Piala Eropa 2012

Ketika Neraka Mulai Berpijar

Pesta semarak menandai perhelatan sepakbola Piala Eropa 2012 baru saja berakhir. Suatu pesta gemerlap baru saja ditabuh menyambut datangnya bulan kompetisi sepakbola antar-negera Eropa yang paling bergengsi. Dendang, lagu dan decak berkepanjangan riuh menyatu membentuk irama yang juga tak kalah dengan atraksi pembukaannya. Gemerlap pesta pembukaan baru saja usai. Lampu-lampu panggung telah temaram, kabel-kabel telah digulung ke gelondongan rumahnya sampai saatnya waktu penutupan tiba. Bau mesiu kembang api tertinggal sebagai atmosfir kenangan di perekam digital. Namun aromanya masih membekas tajam di penciuman. Langit kembali temaram. Bersih, tak ada hingar bahana kekaguman penonton. Tak ada lagi cakrawala yang berpendar berkilatan bak pesta kembang api yang menjulur seperti lemparan pita-pita balerina di panggung keagungan. Diiringi gemuruh guntur dan kilatan yang menggores cakrawala.

Ini barulah sebentuk awal. Grup A telah memainkan laga perdana mereka dengan segala suka dan dukanya. Kontemplasi kehidupan telah dimulai. Sportivitas, sikap paling mendasar manusia, telah digelindingkan di lapangan hijau, menari bersama keligatan otot dan ikhtiar kecerdasan strategi lapangan sepakbola sebagai karya insan manusia. Karsa dan cipta mengalir bersama sikap, dimana toleransi dan apresiasi bersekutu menjadi gol demi gol indah di antara lampu kilat dan seringai kebahagiaan umat manusia. Hercules dan bahkan Hades yang impulsif sekalipun mengajarkan pada kita bagaimana apresiasi atas sebentuk hasil disebut pencapaian. Begitulah keajaiban sepakbola dimaknai. Sebentuk nilai yang ikut mewarnai peradaban menjadi landasan kehidupan bernegara. Nasionalisme tanpa bendera dan tanpa simbol-simbol chauvinistis yang menggebu-gebu.

Karena ikhtiar kesebelasan adalah kumulasi yang mempersatukan ego-ego manusia menjadi "kita", maka jika ada perihal menang-kalah, proses itulah yang kita sadap dan nikmati sebagai anugerah penciptaan. Saat derai tawa dan tangis mengharu biru nanti di Olympic Stadium Kyiv, Ukraina, pada malam final bulan depan, kita tersadar bahwa sepakbola hanyalah sebentuk permainan. It's only a game. Namun, bukankah kehidupan juga mewakili citra permainan itu? Cantik atau buruk, indah atau cattenaccio, modern atau konservatif. Dari sana inspirasi peradaban beroleh masukan nyatanya. Proses yang menemukan form-nya pada waktu yang tepat akan menutup prestasi sebagai ibadah. Persembahan terbesar manusia dalam mengawal peradaban yang lebih baik adalah penciptaan, termasuk estetika permainan di lapangan sepakbola.

Ukraina bakal menjadi perhatian setelah partai pembukaan yang hambar, saat Polandia ternyata seperti belum pantas berada di 16 jagoan Eropa. Partai perdana telah menghasilkan 2 kartu merah. Kegemilangan kiper pengganti Pzemyslaw Tyton yang bermain untuk PSV Eindhoven saat menahan tembakan penalti kapten Yunani Giorgos Karagounis, membuat skor bertahan 1-1 hingga wasit meniupkan peluit panjangnya. Di Oblast Sports Complex Metalist, Ukraina, salah satu favorit juara, Belanda (kampiun 1988), siap-siap menantang kuda hitam Denmark (juara 1992). Laga perdana di kelompok B ini memantik pijar-pijar di grup yang digadang sebagai grup neraka. Karena selain dua tim papan atas Eropa Barat tersebut, pool neraka ini juga dilengkapi dengan raksasa Eropa Selatan, Portugal dan juara tiga kali Piala Eropa dan favorit paling kuat dalam kejuaraan ini, Jerman (1972, 1980, 1996) yang datang dengan tim muda yang mayoritas berkiprah dengan gemerlap di Piala Dunia Afsel 2010. Memainkan laga pada Sabtu pukul 22.15 wib, anak-anak oranye harus berkonsentarsi penuh sepanjang sembilan puluh menit bertarung menerima tantangan tim kuda hitam Denmark di lapangan hijau.

Arena tanding tak lama lagi akan membara oleh lidah api yang terpercik menandai pergolakan itu. Neraka grup B menjadi ladang sakratul maut. Apalagi hanya dua jam berikutnya, tepatnya pada pukul 01.00 wib, Minggu dinihari, Jerman bertarung habis-habisan melawan Portugal yang menyertakan pemain fenomenal Real Madrid, Cristiano Ronaldo dan Luis Nani yang bermain di Manchester United, disertai sejumlah bintang lain. Di Lions Arena Lviv, di stadion berbentuk huruf Q, yang arsitekturnya ditangani Alber Wimmer itulah inferno bakal mempersembahkan sepakbola indah yang panas hingga 18 Juni mendatang. Mengingat keberadaan tim yang tergabung dalam grup neraka ini adalah tim yang punya reputasi tinggi, maka perhatian para pengamat sepakbola dunia akan terfokus di sana. Lalu menimbang kerasnya kondisi tim dalam grup, bisa diperkirakan bahwa kedua tim yang lolos dari grup ini adalah calon kontestan yang mungkin akan kembali berhadapan pada laga final di awal Juli bulan depan.

Grup neraka ini mendapat perhatian yang tinggi dari para penggemar sepakbola fanatik dunia. Mereka umumnya menganalisis akan terjadi banjir airmata bagi siapapun dari dua tim yang pasti tak dapat melanjutkan laga ke babak selanjutnya. Meskipun tim Denmark adalah tim yang paling nothing to lose di grup ini, pelatih gaek Morten Olsen yang melatih anak-anak Viking ini tetap yakin bahwa Tim Dinamit ini bakal meluncur ke babak kedua, meskipun dengan tertatih dan penuh penderitaan. Belanda dan Jerman mestinya mendapat beban psikologis yang amat berat karena seluruh penggila bola menginginkan kedua tim itulah yang diharapkan melaju hingga ke partai final. Apalagi, pelatih Belanda, Bert Van Marwijk adalah nakhoda kapal keruk yang rela melepas permainan indah dan taktik mirip total football yang menjadi cap kesebelasan Belanda menjadi tim dengan pola permainan yang amat oportunis. Dengan permainan konservatif seperti di Afsel, Belanda toh masuk final meski akhirnya berantakan ditelan bulat-bulat oleh gocekan "tiki-taka" Spanyol yang meraih trofi dengan indah dan penuh kreativitas.

Jika Marwijk yang keras kepala dan terus akan mencoba pola 4-3-2-1-nya yang ortodoks itu dalam Piala Eropa kali ini, maka grup inferno ini bakal menghukumnya dengan gamblang. Selain tak melanjutkan permainan sexy macam tim Belanda 1988 dengan Ruud Gullit, Frank Rijkaard dan Marco Van Basten, Marwijk hanya akan tercatat sebagai biang petaka yang menenggelamkan tim oranye ke dasar kanal karena hanya memburu kemenangan yang memundurkan peradaban sepakbola negeri kincir angin.

Di antara empat pelatih di grup inferno ini, nama Joachim Loew-lah yang paling melekat di hati penggemar sepakbola progresif Jerman. Pria parlente yang senang mengenakan pakaian putih dilapisi pullover warna kelabu itu jauh lebih populer ketimbang Marwijk yang membuat tim oranye terlihat tangguh namun miskin kreativitas. Jika dibandingkan dengan pelatih klub, maka Loew dapat disejajarkan dengan Pep Guardiola, atau pelatih-pelatih lawas yang amat mencintai sepakbola menyerang. Katakan Cezar Luiz Menotti, Tele Santana dan Arrigo Sacchi. Sementara Morten Olsen dan Paulo Bento (Portugal), masih agak moderat memandang sepakbola. Mereka memainkan sepakbola menyerang yang mempersona. Sementara Marwijk –begitu juga dengan Jose Mourinho- berada pada barisan yang sama. Sama-sama keras kepala, dan hanya memainkan sepakbola tempo tinggi, khususnya dalam serangan balik. Adalah kurang menarik melihat permainan Belanda di bawah kepelatihan Marwijk. Sepakbola dalam ukuran turnamen harus dipompa dengan teori kemenangan, bukan dengan segala pernik keindahan yang hanya membawa sengsara dan mengesalkan penonton.

Dengan materi macam Maarten Stekelenburg (kiper), Joris Mathijsen dan John Heitinga (belakang), Rafael Van den Vaart dan Wesley Snijder (tengah) serta Robin Van Persie dan Arjen Robben (depan) maka lawan-lawan Belanda seolah telah menatap tepian neraka. Sementara Jerman dengan pemain macam Manuel Neuer (kiper), Philip Lahm dan Per Mertesacker (belakang), Mesut Oezil dan Bastian Schwensteiger (tengah) serta Mario Gomez, Jan Huntelaar dan Lukas Podolski di depan membuat gerbang inferno seperti terlihat begitu jelas. Tanggal 18 Juni dinihari, pembuktian ini akan mengorbitkan Marwijk yang keras kepala atau Joachim Loew, pelatih Jerman yang progresif sebagai pembawa panji-panji sepakbola indah yang menghibur penonton.

Jika penikmat sepakbola mulai pening karena begitu banyak informasi perihal detil teknis empat kesebelasan yang akan bertarung di grup B, baiklah kita percaya bahwa keempat pelatih besar itu bakal menghibur penonton. Sama seperti saat Rusia merontokkan salah satu bekas satelitnya, Ceko, dinihari tadi dengan skor meyakinkan 4-1. Denmark yang tampil tanpa beban, bukan tak mungkin bakal menggulung Belanda yang dipenuhi dengan perasaan berbunga-bunga sebagai favorit terkuat bersama Jerman. Pertarungan perdana lebih banyak membuat laga menjadi monoton, karena tim yang berlaga umumnya memilih bermain hati-hati. Dalam hal ini, Denmark dan Portugal adalah kesebelasan beruntung yang beroleh simpati karena semua orang memandang mereka dengan takjub kepada Jerman dan Belanda, seraya berharap bahwa determinasi pesepakbola kedua tim itu amat kesulitan untuk beradaptasi di lapangan hijau.

Demi citra selanjutnya yang lebih baik, maka tampaknya tak bakal ada skor seri dalam laga, sehingga penonton dapat lebih mencintai dan terhibur oleh sepakbola indah yang dijanjikan, sekaligus hiburan yang sesungguhnya bagi penikmat sepakbola yang menikmatinya sebagai siraman rohani.

oscar motuloh
penikmat sepakbola

Foto: Pemain Yunani Jose Holebas (kanan) berebut bola dengan Jakub Blaszczykowski dari Polandia dalam laga perdana Grup A Piala Eropa 2012 di National Stadium, Warsawa (8/6). Reuters/Pawel Ulatowski

Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use