Seperti pertarungan gagah berani anak-anak Gudang Peluru di Emirates, tim gurem dari pulau paradiso yang hanya dikenal dalam brosur wisata itu ternyata terdiri dari petarung sejati. Ketinggalan agregat satu gol, mereka akhirnya mampu menggusur raksasa Perancis, Lyon, ke dasar bumi melalui adu penalti setelah pertarungan normal berakhir 1-0 menyusul gol cepat Gustavo Manduca pada menit ke-9. Laga dramatis yang melajukan dengan kencang bahtera mereka dari perairan Mediterania ke babak selanjutnya sesuai undian panitia kompetisi paling bergengsi di benua biru Eropa. Meskipun Manduca harus menangis sebab diusir karena akumulasi kartu kuning, namun pahlawan yang sesungguhnya dalam laga mematikan itu adalah Dionisis Chiotis.

Chiotis adalah adalah kiper kelahiran Athena yang memulai karirnya sejak berusia 18 tahun di AEK Athens. Setelah satu dasawarsa dia mengabdi pada tim langganan UEFA itu, dia hijrah ke APOEL. Dalam usianya yang tak lagi muda, Chiotis (34 tahun) sangat berharap bisa merasakan berkiprah di Liga Champions yang bergengsi itu. Dengan ketangguhannya menahan dua penalti, masing-masing dari algojo Alexandre Lacazette (pencetak gol tunggal Lyon di kandang) dan Michel Bastos, maka Chiotis tak sekadar merasakan aroma kompetisi antar klub Eropa prestisus ini, namun juga mampu berlayar ke babak perempat final. Untuk sementara mimpinya terkabulkan. APOEL harus membuktikan diri mereka bukan gurem dalam ujian berikut yang pastinya sungguh berat. Namun, tak ada kata mustahil dalam sepakbola. Kesebelasan nasional Yunani yang lebih gurem ternyata mampu menjadi kaisar Eropa dengan menekuk tim tuan rumah Portugal yang sangat difavoritkan di kandang mereka. Hanya beberapa menit setelah Lyon tersingkir, aksi Chiotis sudah diunggah ke Youtube.

Menurut catatan portal sepakbolanya ESPN, Soccernet.com, Lyon menguasai bola sebanyak 54 persen. Mereka juga melepaskan 22 tembakan ke arah gawang, lima di antaranya mengarah ke gawang dan berhasil diselamatkan Chiotis.

Meskipun sepakbola Mediterania termasuk Turki dan Yunani menerapkan pertahanan sebagai panglima sehingga penampilan mereka terlihat kuno dan monoton, namun sepakbola tak semata-mata keindahannya. Dia adalah altar persembahan jiwa dan juga identitas kota dan negara. Seperti juga yang diperlihatkan imperium Barcelona pada partai lain di waktu yang sama. Dengan Kaisar Lionel Messi, Bayer Leverkusen ditelan bulat-bulat. Setelah ditekuk di kandang lawan 3-1, Barca tetap serius menjamu Leverkusen. Messi mencetak rekor dengan lima gol dan Telo mencetak dua gol. Akhir laga adalah 7-1 sehingga tim Catalan itu meluncur mulus ke perempat final dengan agregat 10-2. Barcelona tak perlu berjibaku seperti APOEL yang untuk pertama kalinya masuk dalam kancah elite dan tercatat sebagai salah satu dari delapan tim terbaik Eropa.

Siprus adalah negeri mini berpenduduk kurang dari sejuta yang tak seteduh perairannya. Pada tahun tujuhpuluhan kawasan ini menjadi area perebutan politik berdasarkan etnik. Di bagian utara hingga sekarang "sangat Turki" dan di selatan "sangat Yunani", masing-masing memiliki pemerintahannya sendiri. Kini kawasan selatan negeri terbelah menjadi bagian Uni Eropa dan menggunakan mata uang Euro yang saat ini tengah terpelanting seperti nasib Lyon dan Leverkusen.

Sejak raja Eropa dipegang oleh Yunani, sepakbola kawasan menjadi demikian hidup dan tampaknya sekaligus menjadi pelipur lara bagi hancurnya sistem ekonomi mereka. Tapi saat sepakbola tampil di altar berumput hijau, umat manusia seperti menemukan oase yang menjadi medium pengungkap ekspresi dan menghargai apresiasi. Sama seperti kegembiraan yang dirasakan penikmat sepakbola saat melihat aksi Chiotis yang berhasil menggagalkan dua penalti Lyon berturut-turut. Kepiawaian pengarah kamera lapangan merekam seluruh atmosfir sejarah itu membuat semua penikmat sepakbola global tiba-tiba hadir di sana dan ikut berangkulan menikmati haru yang membahagiakan itu. Begitulah altar sepakbola tercipta untuk kemanusiaan.

oscar motuloh
penikmat sepakbola

(Foto: Reuters/Andreas Manolis)

1002 x dilihat