Resensi Film The Lady

Kasih Tak Sampai ala Besson

Di penghujung film "The Lady" yang berdurasi 135 menit itu, legenda hidup tokoh pro-demokrasi Burma Aung San Suu Kyi yang diperankan aktris internasional Malaysia Michelle Yeoh, perlahan memunculkan wajahnya dari balik pagar berduri di kediamannya yang kelak selama 15 tahun terakhir menjadi penjara yang mengasingkannya secara total dari dunia luar, bahkan termasuk keluarga yang sangat dicintainya. Di luar pembatas rumah di University Avenue yang bahkan tak bernomor itu ribuan biksu Terravada dengan nyaring meneriakkan namanya membahana berulang-ulang. Mereka seakan mohon restu sebelum melakukan unjukrasa besar-besaran di kota Yangon menentang kezaliman penguasa militer yang dipimpin Than Shwe (diperankan secara meyakinkan oleh Agga Poechit). Meskipun masih berstatus tahanan rumah, "Daw" (bunda) Suu Kyi yang menjadi simbol perlawanan terhadap penguasa yang tiran akhirnya diperbolehkan tampil di hadapan rakyat yang dicintainya, walaupun hanya sejenak.

Dalam film kongsi Perancis dan Inggris itu, sutradara Perancis Luc Besson mengamati overview pengarah fotografi Thierry Argobast yang menggerakkan tim cinematografinya di belakang pengunjuk rasa. Kamera bergerak pelan di antara kepalan tangan dan kebasan poster-poster demonstran sebelum akhirnya berhenti di puncak pagar berkawat duri itu. Wajah Daw Suu tulus terlihat menyambut tangan-tangan terkepal itu dengan lambaian elegan seorang bunda kepada anak-anaknya. Suara yel-yel semakin menggelora. Gerak lambat memperlihatkan Daw Suu melepaskan untaian melati di tangannya yang dihamburkannya ke arah demonstran yang semakin bersemangat. Senyum Aung San Suu Skyi yang memenuhi layar perlahan meredup. Layar fade-out dan berubah hitam pekat. Pelan-pelan terketik blok putih bertuliskan "Aung San Suu Kyi akhirnya menghirup kebebasannya pada 13 November 2010, untuk bersama-sama rakyat Burma membangun demokrasi yang tertunda di tanah airnya".

Saat film ini dirilis untuk pertama kalinya di Toronto Film Festival pada 12 September 2011, Suu Kyi menggelar jumpa pers di rumahnya di Yangon. Bersama partainya, Liga Nasional untuk Demokrasi, dia mengatakan akan terus memperjuangkan tegaknya demokrasi dan pembebasan tahanan politik yang jumlahnya mencapai 2000-an jiwa. Dari rumah itu pula Luc Besson memfokuskan kisah cinta Suu Kyi dengan pakar Tibet dari Oxford, Michael Aris (David Thewlis), ayah dari kedua putra buah hatinya (Alex diperankan Jonathan Woodhouse dan Kim oleh Jonathan Raggett). Di rumah "demokrasi" Burma ini, sentral dari seluruh pergerakan cinta dan politik film The Lady digarap Besson, sebelum dibiarkannya mengalir sampai jauh. Dari Danau Inya, hingga jauh ke lubuk hati pendukung demokrasi di samudra manapun mereka berada.

Mengingat isolasi luar biasa yang dilakukan panglima junta militer Than Shwe, maka tim produksi Besson dilarang keras mengambil gambar di tanah Burma. Akibatnya, Besson harus membangun rumah dengan detail skala 1:1 seperti rumah asli keluarga Suu Kyi di Yangon. Lengkap dengan pemandangan danau dan memperhitungkan posisi fajar menyingsing atau matahari terbenam sekalian. Untuk mendukung keaslian interiornya, Besson merancang rumah itu berdasarkan 200 helai foto dokumentasi milik keluarga Suu Kyi. Untuk lingkungan rumah dan detail eksteriornya, Besson menggunakan jasa foto satelit internet. Meskipun sempat mencuri beberapa footage suasana jalanan di Yangon, Besson tetap perlu menambahkan sejumlah adegan dari berita-berita televisi. Pengambilan gambar seluruh film dilakukan di Thailand (dekat perbatasan dengan Myanmar) dan London, tempat keseharian Michael Aris melakukan aktivitas.

Dari setting kursi malas keluarga yang terletak di tepi danau Inya, Besson mengawali filmnya dengan kehidupan keseharian keluarga Aung San, jenderal muda brilian yang bersama pemimpin nasionalis Burma, U Nu, tengah meretas kemerdekaan negeri itu dari kolonial Inggris. Di layar diperlihatkan bagaimana keluarga muda itu begitu mencintai anak-anaknya, termasuk Suu Kyi yang tengah bersantai di kursi malas itu. Sebelum beranjak kerja sang jenderal menghampiri Suu yang baru berusia dua tahun, memeluknya erat, mencium dahi dan menyematkan sekuntum bunga melati di telinga mungilnya.

Hari itu tanggal 17 Juli 1947. Komplotan sempalan militer yang tak sepaham dengan jenderal Aung San berhasil menyusup ke ruang rapat militer tempat sang jenderal menggelar rapat strategis untuk mempersiapkan perundingan kemerdekaan dengan pihak penjajah. Sekonyong-konyong pintu ruang didobrak. Jenderal Aung San berdiri dan sadar terhadap kondisi darurat itu. Dia berjalan menghampiri moncong pistol komandan pemberontak. Gambar bergerak perlahan. Mata sang jenderal terpejam, seakan menyambut moksa yang datang bersama suara pelatuk. Usianya saat itu baru 32 tahun. Seluruh pejabat dalam ruangan itu dibantai dengan keji.

Scene pembunuhan Aung San berlangsung dalam gaya orisinal Luc Besson yang notabene adalah sutradara film aksi papan atas Perancis yang berpengaruh. Adegan itu setara dengan penggalan penting dalam film Nikita (1990), Leon (1994), 5th Element (1997) dan Joan of Arc (1999) yang disutradarai Besson. Namun romansa sejati antara Suu dan Mikey (sapaan Suu pada suaminya), terasa hambar di tengah keberhasilan Besson mengungkap karakter baja Suu, yang sesungguhnya adalah seorang ibu yang penuh cinta seperti kebiasaannya menyematkan sekuntum melati setiap hari di kupingnya yang kini banyak menampung aspirasi rakyatnya. Sekuntum bunga yang pertama disematkan sang ayah adalah perekat yang mengalahkan kisah kasih dua sejoli yang mengalami ujian percintaan yang luar biasa berat. Besson (melalui dua kru andalannya, Stephane Robert yang menangani tata rias dan Sarah Marks yang menata rambut) berhasil melakukan tugasnya, namun akting Yeoh belum berada pada puncaknya. Tentu tak sepadan membandingkannya dengan langganan Oscar, Meryl Streep, yang meraih Academy Award 2012 lewat perannya sebagai Margaret Thatcher dalam film "Iron Lady" (produksi Inggris dengan sutradara Phyllida Lloyd) yang belum lama beredar sebelumnya.

Film ini didasarkan pada skenario Rebecca Frayn, penulis yang sempat mewawancarai Daw Suu dalam periode tiga tahun sejak awal 1990. Frayn kemudian berembuk dengan suaminya, produser Andy Harries ("The Queen" dan "Damned United") yang spontan menyetujui untuk membantu produksi. Michelle Yeoh ada di dalam benak mereka untuk memainkan peran sebagai Daw Suu yang sesungguhnya. Yeoh lalu minta pasangannya Jean Todt, tokoh otomotif internasional untuk juga ikhlas membantu film "tribute to Suu Kyi" tersebut. Todt merekomendasikan nama sahabatnya, Luc Besson, dan segera tercapai kesepakatan kerja. Europa Corp dan Left Bank Pictures lalu secara bersama memproduksi "The Lady".

Demi menyelami peran Suu sedalamnya, Yeoh melakukan riset. Dia juga melakukan diet untuk mendekati Suu secara fisik. Namun ungkapan karakter Suu, terutama yang terungkap dari mata yang menyiratkan keberanian, kekerasan hati, dan determinasi, tak sepenuhnya tersentuh oleh fisik Yeoh yang sudah terlanjur cantik secara lahiriah.

Salah satu adegan penting Besson berkaitan dengan karakter itu. Sejak kedatangannya di Yangon pada 1988 untuk merawat Daw Khin Nyi, ibunya yang sakit keras, Suu melihat kekerasan demi kekerasan oleh matanya sendiri. Motivasi untuk melindungi rakyat yang tak berdosa membuatnya terlibat secara politis dalam belantara politik di Burma. Latar belakang kuliahnya membantunya bersikap melawan tirani militer yang memerintah negerinya. Popularitasnya semakin meroket setelah dengan berani Suu berjalan menantang barikade senapan otomatis yang mengarahkan senjata mereka pada dirinya dan para pengikutnya. Begitu dia berhadapan dengan komandan pasukan yang mengarahkan moncong pistolnya yang memulai hitungan, maka kita dibawa kepada adegan sang ayah saat mendekati kematiannya. Score musik yang diisi Eric Serra dibiarkan hening, ketika gerak lambat hitungan memasuki angka dua. Sama seperti sang jenderal, Suu juga memejamkan mata membiarkan moksa menjemputnya. Namun takdir menolaknya. Menjelang hitungan ketiga, tembakan mematikan dibatalkan atas perintah dari Than Shwe yang tak ingin namanya makin tercoreng.

Citra yang dilakukan Besson atas scene itu dikritisi oleh sejarawan Alex Von Tunzelman pada harian Guardian. Dia menyatakan bahwa saat penyergapan berlangsung, jenderal Aung San berada dalam posisi duduk dan ditembak dalam posisi itu sehingga tewas seketika karena ada 13 peluru yang terbenam di tubuhnya yang atletis.

Begitulah plot yang dibangun Besson, semua dibawanya ke dalam rumah yang dibangunnya dengan sempurna. Namun tak ada kisah cinta yang menjalar dengan dramatis seperti dalam "Nikita", "Leon" dan bahkan "Joan D’Arc". "The Lady" belum memperoleh standar itu, meskipun Yeoh dan Thewlis mencoba memuncaki romansa sejati mereka dengan sakratul maut yang terhubungkan jaringan telepon yang dibatasi militer. Kematian Mikey tepat pada ulangtahunnya yang ke 53, 27 Maret 1999, karena kanker prostat tak mencapai puncak tragedinya. Padahal saat itu, sebagai istri yang sangat mencintai keluarganya, Suu harus memilih: mendampingi suaminya yang sekarat di Inggris atau tak lagi diperkenankan kembali ke Yangon. Sejarah mencatat, Suu memilih tinggal dan memendam derita rasa di hatinya. Skenario sepahit itulah yang membuat dirinya semakin tegar menghadapi moncong-moncong senjata terbuas manapun yang diarahkan padanya.

Meskipun demikian, "The Lady" berhasil menjadi agen perdamaian bagi demokrasi. Kita seolah mendapat hikmah dari kisah sejati seorang anak manusia yang bernyali baja dan mempunyai hati, integritas dan cinta. Meski tak lagi didampingi Mikey, namun darah daging pasangan itu hadir bersama rakyat Burma untuk menegakkan demokrasi yang sempat roboh oleh tirani durhaka yang sesungguhnya fana. Film ini juga seolah menyapa kita untuk menggunakan karakter keberagaman kita sebagai kekuatan bangsa. Setelah akhirnya Suu dibebaskan pada November 2010 dan partainya memenangkan pemilu sela, maka dia segera mengkampanyekan rekonsiliasi bangsanya untuk mendahulukan negeri ketimbang etnik yang melekat dalam darah rakyatnya.

Jalan Suu masih panjang, tapi sejauh ini dia telah membuktikan ketegaran karakternya dengan eksplisit. Mampukan dia bertahan seperti Nelson Mandela atau Kim Dae-Jung yang fenomenal dalam kepemimpinan dunia modern kita yang sesungguhnya? Biarlah demokrasi yang menjawabnya nanti.

oscar motuloh

Foto: Aung San Suu Kyi saat berorasi di hadapan pendukungnya di Sagaing, Myanmar (ANTARA/Reuters/Soe Zeya Tun)


Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use