Barcelona Pasca Pep

Tiki "Tito" Taka

Laga semifinal Liga Champions di Camp Nou tengah memasuki masa kritisnya pada kedudukan 2-1 di penghujung babak kedua. Saat serangan Barca merasuk dari berbagai arah karena mereka butuh satu gol lagi, pelatih interim Chelsea, Roberto Di Matteo, menarik Juan Mata lalu memasukkan ujung tombak Fernando Torres. Di bench, Pep didampingi asisten setianya Tito Villanova, berupaya meredakan ketegangan yang semakin menghimpit mereka. Pep meremas-remas kedua tangannya, mimiknya terlihat begitu gelisah. Sesekali dia melirik jam raksasa stadion, padahal di tangan kirinya terikat arloji yang sehari-hari menemaninya. Waktu terus berdetak maju, namun setiap detiknya serasa sembilu yang milimeter demi milimeter mulai menusuk masuk ke ulu hati. Agar lebih leluasa Pep lalu berdiri melepas blazer hitamnya - yang selalu tampak kekecilan bagi tubuhnya - meletakkannya di sandaran kursi, lalu dengan pullover kelabu melapisi kemeja putih yang dipakainya, dia berteriak-teriak menyemangati timnya. Lalu tibalah detik mematikan itu, saat Torres tiba-tiba berlari menggiring bola, bak bayangan yang terbebaskan oleh cahaya. Sendirian dia melampaui hadangan Victor Valdes. Tamat sudah perjuangan Los Azulgrana menggapai cita.

Dengan busana kekalahannya itulah, pada Jumat yang paling mengharukan dalam sejarah sukacita klub yang dibangun dengan motto "bukan sekadar klub" itu, Pep menghadiri konferensi pers yang menjadi ujung perjalanan karir luarbiasanya di Barcelona. Wajah Pep meskipun kali ini tampak lebih tabah ketimbang raut kekecewaan yang dalam saat gol Torres tadi, dia tak kuasa menahan haru. Matanya tampak berkaca, begitu juga dengan presiden Barca Sandro Rosell yang duduk di sebelahnya dan sebentar lagi terpaksa harus mengumumkan pengunduran diri pelatih terbesar Barca itu secara resmi begitu kontraknya berakhir pada 30 Juni nanti. Rosell dan direktur teknik Andoni Zubizaretta gagal membujuk Pep untuk tetap tinggal. "Tak ada pelatih sesukses Guardiola sejak klub ini didirikan pada 1899, dia telah membawa Barcelona meraih 13 trofi dari 16 kompetisi," kata Rosell di hadapan wartawan siang itu di Camp Nou.

Ksatria Katalunya kelahiran Santpedor ini telah menorehkan sejarah platina atas pencapaian rekor yang diraihnya selama ini. Bayangkan, 13 trofi itu termasuk supremasi pencapaian klub di liga domestik (3 trofi beruntun), Liga Champions (2), Super Cup Eropa (2) dan Piala Dunia Antar Klub (2). Rasanya sulit bagi pelatih manapun, termasuk rival abadinya Jose Mourinho, untuk mengejar rekor yang ditorehkan Pep di klub yang amat dicintainya.

"Keputusan tentang kepastian kepergian saya adalah jalan terbaik bagi kepentingan Barcelona sebagai klub untuk lebih berkembang lagi di masa depan," begitu ucapan Pep yang telah memilih jalan hidupnya. Sebagai pria biasa, dia juga membutuhkan istirahat dari tekanan yang luarbiasa berat selama perjalanannya mencapai posisi setinggi ini. Sekarang saat yang tepat bagi Pep untuk menghimpun kembali kekuatannya dari semangat keluarga yang mencintainya. Jadwal yang amat padat bagi klub sebesar Barca pastilah membuat Pep kehilangan banyak waktu untuk berkumpul bersama tiga anaknya -- Maria, Marius dan Valentina -- yang tentu membutuhkan figurnya sebagai ayah, bukan yang lain.

Sepakbola telah mampir di hati Pep sejak masa kanak-kanaknya. Kemasyuran Barca termasuk yang memincutnya. Pep kecil pernah bekerja sebagai pemungut bola saat tim Katalunya itu berlatih. Dari sana dia meresapkan ambisinya, Pep lalu diterima menjadi remaja "La Masia" di akademi kaderirasi Barca itu. Di situlah Pep berkenalan dengan Tito Vilanova, dan dua remaja Katalunya ini kemudian menjalin persahabatan sejati hingga Pep mengajaknya bergabung sebagai asisten pelatih yang kemudian juga berperan dalam pencapaian Barca di era Pep yang cemerlang. Sebagai pemain, apalagi pelatih, nasib Tito tidaklah secemerlang dan semulus jalan Pep. Tito hanya sempat berkiprah 26 partai saja di La Liga. Selanjutnya dia terjerembab bermain di Segunda Division alias kasta kedua liga Spanyol. Tito dilahirkan di Bellcaire d'Emporda, usianya setahun lebih tua dari Pep. Meskipun demikian, siapa Tito, tampaknya hanya Pep yang paham. Mou hanya meledeknya ketika ditanya perihal Tito oleh pers sebelum laga "el clasico" digelar di Camp Nou. "Pito? Pito Vilanova? Siapa Pito Vilanova? Ngga kenal tuh," ujar Mou dengan ketus.

Isu kepergian Pep sebenarnya sudah dua tahun ini beterbangan bersama angin di sekitar hidung pers Spanyol. Sesungguhnya indikasi itu makin terasa saat Pep menyampaikan sambutan di atas podium penganugerahan dirinya sebagai pelatih terbaik dunia versi FIFA, "Trofi ini saya persembahkan untuk Tito Vilanova yang setia bersama saya untuk membantu Barca memperoleh satu demi satu mimpi yang ingin mereka wujudkan". Sesaat satelah Rosell melepas Pep, sang presiden mengumumkan Francesc "Tito" Vilanova sebagai sang penerus. Hilang sudah nama-nama yang beredar sebagai kandidat pengganti Pep sebelum ini, katakan Marcelo Bielsa, pelatih kawakan asal Argentina yang berhasil memoles Athletic Bilbao menjadi tim yang menakutkan seperti sekarang, Laurent Blanc, mantan bek dan kapten Prancis, dan Luiz Enrique, anak Katalunya mantan striker Barca yang saat ini melatih AS Roma.

Sesuai kontrak, Pep masih bersama anak-anak Barca sampai empat laga La Liga ke depan, plus satu final Copa de Rey yang akan digelar di stadion Vicente Calderon di Madrid 25 Mei mendatang. Di sisa-sisa keberadaan Pep di Camp Nou, Tito akan mendapatkan alih kemudi dari sahabatnya itu secara formal. Kondisi Tito mirip dengan Di Matteo yang ditunjuk menjadi pelatih interim Chelsea saat AVB mendadak harus cabut gara-gara Roman Abramovich memecatnya. Bedanya, AVB belum menorehkan apapun di Chelsea, sementara Tito beroleh tugas yang luarbiasa berat karena harus menjejak torehan sejarah Pep yang terlampau sulit untuk dilewati entah oleh Tito, atau siapapun dia nanti.

Saat kompetisi di Primera berakhir, maka Tito akan lebih beroleh kepercayaan untuk mempersiapkan laga yang bisa disebut sebagai partai perpisahan yang sesungguhnya bagi Pep. Final Piala Raja Juan Carlos yang akan dimainkan di stadion Vicente milik kesebelasan Atletico Madrid itu adalah partai penghabisan yang masih wajib ditangani Pep sebelum resmi pulang ke pelukan keluarganya. Piala Raja adalah jejak kenangan indah Pep, karena trofi Copa del Rey 2009 menjadi trofi perdana yang diraih Pep bersama Barca saat menekuk Athletic Bilbao di laga final dengan skor 4-1. Jika Copa del Rey adalah awal, kenapa Tito dan Barca tak memenanginya kembali saat bertarung (lagi) melawan Bilbao dalam partai final Copa del Rey tahun ini dan mempersembahkan kemenangan tersebut sebagai kado sayonara yang paling pantas untuk merayakan kepergian Pep, sekaligus untuk kelangsungan sepakbola indah yang inspiratif seperti yang dianut Pep.

oscar motuloh
kurator GFJA, penikmat sepakbola

Foto: Pep Guardiola saat jumpa pers di Camp Nou, Barcelona, 27 April 2012 (Antara/Reuters/Albert Gea)

Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use