Semifinal Liga Champions

Jalan Menuju Keledai

Wajah kapten tim Chelsea John Terry yang mengenakan kostum latihan hitam dengan tiga garis oranye membelah bahu terlihat cerah saat berjalan santai diiringi beberapa rekannya menuju undakan tangga depan bus besar yang akan mengangkut 25 pemain, kru dan pelatih Roberto Di Matteo untuk segera terbang ke Barcelona menantang anak-anak "Blaugrana" di markas mereka, Camp Nou, demi selembar tiket menuju final Liga Champions 2012 pada Rabu dinihari nanti. Dalam shot pendek yang disiarkan ChelseaTV, Senin malam, terlihat juga Fernando Torres, ujung tombak yang belum juga menemukan bentuk terbaiknya, berjalan tertunduk dari arah berlawanan. Di belakangnya tampak bek serang asal Brasil David Luiz yang melangkah memasuki bus besar abu-abu beroda sepuluh yang akan segera membawa mereka ke bandara.

Beberapa jam belakangan, sebelum laga "Blaugrana vs the Blues" yang bakal berlangsung panas itu, kabar keberadaan kedua tim saling-silang mengisi media-media di seluruh dunia. Mantan kiper Manchester United Edwin Van Der Sar dan mantan kapten Barca Ronald Koeman mencela cara bermain Chelsea yang superdefensif dan mengharapkan Barcelona tampil di final. Kita tahu, tepat sepekan silam, setelah tembakan spektakuler Didier Drogba menjebol gawang Victor Valdez beberapa detik sebelum babak pertama berakhir di leg pertama semifinal, maka sisa permainan di babak kedua pastilah sama sekali tak lagi menarik karena Di Matteo memang mengunci pertahanan The Blues sedisiplin mungkin. Yang jelas taktik Di Matteo untuk mematikan Barca dipuji Arsene Wenger yang justru yakin Chelsea bakal merebut satu tiket ke final.

Pro-kontra cara Chelsea menghadapi Barca yang notabene adalah klub sepakbola terbaik di planet bumi ini sesungguhnya juga dilanjutkan Jose Mourinho, pelatih kontrovesial Real Madrid, saat bertandang ke Camp Nou untuk mengganggu tim Katalunya itu masuk ke dalam perangkapnya. Taktik Mou untuk meredam Barca, tak jauh berbeda dengan caranya melibas tim yang mempunyai motto "bukan sekadar klub" (és més que un club) itu saat dia menukangi Inter Milan pada perempat final Liga Champions 2011 dimana akhirnya Mou berhasil mempersembahkan trofi yang sangat didamba pemilik Inter Massimo Moratti sebelum hengkang ke Real untuk mengejar ambisi pribadinya menjadi pelatih pertama yang menjuarai Liga Champions di tiga klub yang berbeda.

Saat Barca masih ditukangi Frank Rijkaard pun, Mou yang kala itu masih memimpin Chelsea, berhasil menaklukkannya di semifinal Liga Champions (unggul dalam agregat gol). Seluruh pertarungan dimana tim Blaugrana mengalami kekalahan adalah karena mereka berhadapan dengan tim-tim yang mendadak menjadi penganut sepakbola superdefensif. Sejak Rinus Michels dan Johann Cruijff menangani tim kebanggaan orang Katalunya pada periode 70-an sampai 80-an itu, maka pola menyerang 4-3-3 sudah menjadi semacam merk dagang bagi klub yang didirikan pada 1899 itu. Mereka bermain tak sekadar demi kemenangan karena permainan indah yang ofensif juga tak kalah pentingnya. Barca adalah tim pemuja permainan indah sehingga pertarungan mereka selalu mirip pertunjukan sirkus yang menghibur.

Dalam jumpa pers usai kekalahan menyakitkan dari tim tamu Real Madrid dalam el clasico yang digelar di kandang Barca, Minggu dinihari kemarin, Pep terlihat santai saja. Dia hanya mengemukakan bahwa mungkin dia melakukan kesalahan dengan menurunkan Cristian Tello, bukannya Cesc Fabregas di sayap kiri, dan lebih percaya Thiago Alcantara ketimbang Gerard Pique di pertahanan tengah. Namun kata Pep lagi, yang penting mereka telah melakukan kewajiban dengan memainkan pola klasik menyerang bertubi-tubi, meskipun Barca mendominasi penguasaan bola (72 persen vs Real yang hanya kebagian 28 persen), lawan berhasil mencuri gol. Pep juga memberi selamat kepada Real karena berhasil memenangi el clasico yang artinya telah meraih juara Primera periode 2011-2012, meskipun masih ada empat laga lagi yang harus dimainkan.

Meskipun kalah, Pep mengaku senang dapat menurunkan pemain-pemain muda dalam laga sepenting el clasico kemarin. Skuad Barca saat ini didominasi rekrutan akademi sepakbola mereka yang legendaris, ‘La Masia’. Dengan masuknya darah muda macam Tello dan Cuenca, maka pada leg kedua semifinal liga paling bergengsi di Eropa itu akan mempertaruhkan tak semata motivasi yang tinggi usai dipecundangi Real, tapi juga ajang pembuktian bahwa sepakbola indah belum mati. Anak-anak La Masia akan berhadapan dengan tim senior London yang ditaburi bintang-bintang tua yang bergabung ke Chelsea lebih karena materi yang digelontorkan Roman Abramovich yang sangat mendamba trofi kebanggaan klub-klub elite Eropa itu.

Sejak melatih Barca, Pep memiliki rekor baik dalam perjalanannya melawan klub-klub Inggris. Kekalahan 0-1 dari Chelsea pada leg pertama sepekan silam adalah kekalahan keduanya dari sembilan laga versus klub Inggris. Selagi masih aktif bermain, Pep cuma kalah satu kali dalam delapan pertemuan melawan klub-klub Liga Primer Inggris. Sementara itu, anak emas Barca, Lionel Messi, yang dijuluki "si Kutu", mati kutu di leg pertama melawan Chelsea dan lebih mati kutu lagi dalam laga "El Clasico" kemarin. Messi memang kesulitan mencetak gol melawan tim Inggris, meskipun striker mungil ini telah mencetak rekor gol baru di Liga Champions yakni dengan menyarangkan 14 gol dalam satu musim saja. Dari 16 pertemuan, Messi hanya mampu mencetak gol ke gawang Manchester United di final Liga Champions 2009 dan ke gawang Arsenal di perempatfinal Liga Champions 2010.

Laga semifinal nanti bakal memusingkan Di Matteo, karena dia harus meneruskan permainan supercattenaccio seperti yang diperlihatkannya di Stamford Bridge atau bermain dengan gagah berani seperti singa-nya Earl Cadogan yang tertera dengan perkasa dalam logo di dada seluruh pemain kesebelasan Chelsea. Di Matteo berpotensi akan meneruskan legacy dari pelatih sementara sebelumnya, Avram Grant yang berhasil membawa Chelsea ke final Liga Champions menantang musuh bebuyutannya, Manchester United, sebelum takluk dalam adu penalti yang menyakitkan. Bagi Di Matteo, partai penting ini adalah jalan menuju tampuk tetap pelatih Chelsea, meskipun beredar isu bahwa mantan bek Perancis Laurent Blanc yang pernah bermain untuk Chelsea tengah dipinang Roman untuk menggantikannya, bahkan jika Chelsea berhasil memenangkan trofi Champions sekalipun. Tapi siapa nyana, mungkin isu itu untuk memotivasi Di Matteo yang cool itu, karena tak hanya pemain yang butuh determinasi kala bertarung dalam laga sepenting ini.

Sementara di kubu Barca, anak-anak Blaugrana tetap penasaran dengan kekalahan mereka di partai klasik kemarin. Mampukah Pep mengalihkan energi kemarahan itu untuk melecut generasi La Masia yang bakal menjadi tulang punggung ofensivitas Blaugrana Rabu dinihari nanti? Pep sendiri akan mempertaruhkan reputasinya sebagai pelatih terbaik 2012 pilihan FIFA. Jika Pep tetap ngotot mempertahankan pola menyerang 4-3-3 nya itu, dan tetap kalah karena Chelsea bisa saja menahan mereka seri, atau malah mencetak gol tandang sehingga Barca harus mengoleksi keunggulan sampai selisih dua gol, maka Pep tak lagi tercatat sebagai pelatih jenial, karena hanya keledai yang mau terperosok dua kali dalam lubang yang sama. Di Matteo tetaplah pelatih yang pantas dihormati meskipun dia baru memimpin empat pertandingan Champions sejak menggantikan AVB "si Mou kecil", yang belum setahun di Chelsea telah didepak Roman. Kemampuannya memadu tim sesolid sekarang adalah kunci sukses Di Matteo untuk mecekoki taktik apapun untuk dimainkan Frank Lampard dan kawan-kawannya yang sangat matang itu.

Mengingat kerennya permainan Gary Cahill di leg pertama, maka posisi pertahanan tampaknya tak akan diubah oleh Di Matteo. Mungkin untuk mengalirkan serangan apabila diperlukan, pelatih plontos yang tenang itu bakal memasukkan Michel Essien yang akan berfungsi seperti Xabi Alonso di Real atau Sergio Busquets di Barca. Di depan, Di Matteo pasti tetap memasang Drogba sebagai starter dan menyiapkan Fernando Torres yang masih "memble" untuk melapisnya di bench. Soal taktik Di Matteo tak usah terlalu khwatir karena pola ofensif Barca hanya dua, 4-3-3 atau 3-4-3. Dengan pelajaran pahit yang dipetik anak-anak Barca dalam selang waktu belum sampai sepekan, maka Di Matteo harus berani mengambil risiko dengan melakukan perubahan taktik. Jika Di Matteo masih nekad memainkan pola seperti di London, maka "telepathy football" yang dimainkan anak-anak Barca akan menelan Chelsea bulat-bulat. Gol "telepati" ala kerjasama Lampard-Ramires-Drogba versus Barca, hanya akan terjadi satu kali seumur hidup mereka sebagai atlet sepakbola. Atau musim depan kita akan melihat Barca dilatih oleh Pep yang tak bisa lagi disebut Pep karena dia telah terperosok dua kali ke dalam lubang yang sama.

oscar motuloh
kurator GFJA

Foto: Pep Guardiola (Antara/Reuters/Gustau Nacarino)


Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use