In Memoriam Julian Sihombing (1959–2012)

Ars Longa Vita Blues

Menjelang acara pembukaan The 3rd Singapore International Photography Festival (SIPF), saya dan tiga rekan fotografer, Goenawan Widjaja, Rahmad Gunawan, Kiky Makkiah dari Galeri Foto Jurnalistik Antara (GFJA) menyempatkan waktu menjenguk Julian Sihombing, sahabat lama, pewarta foto senior harian Kompas yang tengah di rawat di National University Hospital (NUH) melawan kanker getah bening stadium lanjut yang dideritanya sejak setahun belakangan.

Pada Jumat, 5 Oktober yang terik itu, Kami berempat tiba di NUH, yang terletak di Kent Bridge, Wing lantai 8, ward 8A. Ini bukan kamar Julian yang biasanya, meskipun juga terletak di lantai delapan. Pada lantai ini, sejak medio September 2011, Julian keluar masuk ruang perawatan khusus di rumah sakit tersebut sejak pihak medis memvonis bahwa Julian mengidap kanker. Ruang yang kali ini ditempatinya adalah kamar isolasi. Ini adalah salah satu dari dua kamar isolasi di sayap yang khusus menangani pasien penderita kanker stadium darurat.

Senyum khas Julian mengembang saat kami memasuki ruangan secara bergiliran. Mengenakan pakaian khusus, Julian menyapa dengan umpatan jorok khasnya, meskipun tak senyaring biasanya. Adik bungsunya, Stefan yang juga fotografer, hanya tersenyum geli di sofa tamu yang terletak di sebelah kiri ranjang Julian. Pekan itu, Stefan yang akrab disapa dengan Ucok, bertugas menemani Julian bergantian dengan Suri Dewanti Sihombing, istri Julian yang akan bergabung kembali pada Selasa berikutnya.

Hari itu, pas saat kedatangan kami, kata Ucok, Julian baru merampungkan serial kemoterapi dosis tinggi untuk perawatan lanjutan atas perkembangan sel-sel kanker yang menjalar dengan cepat dalam tubuh Julian. Dia mendapat perawatan khusus baru berupa metoda terapi stem-cell yang para perintisnya baru-baru ini memperoleh penghargaan Nobel untuk penemuannya. Menurut diagnosa medis yang dikutip Ucok, terapi ini adalah benteng pertahanan terakhir Julian. Artinya jika dia mampu menerobos masa kritis dua pekan setelah kemoterapi berakhir, maka untuk sementara sel-sel kanker yang menggerogoti tubuhnya dapat ditangkal, tapi mustahil untuk menyembuhkannya secara total.

Ada yang berbeda dalam kondisi Julian yang saya lihat kali ini. Di balik senyumnya, saya melihat ada seringai pada mimik Julian yang menandakan penderitaan yang sangat. Sinar matanya redup, meskipun agak bercahaya ketika saya menyerahkan buku yang baru diluncurkan di GFJA, "Orangutan: Rhymes & Blues", karya pewarta foto muda Antara, Regina Safri, yang khusus saya bawakan untuk dia.

Dia membuka satu persatu halaman buku dan tersenyum kecil tiap melihat foto bayi orangutan yang lucu. "Wah ada nama gue dan tandatangan fotografernya pula," komentar dia. Pikiran Julian mungkin menerawang kembali ke saat-saat menyenangkan setiap kali dia menghadiri acara pameran atau peluncuran buku fotografi jurnalistik di GFJA. Julian adalah salah satu pewarta foto senior yang setia menyambangi acara-acara di galeri foto yang terletak di tepi sungai Ciliwung dan berbaur dengan fotografer-fotografer muda yang senantiasa berkumpul di sekitarnya untuk menodong sejumlah pertanyaan-pertanyaan seputar fotografi dan pengalamannya sebagai pewarta terkemuka negeri ini.

Bahkan pada masa awal perawatan kankernya, Julian menyempatkan diri hadir dan menjadi menjadi pembicara bersama pewarta foto lepas Kemal Jufri dan Kepala Antara Foto Hermanus Prihatna sehubungan dengan pameran Kilas Balik Pewarta Foto Antara, pada Februari 2012. Wajahnya sumringah, setiap bertemu dan bercengkerama dengan sahabat-sahabat fotografer segala usia. Di suatu siang bolong pada pemakaman pewarta foto kawakan Ed Zoelverdi di Rawamangun, Julian juga terlihat hadir di antara hadirin. Menabur bunga di pusara sang Mat Kodak dan berfoto grup dengan sejumlah fotografer pers yang hadir. "Gile, kita komplit gini kalo ada temen yang lewat ya?" canda Julian yang tampak letih tapi dengan senyum yang lepas. Kehadiran terakhir Julian dalam suatu gathering fotografi jurnalistik adalah saat opening pameran foto Kemal Jufri di Salihara, pada 11 Mei.

Di tempat tidur yang sandarannya ditegakkan, Julian memainkan iPad-nya. Dia sangat berhasrat untuk menghirup udara segar di luar kamar isolasi dan mampir ke acara workshop SIPF, khususnya yang menghadirkan trio fotografer terkenal dari Magnum, Stuart Franklin dengan eksibisinya bertajuk "Footprint: Our Lanscape in Flux", Mark Power dengan "The Sound of Two Songs", dan Jacob Aue Sobol dengan "I, Tokyo". Diskusi dan pameran mereka bakal diadakan di ArtScience Museum di Marina Bay Sands.

"Kalo toh gua gak sempet ngeliat workshop mereka bertiga pada tanggal 10 Oktober, gua akan liat pamerannya pada tanggal 18 aje. Karena di atas tanggal itu, gua udah boleh keluar dari isolasi ini dan pindah ke apartemen," ucap Julian mengemukakan rencananya. "Apalagi tanggal segitu kan temen-temen bangsa Maman dan Jay (Subyakto) bakal ke sini," tambahnya lagi.

Namun manusia yang fana hanya dapat merencanakan, Sang Khalik menentukan berbeda karena pada Minggu dinihari, 14 Oktober, tepat pada pukul 02.19 waktu Singapura, jantung Julian tak lagi berdetak. Nafasnya berhenti.

Julian akhirnya ke luar juga dari ruang isolasi, tapi untuk digegas ke ruang ICU karena beberapa jam sebelumnya, menurut Yanti Korompis, salah satu sahabat keluarga Julian, pewarta foto tangguh itu kesulitan bernafas. Ketika sepasang buah hati Julian, Rian Namora dan Luna Nauli, terbang bergabung dengan ibunya Suri Alwi Sihombing di NUH, Julian tak lagi sadarkan diri. Dia hanya meracau, hingga maut menjemputnya.

Jay Subyakto akhirnya berkunjung ke NUH lebih awal, bukan untuk menyimak pameran foto gang Magnum, tapi untuk menjemput jenasah sahabat lamanya. Pagi-pagi benar Jay telah terbang bersama sahabat-sahabat Julian di Kompas, termasuk Rene Pattiradjawane dan Myrna Ratna. Setibanya di Singapura, Jay langsung ke kawasan industri, Toa Payoh, dimana jenasahnya telah dibawa ke sana untuk didandani. Jay memilih peti jenasah terbaik terbuat dari kayu oak. Peti tempat pembaringan Julian dibaringkan untuk terakhir kalinya itu berwarna coklat tua.

Mereka memantaskan jas berwarna hijau tua milik almarhum, yang dibawa Jay dan Maman untuk dikenakan kepada yang empunya. Pada kaki Julian dipasangkan sepatu hitam bertali merah, yang disesuaikan dengan selera Julian yang kadang-kadang nyeleneh. "Ini kita pilihin yang Julian banget deh," kata Jay melalui percakapan telpon genggam. Malam ini pukul 18.30-an jenasah Julian akan diterbangkan dengan Garuda ke Cengkareng dan langsung dibawa ke rumah duka di jalan Perkici 2 Blok EA 3 no.50, Bintaro Jaya Sektor 5. Pemakaman dijadwalkan pada hari Senin, di TPU Tanah Kusir.

Hari kelabu juga menjelang saat suasana yang menggetarkan mengisi relung-relung cakrawala kawasan kampus Trisakti. Julian Sihombing hadir diantara yel-yel garang serdadu anti huru-hara yang suaranya terdengar menakutkan. Mereka saling berhadapan dengan para mahasiswa berjaket biru yang bersiap beranjak kembali ke kampus karena gerimis mulai datang. Sejak siang mereka menggelar unjuk rasa menentang pemerintahan Soeharto. Sore itu, tanggal 12, dibulan Mei 14 tahun lalu, beberapa menit lagi, sejarah politik Indonesia akan ditorehkan oleh renteten peluru, kesumat kebencian, darah empat martir reformasi dari Grogol, serta catatan visual Julian dan para pewarta foto yang hadir manjadi mata bagi dunia. Momentum sekeping petang itu akhirnya menumbangkan tirani kekuasaan Soeharto sepekan kemudian.

Julian hadir di titik api peristiwa untuk mewartakan opini visualnya bagi siapapun di muka bumi. Setelah foto seorang mahasiswi terkapar tak berdaya, yang terlilit spanduk perlawanan yang dipotretnya termuat di Kompas esok paginya, maka jurnalistik tampak memperlihatkan kekuatan subyektifnya untuk berdiri pada nurani mereka-mereka yang ditindas. Foto Julian tersebut mengumandangkan secara eksplisit betapa penindasan takkan mampu membungkam suara demokrasi. Foto tersebut kemudian menjadi ikon spiritual yang menyertai siapapun anggota masyarakat melawan emporium otoriter Orde Baru.

Julian adalah pewarta foto Kompas paling berpengaruh dalam belantara fotografi jurnalistik Indonesia setelah angkatan mendiang Kartono Ryadi. Secara profesi, dia layak disebut sebagai pewarta foto terbaik di Indonesia pada jamannya. Julian merupakan fotografer yang sadar untuk mengembangkan diri secara maksimal meskipun generasi sejamannya umumnya hidup dan berkembang secara otodidak. Julian memiliki prasyarat utama sebagai seorang pewarta foto yang tangguh. Kepercayaan diri yang tinggi dan independen adalah cirinya.

Mata Julian terlatih karena lingkungan keluarganya memang melek visual. Abidan Sihombing, ayah Julian, adalah seorang pengusaha yang gemar fotografi. Julian kecil sudah terbiasa melihat karya foto landscape dan dokumentasi keluarga yang diabadikan ayahnya dan dipajang di ruang tamu di rumah mereka di bilangan Tanah Abang. Ibunya, Kasania boru Tobing, adalah moviegoers. Tak heran, kedua orang tua Julian sering memboyongnya menonton gambar hidup di bioskop. Dia masih ingat "The Thief from Baghdad" (Ludwig Berger, 1940, meraih 3 Oscar) adalah film pertama yang ditontonnya.

"One Flew Over the Cuckoo’s Nest", film terbaik Oscar 1975 (termasuk Oscar pertama bagi Jack Nicholson dan sutradara Milos Forman) adalah satu film yang paling membekas dalam ingatan Julian. Adaptasi yang keren dari Milos, juga penggarapan keseharian yang teliti dan realistik dari setiap karakter tokoh penghuni rumah sakit jiwa menambah kecintaan Julian pada kekuatan dari kehidupan nyata, seperti yang tersirat dari karya terbaik Milos itu sebelum menggarap masterpiece lainnya, "Amadeus" (1984).

Julian dilahirkan di Jakarta 15 Januari 1959. Dia adalah anak ke-enam dari tujuh bersaudara. Kakak sulungnya, Bertram, dan kakak ketiganya, Nahot, adalah pencinta fotografi. Bahkan kelak, Ucok, si bontot dari keluarga Sihombing itu, juga berkiprah sebagai pewarta foto olahraga profesional. Di SMA 6, Julian sudah dikenal sebagai pelajar yang gemar memotret. Dia makin penasaran dengan fotografi dan menemukan oase bacaan fotografi di rumah sahabatnya di kawasan Menteng yang berlangganan sejumlah majalah fotografi yang memiliki banyak koleksi buku fotografi yang ketika itu termasuk barang langka.

Ketika kuliah di FISIP UI Rawamangun, pada 1980, Julian untuk pertama kalinya memiliki kamera SLR Canon AE1. Di kampus, dia bersahabat dengan beberapa mahasiswa yang juga gemar fotografi. Mereka kerap mendiskusikan fotografi dan membentuk suatu klub fotografi tanpa nama. Kelompok itu bahkan sempat menggelar pameran foto yang agak serius di kampus dengan kurator Miriam Budiardjo dan Yuwono Sudarsono. Momentum itu membuat Julian semakin pede untuk serius menekuni fotografi. Dia mencoba peruntungan dengan melamar menjadi fotografer di suatu majalah berita bergambar grup Gramedia yang mengadaptasi gaya Paris Match. Melihat portfolionya, pemred majalah Jakarta Jakarta, Noorca Massardi, segera merekrutnya untuk bergabung dengan fotografer lainnya, Desiree Harahap. Julian akhirnya memilih menjadi kuli citra. Dan mengabaikan semester akhir kuliahnya.

Di majalah Jakarta Jakarta Julian banyak membuat "potraiture" figur publik, kendati sesungguhnya hasratnya adalah membuat foto-foto aksi panggung olahraga. Julian adalah atlet basket andalan sekolah sejak duduk di bangku SMP. Dia juga gemar bertualang di alam bebas dengan rekan-rekannya. Dari sana mungkin prinsip persaudaraan dan solidaritas persahabatan tertanam dalam kesehariaannya hingga akhir hayat di kandung badan. Dari penghasilannya, Julian kemudian membeli buku-buku fotografi karya fotografer olahraga idolanya, sebut saja Walter Ioos Jr, John Iacono dan Neil Leiffer.

Namun fotografer yang paling berpengaruh dalam hidupnya adalah Eugene Smith, salah seorang perintis esei foto yang sangat berpengaruh dalam blantika foto jurnalistik modern dunia. Karya-karya kemanusiaan Eugene yang penuh makna, berkedalaman dibalut dengan simbol dan estetika yang menyentuh, disimaknya dengan saksama. Betapa dia kagum melihat karya-karya klasik Eugene semacam "Spanish Village", "County Doctor" dan tentu esei yang sangat kontroversial, pencemaran merkuri di Minamata, Jepang. Nama fotografer lain yang juga berpengaruh dalam hidupnya adalah Ernst Haas, Robert Doisneau, Robert Frank dan Alex Webb.

Merasa ingin memperoleh tantangan yang lebih luas, Julian kemudian pindah ke harian Kompas setelah sebelumnya dipinjamkan dari Jakarta Jakarta khusus untuk membantu liputan Sea Games Jakarta 1987. Di harian paling berpengaruh di Indonesia itu, Julian menemukan dirinya. Selain karena dinamistis yang menjadi ciri periodikal harian, Julian dipersilahkan mendiang Kartono Ryadi untuk mengeksplorasi seluasnya dunia olahraga dan tentu foto-foto jurnalistik yang menjadi keseharian Kompas. Gaya pemotretannya adalah refleksi yang didapatnya dari sejumlah referensi yang dibacanya dengan teliti. Julian termasuk salah satu pewarta foto yang menawarkan kepada publik pembaca suatu karya jurnalistik yang disajikan dengan sejumlah sentuhan, khususnya segi artistik yang membalut foto-foto beritanya lebih enak dilihat dan hidup.

Waktu berputar, jaman berubah, regenerasi juga berlangsung di harian itu. Pewarta foto muda yang lebih enerjik hadir meneruskan tongkat estafet sebagai kuli citra. Julian kini praktis jarang turun ke lapangan, dia menjadi editor foto senior dan mendapat tugas untuk membina lintas generasi dari pewarta-pewarta foto baru tadi. Dia juga menangani proyek-proyek khusus Kompas, termasuk menjadi pengarah fotografi pada penerbitan buku fotografi jurnalistik "Mata Hati", sebuah buku antologi fotografi jurnalistik yang penting. Sampai kemudian dia meluncurkan buku foto perdananya, "Split Second, Split Moment" (Gramedia, 224 halaman, 2010) yang bermaterikan karya-karyanya selama menjadi kuli-citra Kompas, termasuk karya ikoniknya perihal Reformasi di jalan Kyai Tapa tadi.

Buku terakhir Julian adalah "Indonesia: A Surprise" dimana dia tampil dengan foto-foto dari Bromo dan imaji liputannya di tanah Batak. Dalam buku yang membawa misi keberagaman dan diberi pengantar dan puisi oleh Goenawan Mohamad itu, karya Julian bersanding dengan Jay Subyakto, Jez O’Hare, Yori Antar, Riza Marlon, John Suryaatmadja, Hermanus Prihatna, Kemal Jufri, Ardiles Rante, dan Oscar Motuloh. Ketika buku diluncurkan pada 21 Oktober 2011 di Galeri Salihara, Julian tak dapat hadir. Tapi menjelang pameran berakhir, Julian sempat tertegun haru mengamati foto di Bromo yang diabadikannya dipajang melekat dengan puisi GM tentang bayang-bayang.

"Para pewarta foto freelance masa kini, katakan, Kemal Jufri, Ardiles Rante, Wedha atau Edi Purnomo adalah sejumlah figur yang mewakili mata kita sekarang. Dibanding mereka, saya merasa nggak ada apa-apanya. Mereka benar-benar datang membawa prinsip dan karakter fotografi mereka sendiri ke dalam fotografi jurnalistik kita yang terus mendewasakan dirinya. Namun saya bisa tersenyum menyaksikan eksistensi mereka yang meneruskan representasi suara generasi jamannya, dimana saya tak lagi berdaya merekamnya dengan canggih dan bernas," kata Julian pada suatu tengah malam di GFJA.

Malam yang letih. Aroma fajar menyembunyikan purnama di balik awan, kelompok blues dari Bandung, Harry Pochang Blues Libre, bersiap menutup "live"-nya di panggung kecil di area Gedung Antara Pasar Baru yang bersejarah itu. Semua hadirin, kebanyakan fotografer, termasuk Julian tentunya, bersama-sama melantunkan dengan khusuk "In My Life", balada psychedelic abadi dari Beatles.

There are places I'll remember
All my life, though some have changed
Some forever, not for better
Some have gone and some remain
All these places have their moments
With lovers and friends I still can recall
Some are dead and some are living
In my life, I've loved them all



oscar motuloh
pewarta foto Antara


Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use