Semifinal Liga Champions

Sang Underdog Menggapai Asa

Sepakbola kembali melahirkan kejutannya di Stamford Bridge, London, Kamis dinihari, dalam laga semifinal yang mempertemukan Chelsea vs Barcelona. Waktu tinggal menyisakan beberapa detik lagi menuju jeda. Bola liar baru saja meluncur dari kerumunan anak-anak Catalan yang mengurung habis pertahanan The Blues. Playmaker senior Chelsea, Frank Lampard, mendadak menguasai bola tadi dan segera melepaskan umpan panjang terarah pada Ramires yang melesat di sayap kanan Barca. Dengan cerdik dia menggiring bola ke mulut gawang Victor Valdez. Di tengah, Didier Drogba berlari mengikuti suara hatinya melaju ke kotak penalti yang dijaga Carles Puyol. Seperti terukur, bola dilepas Ramires mencapai naluri Drogba, striker Chelsea yang bertubuh tinggi besar itu. Meski Puyol berusaha mengejar, tembakan terarah Drogba tak tertahan menggetarkan jala di tiang dekat Valdez.

Stamford Bridge seperti meledak saat Drogba meluncurkan tubuh dengan lututnya sambil menghormat bendera di tiang pojok. Gol spektakular ujung tombak asal Pantai Gading yang lama terbenam khasiatnya itu akhirnya melesatkannya lagi menggapai langit. Belum lagi pemain Barca menyadari apa yang terjadi, wasit Felix Brych meniup peluit panjang tanda usainya babak pertama.

Seperti tak memperlihatkan tanda-tanda kelelahan usai dengan gemilang menggunduli Tottenham Hotspur 5-1 di semifinal Piala FA beberapa hari lalu, anak-anak Chelsea seperti menemukan kembali gaya permainan mereka yang hilang semenjak ditangani pelatih muda Andre Villas-Boas (AVB). Dengan racikan yang tepat, pelatih sementara Roberto Di Matteo sengaja menempatkan lima gelandang untuk meredam tiki-taka Barca yang amat mematikan itu. Sehebat-hebatnya tiki-taka berdendang mengikuti irama, sekali waktu ada celah juga untuk mengelindingkannya jatuh terjerembab.

"Mesti ada cara untuk meredam mereka dan saya mengerti bagaimana menghentikan mereka," ucap Di Matteo mengomentari calon lawannya di altar sepakbola paling bergengsi di Benua Biru. Di Matteo mengucapkannya dengan santun tapi santai, seperti kebiasaannya selama sang pemilik klub mempercayainya hingga akhir musim. Selain menekankan disiplin tinggi agar pemainnya tak berlama-lama memegang bola, kunci sukses Di Matteo adalah memberi kepercayaan kembali kepada pemain-pemain gaek yang semula diparkir oleh AVB. Kepercayaan itu terbukti berbuah manis. Peter Cech, Ashley Cole, John Terry, Frank Lampard, Jon Obi Mikel, Didier Drogba, telah memperlihatkan siapa mereka. Atas kejelian Di Matteo, mutiara-mutiara itu bersinar kembali dari keburamannya.

Saat babak kedua bergulir, kepercayaan diri pasukan biru makin bertambah. Konsentrasi penuh di lapangan tengah yang dikomandani Lampard membuat serangan balik The Blues menyerikan Puyol dan kawan-kawan. Meski Barca tetap mendominasi penguasaan bola, kepaduan barisan belakang Chelsea patut diacungi dua jempol. Absennya bek serang David Luiz yang cedera sama sekali tak berpengaruh pada skema permainan yang dirancang Di Matteo. Gary Cahill justru menjadi kunci kekuatan lini belakang Chelsea, apalagi Cech bermain dengan sangat cemerlang. Kali ini Chelsea memang agak dimanja Dewi Fortuna yang melihat
peluang-peluang emas Barca bertumbuk dalam keranjang kegagalan. Alexis Sanchez, Lionel Messi, Cesc Fabregas, Xavi Hernandez, dan terakhir Sergio Busquets yang gagal memanfaatkan bola pantul pada menit ke-93. Akhirnya Barca takluk juga oleh satu-satunya wakil Inggris yang tersisa dan kurang diperhitungkan itu.

Kekalahan beruntun dua super favorit juara Liga Champions, Real Madrid dan sekarang Barca, membuat penggila bola global harus siap menyaksikan final yang justru tak menampilkan "El Clasico" di Muenchen medio bulan depan. Masih ada 2 x 45 menit yang amat menentukan bagi kedua tim pada leg ke-2 pekan depan. Meski Pep Guardiola masih terlihat santai di penghujung partai, namun dia harus membereskan dulu PR-nya akhir pekan ini: menantang Real dalam ajang Liga Spanyol di Camp Nou, sebelum bersua lagi dengan Chelsea di tempat yang sama. Pep dan Jose Mourinho tentu sangat kecewa dengan kekalahan tim mereka di Champions, karena kedua coach terbaik di dunia itu harus memeras otak menjelang laga "El Clasico" yang sebenarnya untuk menentukan siapa yang terbaik di ranah Spanyol.

Sehari sebelumnya, Mou juga terlihat terpukul saat striker tajam Bayern Muenchen, Mario Gomes, akhirnya berhasil mencocor bola ke gawang Iker Casillas untuk memastikan kemenangan dengan skor 2-1 tepat di penghujung babak kedua. Pada pers usai laga, Mou tetap memperlihatkan keyakinnya pada kemampuan Real, "kami akan kembali ke Munchen untuk memainkan partai final," katanya dengan penuh percaya diri. Dengan kondisi terbaru ini, Real dan Barca harus meraih harkatnya kembali saat leg ke-2 dimainkan. Kita paham, itu bukan kerjaan yang mudah lagi bagi kedua tim untuk menekuk dua underdog yang telah beroleh moral dan spirit bertarungnya kembali.

Sepakbola adalah tindak apresiasi dan sportivitas. Namun karena ketatnya persaingan dalam industri ini maka urusan PR dan perang urat syaraf yang biasanya dikuasai figur macam Mou dan Villas-Boas, akan terhembus angin kencang pers yang gaduh. Sebelum laga Chelsea vs Barca dimulai, kursi panas pelatih Chelsea sudah dikompori gosip yang menyebutkan bahwa hanya Pep dan Mou yang pantas mengisinya. Untung Di Matteo "cuek-beibeh" saja. Namun Pep yang gerah terpaksa meresponnya dengan menyebut bahwa gosip itu cuma fantasi belaka. Pada ESPNSoccernet Pep mengatakan bahwa dia sekarang adalah pelatih Barcelona dan Chelsea telah memiliki "manajer yang sangat sangat baik" (Di Matteo) yang sejauh ini telah memperlihatkan kemampuan dirinya. Jadi tak ada gunanya bagi Chelsea dan Barca untuk membicarakannya. Tak tersisa waktu untuk membahasnya, kata Pep lagi.

Sebelum final Liga Champions dipentaskan sebulan ke depan, pekan-pekan ini adalah teater penentuan bagi persaingan para gladiator terbaik di Eropa. Jika kemarin Gomez berjaya, maka dinihari tadi adalah malamnya Drogba, yang bersama sejawatnya berhasil menyerap skema Di Matteo ke atmosfir laga di Stamford Bridge. Saat Di Matteo tetap kalem dan tim Chelsea meluapkan kegembiraan mereka bersama gemuruh penonton yang membahana, di tribun kehormatan Roman Abramovich, sang bos besar, terlihat sumringah dan sangat gembira. Mungkin dia telah menemukan pilihannya untuk mengisi posisi yang ditinggalkan AVB. Ngapain juga harus mempertimbangkan kembali Guus Hiddink, Mou ataupun Pep, jika figur semacam Di Matteo justru menjadi pilihan yang tepat?

"Kami berhasil mengalahkan Barca malam ini, kami akan mempertahankan posisi ini nanti di markas mereka, dan saya akan menambah satu gol lainnya untuk memastikan tiket ke final," kata Drogba usai laga yang spektakular itu.

oscar motuloh
kurator GFJA dan penikmat sepakbola

Foto: Didier Drogba saat merayakan golnya ke gawang Barcelona (Antara/Reuters/Eddie Keogh)

Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use