Piala Eropa 2012

Solidarnosc Benua Biru

Ratusan ribu buruh galangan kapal di Gdanks bersekutu untuk berkorban demi akhir sebuah rezim militer yang melilit negeri bernama Polandia. Di bawah bendera organisasi buruh anti-komunis, Solidarnosc (Solidaritas) yang dipimpin Lech Walesa, kekuatan mereka menggelora menjadi samudra, menggetarkan nyali Partai Komunis Polandia yang kala itu dikomandani Jenderal Wojciech Jaruzelski yang bertangan besi. Gerakan perlawanan anak-anak Gdanks di awal tahun 1980-an itu berhasil membawa Polandia menuju gerbang demokrasi dengan menggelar pemilu independen yang menaikkan Walesa, mantan tukang ledeng ke tampuk jabatan presiden pada tahun 1989. Popularitas perlawanan Solidarnosc dengan cepat menjalar ke negeri-negeri satelit Uni Soviet di Eropa Timur yang tergabung dalam Pakta Warsawa. Menggelinding seperti bola salju, revolusi damai bernama Beledru yang membebaskan Cekoslowakia dari cengkeraman komunisme itu akhirnya merontokkan tanpa sisa emporium komunisme Uni Soviet pada Desember 1991 menjadi negeri-negeri baru yang merdeka.

Kepingannya antara lain menjadi Ukraina, yang bersama jirannya Polandia terpilih oleh UEFA sebagai tuan rumah kembar Piala Eropa 2012. Dari ujung pangkal politis sebab-akibat itu, sepakbola kembali akan memperlihatkan tuahnya di tanah Balkan. Kali ini jauh dari politik yang sempat mengguncang demokrasi di Ukraina dalam gerakan yang dikenal sebagai Revolusi Oranye delapan tahun silam. Presiden Viktor Yuschenko dan PM Yuliya Tymoschenko berhasil menang atas capres pro-Rusia Viktor Yanukovich yang sebelumnya berhasil unggul tipis dalam pemilu yang sah. Lewat intrik politik yang melibatkan pers barat, kubu Yuschenko berhasil membentuk opini bahwa terjadi kecurangan dalam pemilu sehingga harus diulang. Opini tersebut juga menyeret simpati masyarakat yang mendukungnya dengan busana oranye sehingga gerakan itu di sebut Revolusi Oranye. Siasat Yuschenko membawa hasil, apalagi dunia barat tak ingin pemenangnya datang dari kubu pro-Rusia. Duet Yuschenko-Tymoschenko berhasil memenangkan pemilu 2004, tapi duet ini ternyata tak juga menampakkan kinerja yang meyakinkan masyarakat.

Akibatnya dalam pemilu 2010, warga Ukraina memilih seteru Yuschenko, Viktor Yanukovych, yang dibenci Barat menjadi presiden negeri yang secara historis memang sangat dekat hubungannya dengan Rusia itu. Sebelum menjadi presiden, Yanukovych adalah gubernur provinsi Donetsk yang stadionnya digunakan sebagai arena laga bagi juara bertahan Spanyol, Italia (juara 1968), Kroasia dan Republik Irlandia. Stadion Donbass Arena, Donetsk, adalah juga sebagai markas besar tim Shakhtar Donetsk. Tim kejutan yang sempat melaju ke perdelapan final Liga Champions tahun ini. Berawal di National Stadium Warsaw yang bakal mempertandingan laga perdana Polandia vs Yunani, maka partai final akan digelar di Olympic Stadium Kyiv, Ukraina pada 2 Juli, 2012, jam sebelas malam.

Laga perdana yang dimainkan di Warsawa dan menampilkan tuan rumah melawan juara Eropa 2004, Yunani, Jumat malam nanti, adalah partai yang kurang menimbulkan gairah, kecuali bagi fans tuan rumah dan tentu para penggila olahraga yang hobi menonton upacara pembukaan kejuaraan sekelas Piala Eropa 2012. Polandia yang dilatih Farnciszek Smuda (63), merupakan tim yang hanya dipandang sebelah mata. Apalagi kehadiran otomatis tim ini dalam kancah Piala Eropa karena perannya sebagai tuan rumah. Belum lagi motivasinya untuk memperlihatkan taring agak terganggu karena lawan yang dihadapinya adalah Yunani, tim luarbiasa alot yang defensif dan kurang elok untuk dinikmati. Sementara Polandia, sebagai tuan rumah menanggung beban moril, karena diharapkan publik mampu menjadi kuda hitam, seperti saat penampilan tim Putih-Merah di Piala Dunia 1974 yang berhasil melaju hingga ke semifinal dan tercatat sebagai pemenang di bawah Belanda dan Jerman Barat yang saat itu adalah tim terbaik dari salah satu Piala Dunia yang terbaik sepanjang masa.

Kurangnya pengalaman kompetitif, Polandia tetap diharapkan mampu mencuri tiga poin, sekaligus menghapuskan pandangan fans Piala Eropa bahwa laga perdana selalu memperlihatkan pertarungan yang kurang terbuka dan biasanya berakhir dengan angka aman. Seri dengan satu gol atau skor kacamata. Berbekal pengalaman di sektor belakang, khususnya kiper Wojciech Szeczesny (22) yang bermain untuk Arsenal, maka di garis pertahanan ada Lukasz Piszczek, di depannya gelandang Jakub Blaszczykowski dan ujung tombak Robert Lewandowski yang ketiganya bermain cemerlang untuk Borrussia Dortmund yang tahun ini menjuarai Liga Jerman. Sisa pemain Polandia lainnya berasal dari klub lokal macam Legia Warsawa dan Werder Bremen, Bordeaux, Sochaux, Trabzonspor dan Celtic. Secara keseluruhan, grup ini tetaplah mendudukkan Rusia dan Republik Ceska sebagai favorit dan tentunya Polandia sebagai tuan rumah.

Keberadaan Yunani mengejutkan dunia dengan penampilan mereka sampai final Piala Eropa 2004. Belum lagi keberhasilan tim Otto Rehhagel itu menghajar tim kuat Portugal yang dipoles pelatih Brasil Big Phil alias Luiz Felipe Scolari di kandang mereka sendiri. Dalam partai final yang mengejutkan itu, anak-anak Hades bermain sangat disiplin. Estadio Da Luz di Lisbon adalah saksi bisu dari kejayaan suatu tim yang penuh kejutan saat penyerang Yunani Angelos Charisteas merobek gawang Ricardo dan menciptakan gol semata wayang yang cukup bagi Rehhagel dan anak-anaknya membawa trofi ke gunung Olympus yang keramat di tanah para dewa itu. Scolari untuk kedua kalinya dipecundangi anak-anak dewa yang tak pernah dibicarakan sebelumnya. Keperkasaan tim Hellenik yang heroik itu membungkam dunia dan meruntuhkan ramalan rumah-rumah judi di seluruh pelosok dunia. Jika Paul si Gurita telah lahir saat itu, rasanya ramalannya juga pasti akan meleset karena gurita tak suka Poseidon, Dewa Laut Yunani. Tanpa Rehhagel (sekarang dilatih Fernando Santos dari Portugal), Yunani mencoba meracik serangan melalui ujung tombaknya, Giorgos Samaras yang tajam. Beberapa pemain senior dipadu dengan atlet-atlet muda oleh Santos.

Laga kedua di grup A bakal krusial karena favorit Rusia akan menantang Republik Ceska yang tengah menurun penampilannya. Di bawah kepelatihan Dick Advocaat yang keras, tim Rusia bakal digenjotnya untuk memulihkan reputasinya sebagai pelatih yang sesungguhnya. Bukan seperti Guus Hiddink yang flamboyan tapi membenamkan Rusia. Kedua tim tentu tak akan bermain aman, karena laga selanjutnya bakal lebih sulit bagi keduanya. Sama seperti Spanyol yang kokoh karena mayoritas pilarnya adalah pemain Barcelona, maka Rusia juga ditopang dengan kekuatan lokal, yakni Zenit St.Petersburg dan CSKA Moskwa. Andrei Arshavin yang piawai menekuk bola mati juga sekarang tampil di Zenit sebagai pemain pinjaman Arsenal.

Republik Ceska sendiri sudah ditinggal pelatih legendarisnya, Karel Bruckner, yang kerap disapa sebagai Kleki Petra pada 2009. Pria gaek yang masih gagah itu memang seperti Petra, bapanya orang-orang Apache. Bapa bagi talenta seperti Pavel Nedved, Smicer, Tomas Rosicky, Karel Poborsky dan dua nama yang masih aktif bermain sampai sekarang, Petr Cech dan Milan Baros. Mantan pelatih U-21, Michal Bilek, kini menangani Republik Ceska dengan pemain muda yang dipimpin Rosicky. Bilek (47), mencoba memainkan sepakbola yang bertumpu pada penguasaan lapangan tengah. Dengan pola 4-2-3-1, Bilek mencoba pencapaian terbaiknya dengan mencuri 1 poin dari Rusia. Sulit mengharapkan Ceska mendadak bisa memiliki pemain seperti angkatan kepelatihan Kleki Petra yang memang eksplosif dan keren penetrasinya. Keberadaan Ceska di babak 16 ini juga diraih dengan kerja keras sampai babak playoff, untuk menyingkirkan tim alot dari Balkan, Montenegro.

Setelah dongeng Yunani pada 2004 dan capaian Chelsea baru-baru ini, maka sepakbola kembali digelar sebagai simbol nasionalisme pada Piala Eropa yang selalu mempunyai magis yang tak dapat ditebak dengan mudah. Ajang olahraga prestisius ini juga refleksi yang positif bagi dunia politik Indonesia yang tidak lagi pernah dewasa sejak gerakan reformasi berhasil meruntuhkan rezim Soeharto pada 1998. Kita dapat melakukan otokritik atas prestasi yang diraih dengan kerja keras dan apresiasi yang diperoleh dari setiap gerakan dalam laga-laga Piala Eropa di delapan stadion Polandia dan Ukraina. Kita akan menyaksikan bagaimana indahnya kemenangan dirayakan dan juga kerelaan menerima kekalahan sebagai hal yang lumrah terjadi dalam kehidupan. Namun upaya memperbaikinya adalah tantangan tersendiri. Kita akan menatap bagaimana solidaritas sportivitas sepakbola adalah refleksi kemanusiaan yang sesungguhnya. Sama semangatnya seperti gerakan Solidarnosc dahulu yang hadir untuk menggusur kezaliman dan kegelapan politik yang menghancurkan rakyatnya sendiri. Jika demikian adanya, maka Piala Eropa adalah juga terang bagi umat manusia.

oscar motuloh
kurator dan penikmat sepakbola

Foto: Pemain Yunani Sokratis Papastathopoulos (kiri) dan Ioannis Fetfatzidis berlatih di Legionowo (6/6) (Reuters/Kacper Pempel)

Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use