Jago-Jago Tua Yang Masih Berjaya

Entah sebuah kebetulan atau kesengajaan, hari-hari terakhir ini jagad perbioskopan nasional dijejali lagi film aksi tiga aktor gaek Hollywood yang hampir berbarengan tanggal tayangnya. Tengok saja di studio-studio besar terpampang poster film aksi yang dibintangi aktor berotot yang pernah menjadi ikon film laga di era 90-an. Belum seminggu Arnold Swarchzenegger beraksi dalam film terbarunya "The Last Stand" (Korea Jee-woon Kim), muncul Bruce Willis dalam sekuel ke-5 "Die Hard", "A Good Day to Die Hard" (John Moore), yang konon katanya, Indonesia menjadi negara yang pertama kali menayangkannya. Antre di belakangnya adalah Sylvester "Rambo" Stallone, yang juga unjuk kebolehan dalam "Bullet to the Head" yang diarahkan sutradara spesialis laga Walter Hill.

Menyaksikan aksi tiga aktor gaek yang masih ingin eksis di genre laga adalah keasyikan tersendiri, terutama bagi para movie freak yang mengalami masa kejayaan bintang-bintang itu. Tidak hanya ingin bernostalgia dengan aktor kesayangannya, penonton juga ingin melihat bagaimana mereka yang dengan otot yang sudah tidak kencang lagi dan nafas yang sudah ngos-ngosan harus berjibaku melawan musuh-musuhnya. Meski rata-rata sudah mulai dimakan usia, namun para produser Hollywood tidak kekurangan akal untuk memoles dagangannya supaya tetap menarik dan enak ditonton.

Ada beberapa resep yang dipakai para sutradara tersebut. Pertama adalah menyertakan aktor muda sebagai pendamping, sehingga sang bintang tidak sendirian melakoni aksi dan adegan kerasnya. Sudah tidak masuk akal lagi jika sang jagoan sendirian saat bertarung dengan musuh-musuhnya. Resep kedua, mengurangi adegan kontak badan (body contact), alias tak perlu lagi banyak berkelahi dengan tangan kosong, perbanyak adegan tembak-menembak dan aksi senjata lainnya. Dan terakhir adalah menyisipkan banyak adegan lucu dan dialog yang humoris, atau bahkan genrenya diubah dari jenis action menjadi action comedy.

Tiga hal itu bisa diamati saat melihat film-film tadi. Dalam "A Good Day to Die Hard", detektif John McClane (Bruce Willis) diceritakan tiba-tiba harus menengok putranya yang sudah menjadi agen CIA yang tengah bermasalah dalam operasinya di Moskow. Aktor Jai Courtney didapuk memerankan Jack McClane, alias John McClane Junior yang harus berjibaku menghadapi mafia dan kejahatan di ibukota Rusia itu. Pada akhirnya yang menjadi aktor utama adalah Jai Courtney yang diceritakan menjadi agen yang sangat terlatih dan tentu saja Bruce Willis tinggal mengikuti saja alur ceritanya. Namun nama besar John McClane adalah merek dagang dan Bruce Willis adalah ikonnya, karena hampir mustahil sekuel "Die Hard" diperankan oleh aktor lain.

Sementara itu, sutradara Jee-woon Kim harus memperbanyak unsur komedi saat menangani Arnold Schwarzenegger yang kian berumur di film "The Last Stand" dan bahkan film aksi itu menjadi film komedi yang kerap mengeksploitasi mantan gubernur California itu menjadi guyonan. Tidak sampai terjebak dalam komedi slapstick memang, namun dengan seringnya menampilkan wajah Arnold yang di-close up, penonton pun menjadi terhibur hanya dengan melihat tampang keriput itu.

Diceritakan tahanan gembong narkoba kelas wahid dari Meksiko, Gabriel Cortez, yang lolos dari kawalan FBI dan berencana kabur ke Meksiko yang harus melintasi kota kecil di perbatasan, Sommerton Junction. Sheriff Ray Owen (Arnold Schwarzenegger) harus menggagalkan Cotez dan komplotannya yang bersenjata lengkap yang mengacak-acak kota yang selama ini adem ayem.

Meski berkelir film aksi komedi, namun sutradara Kim memberi kompensasi kepada penonton dengan menyuguhkan aksi pengejaran Cortez yang lolos dari kawalan FBI dengan serius dan penuh dengan aksi menegangkan. Kelucuan muncul di sepanjang film, bahkan adegan tembak menembak antara Sherrif Ray dan komplotan Cortez pun tak luput dijadikan pemancing tawa penonton. Bergabungnya aktor komedi Johnny Knoxville yang memerankan karakter Lewis Dinkum, seorang tokoh antah berantah yang punya gudang senjata, menambah serunya film.

Dalam "Bullet to The Head", aktor berotot Sylvester Stallone yang memerankan penembak jitu James Bonomo harus berbagi peran dengan polisi muda Washington DC Taylor Kwon yang diperankan aktor Sun Kang. Keduanya bahu membahu untuk membalas kematian pasangan tugas mereka yang dibunuh secara kejam oleh gangster New Orleans. Walter Hill, sang pembesut film ini, kerap memaksa Stallone memamerkan ototnya yang tampak tak sekencang dulu hanya untuk membuktikan bahwa masa kejayaan Stallone belum berakhir. Hanya saja Walter Hill piawai dalam menyelipkan humor segar di sepanjang dialog film yang sedikit bisa mengobati kekecewaan penonton yang melihat aktor kesayangan mereka mulai kedodoran.

Hal lain yang menarik dari ketiga film ini adalah saat menikmati humor-humor segar yang mengolok-olok para tokoh yang mulai dimakan usia. Lihat saja saat John McClane yang tersenyum kecut saat dipanggil kakek oleh koleganya di kepolisian, dialog lucu antara sheriff Ray dan para penghuni kota Sommerton dan olok-olok Taylor Kwon terhadap partner-nya James Bonomo yang diperani Stallone.

Barangkali humor-humor itulah yang membantu ketiga film tersebut untuk menarik penonton datang ke bioskop. Resep ini juga telah terbukti sukses menjaga agar aktor-aktor laga gaek tetap eksis di dunia film. Tengok saja "The Expendables" (2010) yang dibintangi sembilan aktor laga era 90-an yang secara komersial lumayan sukses di pasar. Sekuelnya, "The Expendables 2" (2012) garapan Simon West, juga dibintangi selusin aktor laga gaek yang main bareng.

Dengan kesuksesan itulah, mereka kini tampak semakin percaya diri untuk beraksi sendiri-sendiri. Ternyata hasilnya tak mengecewakan dari sisi komersial, artinya nama besar mereka masih ada dan, yang paling penting, masih laku untuk dijual. Keberhasilan mereka sedikit banyak juga disebabkan oleh belum adanya aktor laga muda yang berhasil menjadi ikon baru. Nama-nama populer seperti Jason Stratham, Dwayne Johnson, atau Vin Diesel tampaknya belum mampu menyamai nama-nama besar itu.

Zarqoni Maksum
editor foto, penikmat film


Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use