Piala Eropa 2012

Wasit Membunuh Ukraina

Kemuliaan dan kebebasan Ukraina tak pernah mati,
Sobat seperjuangan, takdir kan tersenyum kembali,
Musuh-musuh kita akan lenyap seperti embun di pagi hari,
kita akan berkuasa di negeri kita sendiri yang merdeka

- lagu kebangsaan Ukraina


Akhirnya tak pernah lagi ada pasukan "Zhovto-Bakytni" alias "'Kuning-Biru" dalam Piala Eropa 2012, setelah wasit Viktor Kassai asal Hungaria ikut andil memuluskan kemenangan Inggris atas satu-satunya harapan tuan rumah yang tersisa, Ukraina, di stadion Donbass Arena Donetsk, Rabu dinihari.

Tandukan Wayne Rooney yang lepas dari pengawalan bek Ukraina pada menit ke-48 berbuah gol dan skor 1-0 bertahan sampai akhir laga. Sadar dengan kondisi berbahaya yang melingkari kubu Ukraina, maka pelatih Oleg Blokhin tak punya pilihan lain kecuali memerintahkan anak-anak asuhannya bertarung mati-matian hanya untuk menang. Itu satu-satunya pilihan yang menjadi ajang terakhir perjuangan pasukan Blokhin menghalau orang-orang Anglo-Saxon keluar dari tanah mereka di tepian Laut Hitam.

Dengan dukungan fans yang begitu bergemuruh, Ukraina terlihat sangat percaya diri, apalagi saat mereka menyanyikan lagu kebangsaan mereka “Shche ne vmerla Ukrainy” (Kemuliaan dan Ukraina Belum Mati) yang sungguh heroik. Di bench, pahlawan Ukraina Andriy Shevchenko ikut bernyanyi dengan khusuk. Sheva tak termasuk dalam daftar Blokhin sebagai starter, karena kondisi lututnya yang cedera. Namun para sejawatnya di lapangan seperti meminjam jiwa Sheva untuk berjuang melawan Inggris yang lebih difavoritkan.

Kehadiran Wayne Rooney tak membuat anak-anak Blokhin gentar, bahkan tanpa kehadiran Sheva. Ukraina bermain sangat terbuka demi satu-satunya harapan tadi. Mengenakan seragam biru-biru dengan nomor punggung berwarna kuning, pasukan Kossak itu segera menggempur Inggris. Bola mengalir dari ke kaki dengan cepat, Ukraina bermain jauh lebih baik ketimbang saat dipecundangi Perancis.

Inggris segera membentengi gawang Joe Hart dan menyiapkan serangan balik seperti biasanya. Pasukan Roy Hogson bermain dengan disiplin. Namun begitu sengitnya serangan Ukraina, sehingga anak-anak Tiga Singa beberapa kali melakukan keteledoran. Untung saja penyerang Ukraina gagal memanfaatkan peluang. Setelah gol cepat Rooney di awal babak kedua, serangan Ukraina menggelombang menyentuh bibir gawang. Beruntung Joe Hart bermain cemerlang dan pandai mengambil posisi sehingga beberapa kali melakukan save yang beroleh applause juga dari fans Ukraina.

Gelandang-gelandang Ukraina seperti kapten Andriy Yarmolenko, serta dua sayap Yehven Konoplyanka dan Anatoliy Tymoshchuk ditambah bek sayap handal Husyev dan Yehven Selin benar-benar memporandakan Inggris. Sampai kontroversi terjadi pada menit ke-62 ketika Hart ditaklukkan Marco Devic dengan jitu. Umpan manis yang diterima Artem Milevskiy diteruskan menjadi tendangan mematikan yang menembus gawang Hart. John Terry berlari berupaya menghalau bola yang sesungguhnya telah melewati garis gawang, namun tak membuat hati Kassai tergerak untuk melihat kenyataan yang tentu sangat merugikan tuan rumah yang berupaya keras lolos dari lubang jarum.

Kontroversi itulah yang bakal merebak hingga hari-hari ke depan. Kassai pastilah bakal menjadi sosok yang paling dibenci para fans Ukraina yang melihat ketidakadilan justru dilakukan oleh pengadil di lapangan. Di bench terlihat Blokhin mencak-mencak atas kejadian kontroversial itu di depan salah seorang petugas UEFA yang tampak ditegurnya dengan keras. Tapi sama seperti Kassai, sang petugas cukup melengos saja, seraya membiarkan Blokhin meluapkan kekesalannya.

Akhirnya menjelang 20 menit berakhirnya laga, Sheva dipaksakan masuk oleh Blokhin. Sementara di kubu Roy Hodgson, Theo Walcott masuk menggantikan gelandang bertahan James Milner. Walcott adalah anak emas Arsene Wenger yang begitu masuk langsung mengubah atmosfir tempur Tiga Singa untuk menyudahi Swedia dengan skor 3-2.

Fans Ukraina segera menyambut kehadiran Sheva dengan penghormatan khusus. Pertama, dengan harapan sang idola Ukraina tersebut dapat mengubah keadaan seperti Walcott dan yang kedua, demi menghormatinya karena laga ini adalah performa terakhirnya di ajang kompetisi internasional selama karirnya di dunia sepakbola. Sejauh ini, Sheva telah mencetak 48 gol dari 111 laga internsional.

Kepada Uefa.com, Sheva berharap dia ingin ada satu partai kelak yang akan menampilkan dirinya bermain untuk terakhir kalinya sebelum sang idola itu menggantungkan sepatunya. Sheva sendiri sangat puas bergabung dengan tim Ukraina yang kokoh, apalagi kebanyakan anggota inti Ukraina sekarang adalah anak-anak muda yang akan meneruskan prospek tim Kuning-Biru ini. "Singa muda itu adalah Yarmolenko, Konoplyanka, Garmash, dan Rkitskiy. Beruntung melihat mereka berkesempatan berlaga di event segengsi Piala Eropa ini," komentar Sheva tentang masa depan timnas Ukraina.

Sama sepeti Kroasia yang tersisih dengan terhormat, Ukraina pun dapat keluar lapangan dengan kepala tegak. Apalagi Blokhin juga dapat membebankan sedikit kesalahan kepada kepemimpinan wasit Kassai yang kurang jeli memperhatikan detil-detil di lapangan sehingga gol Milevsky yang jelas masuk didiamkan saja.

Keberadaan wasit yang juga adalah manusia biasa dalam laga krusial, selalu mendapat sorotan saat memimpin pertandingan, apalagi jika ada kesalahan sekecil apapun yang mereka saksikan di lapangan hijau. Sejauh ini, sepakbola masih secara ortodoks hanya membenarkan keputusan wasit dengan segala kekurangannya. Di dunia tenis, penggunaan kamera untuk menentukan keberadaan bola telah diterapkan. Untuk sementara sepakbola masih berdiri di garis masa lalu.

Pelatih Inggris Roy Hodgson merasa Inggris beruntung karena wasit tak jadi mensahkan gol Devic. Dia mengatakan tim asuhannya memang beroleh keberuntungan dalam laga itu. Dia merujuk gol kontroversial Devic yang tidak disahkan wasit.

Di Stadion Nasional Kyiv, pasukan Kuning-Biru yang lain, Swedia, justru bermain luarbiasa untuk mencetak dua gol dahsyat yang menjungkalkan "Les Blues" alias Prancis dengan skor 2-0 (0-0). Yang pertama dicetak dengan tembakan gunting oleh striker jangkung mereka, Zlatan Ibrahomovic, dan ditutup oleh tembakan geledek dari Sebastian Larsson beberapa detik sebelum laga berakhir.

Kiper sekaligus kapten timnas ayam jantan biru Hugo Lloris cukup keder menerima dua gol yang tak mampu dia antisipasi karena begitu kencang dan terarah. Menurut Lloris, sesungguhnya Prancis hanya tim yang beruntung bisa berada di babak 8 besar Eropa. Saat laga usai, tim Prancis yang mengenakan kostum putih-putih hanya dapat tertunduk murung. Tak ada selebrasi sedikitpun. Mungkin mereka tiba-tiba sadar dan malu, bahwa jika waktu bergulir lebih lambat lagi Swedia akan membuat mereka berada di neraka.

Jumat dinihari laga delapan besar mulai digelar dengan sistem gugur. Juara Grup A Ceko ditantang runner-up Grup B Portugal. Esoknya Yunani yang lolos dari Grup A dengan menggusur tim Rusia yang sejatinya lebih pantas ada di 8 besar, sudah harus bertemu favorit juara Jerman. Lalu akan ada laga klasik yang pasti dinanti, Inggris versus Italia dan juara bertahan Spanyol akan menjamu tim ayam jantan yang barusan keok dipelintir Swedia.

Takluknya Ukraina menandai tandasnya peran tuan rumah kembar Piala Eropa 2012. Tak ada lagi gairah fans Polandia dan Ukraina yang menggemuruh di stadion. Namun laga akan semakin panas dan bakal kembali menelan korban. Akankah kejutan macam Piala Eropa 2004 Portugal bakal terjadi lagi di Polandia dan Ukraina? Delapan besar pastinya akan menggelar taktiknya sendiri untuk strategi di final pada 2 Juli nanti di Stadion Nasional Kyiv. Saat kejuaraan semakin ketat, maka keberuntungan bakal lenyap oleh ketangguhan, kreativitas dan kepaduan intelejensia sepakbola. Barangkali tafsir bait terakhir lagu kebangsaan Ukraina masih relevan untuk itu.

Akan kita korbankan jiwa dan raga untuk menggapai kejayaan.


oscar motuloh
penikmat sepakbola

Foto: Seorang bocah pendukung Ukraina menutup wajahnya saat laga Grup D Piala Eropa 2012 yang mempertemukan Ukraina vs Inggris berakhir di Donbass Arena, Donetsk (19/6) (Reuters/Nigel Roddis)


Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use