21 Des 2014 :: Diperbarui lalu

10/3/2012 19:45 WIB

Liga Eropa

Teater Mimpi (Buruk) MU

oleh Oscar Motuloh

Sejak tersungkur dalam malam final Champions versus Barcelona di Wembley musim lalu, tim Setan Merah Manchester United (MU) perlahan tapi pasti berangsur memudar keangkerannya di kancah Eropa. Bahkan sejak tergelincir dari Champions ke arena kompetisi lapis kedua (Piala Liga Eropa), markas keramat mereka, Old Trafford, seperti ikut-ikutan kehilangan tuah serta tak lagi ditaksir Dewi Fortuna. Kandang keramat bagi lawan yang dikenal sebagai "Theatre of Dreams" itu hanya mempersembahkan kekalahan demi kekalahan di kancah Eropa. Sebelum laga leg pertama dalam kancah Liga Eropa melawan Athletic Bilbao, Jumat dinihari, beberapa pemain MU telah mengkhawatirkan persoalan tuah stadion mereka. Gelandang bertahan Michael Carrick kepada media mengakui, belakangan justru pertarungan kandanglah yang mengkhawatirkan dirinya dan rekan-rekannya.

Apalagi lawan yang mengalahkannya 0-2 adalah Athletic Bilbao yang kini berada di peringkat lima kompetisi terbaik di dunia saat ini, Liga Spanyol. Pada final Champions musim 2007-2008 dengan status juara bertahan, MU meluncur ke final di Stadion Olimpiade Roma, untuk kemudian dilindas 2-0 oleh kampiun Spanyol, Barcelona. Saat MU kembali ke final Champions pada 2010-2011, lagi-lagi mereka ditakdirkan berhadapan kembali dengan Barca, tim tiki-taka yang paling mengerikan di seantero jagad. Saat itu secara psikis MU harus memenangkan laga karena final ini dimainkan di Wembley. Suatu kesempatan langka dan waktu yang tepat untuk sebentuk vendetta. Tapi apa lacur, Barca bermain dalam kondisi terbaik mereka. MU terdikte kembali dan lagi-lagi ditelan dengan 3-1 oleh anak Katalan yang lincah dan cerdas. Musim Champions sekarang MU dan juga musuh bebuyutan mereka, Manchester City, malah lebih tragis nasibnya. Mereka terlempar dari kancah pertarungan kasta tertinggi Eropa. MU dibenamkan oleh klub gurem Basel (Swiss) dan City oleh Napoli.

Athletic Bilbao alias Sang Singa adalah tim elit Spanyol Utara masa silam. Mereka adalah klub tua yang usianya lebih muda dua dekade ketimbang MU (1878). Markas mereka yang bernama San Mames,bBagi masyarakat Basque adalah altar sakral bagi simbol perlawanan demi kemerdekaan mereka dari otonomi kerajaan Spanyol. Meskipun tak baik mengaduk-aduk politik dan sepakbola, namun sah-sah saja memasukkan faktor perlawanan itu sebagai motivasi bagi Athletic Bilbao yang mewakili masyarakat Basque dan setali tiga uang dengan orang Catalonia yang terwakilkan oleh Barcelona. Itu sebabnya kedua tim ini menjadikan Real Madrid, yang notabene merupakan simbol representasi kerajaan Spanyol, sebagai musuh bebuyutan terbesar mereka. Jika Camp Nou adalah markas besar perlawanan orang Catalonia, maka San Mames adalah katedral sepakbola orang-orang Basque.

Disebut Singa karena markas mereka bersebelahan dengan gereja San Mames, tempat pertama kalinya penganut Nasrani Spanyol diumpankan ke singa-singa di era pendudukan Romawi. Mames menjadi Santo karena singa-singa itu tak menyantapnya, bahkan menyentuhnya pun tidak. Begitu hikayat yang diyakini mereka. Bilbao sangat radikal dalam mengembangkan potensi jiwa raga dan merekrut atlet-altlet berdasarkan gen dan garis darah sebagai orang Basque. Paling tidak, atlet yang terlahirkan, tumbuh dan menetap di kawasan mereka yang secara geografis berbatasan dengan Perancis Selatan yang hangat dan impulsif pembawaannya. Pencetak ketiga gol yang membuat Fregie hanya bisa geleng-geleng kepala, Fernando Llorente, Oscar de Marcos dan Iker Muniain, juga kapten mereka Carlos Gurpegui adalah putra daerah Basque.

Hingga wasit dari Jerman Llorian Meyer meniup peluit sebagai penutup laga, di layar raksasa Old Trafford skor tertulis "MU 2-3 Bilbao". Wajah tertunduk dan aroma kekecewaan terasa di stadion berkapasitas 78.811 yang dirancang oleh arsitek Arch Leitch dan diresmikan pada Februari 1910 itu. Old Trafford sempat berantakan setelah dibombardir skuadron udara Nazi pada 22 Desember 1940. Dewasa ini Old Trafford tercatat sebagai stadion kedua terbesar di Inggris setelah Wembley di kota London.

Dan ketika kamera menangkap mimik prihatin salah satu legenda hidup MU, Bobby Charlton, yang menonton di tribun kehormatan, angin dingin menyengat kota Manchester. "Theatre of Dreams" adalah istilah yang pertama kali diucapkan Charlton meski kini "semakin buram mimpinya". Namun siapa bilang MU sudah selesai? Bukankah di Estadio San Mames pada Jumat dinihari depan masih ada kesempatan untuk melangsungkan vendetta walau bagi Fergie dan anak-anak Setan Merah itu semacam misi yang mustahil? Namun demi kehormatan mereka dan juga mengembalikan kesakralan Old Trafford, maka misi lolos dari lubang neraka terpaksa harus diemban. Anak-anak MU bisa mencontoh keperkasaan Arsenal yang nyaris melakukannya saat bertarung mati-matian melawan AC Milan. Sekali berarti, lalu mati, kata Chairil Anwar.

oscar motuloh
kurator GFJA dan penikmat sepakbola

(Foto: Pemain Athletic Bilbao Ander Iturraspe (kiri) dan pemain Manchester United Patrice Evra -- Reuters/Nigel Roddis)

1313 x dilihat