Rivalitas Sepakbola Eropa

Memboyong El Clasico ke Tanah Bavaria

Hanya satu partai dari empat laga perdelapan final Piala Champions yang dimainkan Rabu dan Kamis dinihari (4/4 dan 5/4) kemarin yang sungguh-sungguh dinanti penggila bola dunia dengan sangat antusias dan hati berdebar-debar. Laga maut itu digelar di Nou Camp yang disesaki pendukung tuan rumah Barcelona menantang seteru abadinya, AC Milan, yang bahkan datang ke ibukota Catalonia itu membawa striker berbahaya yang baru sembuh dari cedera, Alexander Pato alias "si bebek". Pertempuran lainnya, Bayern Munich vs Marseille, juga Chelsea vs Benfica apalagi Real Madrid vs APOEL (keduanya dimainkan pada Kamis dinihari) tak lagi diperhitungkan penikmat sepakbola se-dunia. Perdelapan final kali ini memang tak lagi menggairahkan, sebab sejak undian delapan besar diketahui hasilnya, warga sepakbola dunia keburu "memutuskan" bahwa final Liga Champions kali akan memboyong "el clasico" ke Benua Biru, tepatnya ke tanah orang-orang Bavaria, di Jerman. Karena pada 19 Mei nanti di Allianz Arena, Munchen, final Champions 2012 (kemungkinan) akan mempertarungkan antara Barcelona vs Real Madrid, dua himpunan gladiator yang bermusuhan sejak liga Spanyol dibentuk pada 1929.

Di kawasan elit London, tepatnya di Stamford Bridge yang tersohor itu, mimik Roberto Di Matteo seperti menahan eforia yang mestinya dibiarkan meletus sebebas-bebasnya, usai tim asuhannya menekuk kampiun Portugal, Benfica, dengan skor 2-1. Keputusan mantan gelandang Chelsea berkepala plontos itu memasukkan eks pemain Benfica, Raul Meireles, untuk menggantikan Juan Mata pada menit ke-76 akhirnya membawa tuah. Di penghujung waktu tambahan itulah kaki kanan pemain nasional Portugal yang mengoleksi tato di sekujur tubuhnya itu melepaskan tembakan meriam ke pojok atas tiang dekat gawang kiper Benfica yang sia-sia melayang menggapai geledek yang melesat seperti kilat. Pendukung Chelsea berlompatan gembira menyambut jalan ke lorong semifinal yang telah terkuak lebar.

Sambil mengunyah permen karet, Di Matteo hanya tersenyum kecil. Dengan sportif dia menyambangi Jorge Jesus, pelatih Benfica yang masih berang atas kepemimpinan wasit dan menyalaminya. Jesus meradang atas sejumlah keputusan wasit yang dia nilai sembrono. Keputusan wasit mengusir gelandang andalannya, Maxi Perreira, dari "laga hidup-mati" itu memaksa Benfica untuk melayangkan surat protes ke UEFA sehubungan dengan kepemimpinan wasit Damir Skomina (Slovenia) yang mereka nilai berat sebelah.

Di Matteo yang kini berusia 41 tahun memperhatikan keriaan pemain-pemain asuhannya dengan dingin. Pelatih ad-interim ini pantas gundah karena langkahnya untuk minimal menyamai prestasi Avram Grant yang berhasil membawa Chelsea ke final Champions 2009 (namun gagal dalam perang penalti Manchester United), jelas bukan perkara gampang. Di Matteo sadar, mimpinya kemungkinan besar tinggallah mimpi, karena tim yang akan mereka hadapi berikutnya adalah kesebelasan terbaik di atas planet bumi ini, Barcelona, tim impian yang selain ingin mempertahankan juara juga berambisi mencatatkan rekor.

Kegundahan Di Matteo tentulah tak seberat yang dikhawatirkan pelatih flamboyan Jose Mourinho, yang sejak kepemimpinannya di Real Madrid tak pernah mengalahkan Barca dalam laga-laga "el clasico" di La Liga yang menjadi semacam gelar spesial bagi pendukung Real yang tak pernah cocok dengan orang-orang Catalunya yang mendukung Barca, simbol dan maskot perlawanan mereka terhadap kasta Kastilia yang selama ini menjajah Catalunya. Begitu besarnya perseteruan di luar klub itu, membuat Mou, begitu Mourinho disapa, sadar bahwa meskipun dia sekarang mampu membangun tim seperkasa Real Madrid (yang diprediksi sebentar lagi akan merengkuh trofi La Liga karena berhasil meninggalkan Barca dengan jarak poin cukup jauh), tim lawan yang kemungkinan besar dihadapinya di final Champions musim ini adalah Barcelona.

Real Madrid di bawah Mou memang melesat bagai roket. Suburnya trio ujung tombak Ronaldo-Benzema-Higuain adalah bukti kebangkitan mereka. Bayangkan, dari seluruh kompetisi di musim ini, tridente itu membantu pencapaian 105 gol (termasuk lima gol dalam partai penaklukan APOEL kemarin). Padahal rekor klub hanya 107 gol yang dicapai pada masa kepelatihan John Toschack di musim 1988/1989. Itu sebabnya pelatih seambisius Mou tak bisa tidur nyenyak sebelum dia mampu memimpin Real menekuk Barca jika nanti "el clasico" itu benar-benar terjadi.

Sejak Real keok dalam "el clasico" versi Piala Raja 26 Januari lalu, Mou tak lagi pernah antusias di bench untuk menyambut gol demi gol yang dibuat anak-anak asuhannya. Tampaknya persaingannya dengan Pep yang pembawaannya lebih santai itu bakal berlangsung selama karirnya di belantara sepakbola dunia. Paling tidak hingga partai kesumat "el clasico" benar terjadi di markas orang-orang Bavaria medio Mei nanti.

Sebagai pelatih jenial yang mengerti benar bagaimana memanfaatkan pers, Mou pagi-pagi telah melancarkan perang urat syaraf untuk "mengganggu" Pep. Dalam konferensi pers yang digelar usai Real membangunkan anak-anak APOEL dari mimpi mereka dengan skor 5-2 di Santiago Bernabeu, Mou dengan jitu menjawab pertanyaan wartawan yang meminta prediksinya siapa yang akan tampil dalam partai final nanti. "Partai final Liga Champions tahun ini akan mempertandingkan Real Madrid versus Chelsea," kata Mou dengan suara perlahan tapi tegas, dengan mata menatap tajam kepada wartawan yang mencetuskan pertanyaan itu. Ruang dimana konferensi itu digelar langsung hening mendengar ucapan Mou.

Sebelumnya, untuk memanasi Chelsea yang pernah diasuhnya secara gemilang, kepada pers Mou mengatakan bahwa Chelsea tak mungkin masuk final. Mou melihat bahwa Di Matteo adalah pelatih yang tak membawa beban berat seperti Andre Villas Boas yang dipecat pemilik Chelsea Roman Abramovich beberapa waktu lalu. Sebagai pelatih sementara, prinsip nothing to lose mestinya ada dalam prinsip Di Matteo.
Stimulasi Mou pastinya berpengaruh pada Di Matteo yang kalem seperti Pep.

Menghadapi klub sekaliber Barca, jelas dibutuhkan ketenangan yang luarbiasa tinggi, suatu karakter yang bahkan tak muncul pada diri Mou setiap "el clasico" digelar di tanah Iberia sana. Ucapan Mou perihal partai final itu justru memperlihatkan kegentarannya pada anak-anak Catalonia yang selalu punya akal untuk menebas calon kampiun sepakbola Spanyol yang diasuhnya itu. Apalah artinya trofi La Liga di tangan, tapi "el clasico" di ranah Liga Champions juga akan diraih Barcelona? Pep mengejar rekor timnya sebagai juara yang berhasil mempertahankan trofi Liga Champions, sementara Mou sangat berambisi meraih trofi itu demi kejayaan dirinya sebagai pelatih pertama yang menjuarai Liga Champions untuk tiga klub yang berbeda.

Bola itu bundar. Tapi marilah kita singkirkan dulu pemeo itu dan simaklah bagaimana sepakbola Spanyol menguasai penuh Benua Biru tahun ini. Dinihari tadi (6/4), di ajang Liga Eropa, tiga tim Iberia (Athletic Bilbao, Valencia dan Atletico Madrid) ikut-ikutan melaju ke semifinal pula.

oscar motuloh
kurator GFJA dan penikmat sepakbola

Foto: Pep Guardiola dan Jose Mourinho (AFP/Sergei Supinsky-Javier Soriano)

Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use