World Press Photo 2013

Kembalinya Ruh Foto Jurnalistik

Selasa, 20 November 2012, Kota Gaza menjadi kawasan yang paling bergolak di jalur Gaza Palestina karena masih dihujani rudal-rudal Israel. Salah satu rudal menghantam rumah warga dan menewaskan bocah dua tahun bernama Shuaib Hijazi dan kakaknya Muhammad. Ibu mereka dilarikan ke rumah sakit untuk perawatan intensif tapi sang bapak tak selamat dari tragedi itu.

Ketika sekelompok orang yang membawa mayat dua bocah itu melewati sebuah gang di Kota Gaza menuju sebuah masjid untuk disalatkan, fotografer Paul Hansen yang tengah melakukan kerja jurnalistik di sana berhasil mengabadikannya. Tidak ada intifadah atau ledakan bom atau serangan rudal-rudal Israel yang menghancurkan bangunan di Gaza, namun sebuah pemandangan haru warga yang menangis pilu dan menahan amarah saat menggendong jenazah dua bocah yang tak berdosa.

Foto itu telah memukau 19 juri ajang tahunan pemilihan foto jurnalistik terkemuka World Press Photo (WPP) dan memilihnya menjadi "Photo of the Year 2013", foto terbaik yang menyisihkan 103.481 foto karya 5.666 fotografer dari 124 negara yang diumumkan di kantor WPP di Amsterdam pada 15 Februari lalu.

Dewan juri yang diketuai Santiago Lyon, wakil presiden dan direktur fotografi The Associated Press (AP), tentu mempunyai nalar tersendiri untuk memilih foto itu sebagai foto terbaik. Menurut Santiago, semua foto yang terpilih harus mencapai standar foto jurnalistik tingkat tinggi, kuat secara visual, memiliki unsur keabadian dan dapat dipahami oleh siapa saja yang melihatnya. Sementara Mayu Mohanna, anggota juri dari Peru, mengatakan foto Paul Hansen sangat kuat dan menjadi abadi.

"Kekuatan gambarnya terletak pada adanya unsur kontras kemarahan dan kesedihan dari orang dewasa dengan kepolosan anak-anak. Ini adalah gambar yang tidak akan saya lupakan," ujarnya dalam rilis resmi yang dikeluarkan WPP.

Mencermati foto itu, kita akan segera tahu bahwa anak-anak itu adalah korban perang yang tak seimbang antara tentara pendudukan Israel dan bangsa Palestina. Tidak ada korban perang anak-anak yang demikian massif di belahan dunia lain seperti yang terjadi di Gaza Palestina. Hal ini memperkuat dugaan bahwa salah satu strategi Israel adalah sebanyak-banyaknya menghabisi generasi penerus perjuangan Palestina. Setiap konflik yang terjadi di sana seringkali mengorbankan jiwa anak-anak Palestina.

Selama ini foto-foto yang muncul dari konflik di sana selalu didominasi oleh peristiwa tentang bagaimana bangsa Palestina melakukan perlawanan dengan senjata seadanya. Namun kali ini, Paul Hansen berhasil melihat sisi bagaimana nasib bangsa Palestina sesungguhnya. Palestina adalah korban konspirasi kejam negara-negara barat yang menjuluki para pejuang Palestina yang membela tanah air mereka sendiri sebagai teroris.

Paul yang bekerja untuk harian Swedia, Dagens Nyheter, barangkali tidak lagi antusias menyuguhkan foto-foto tentang gerakan intifadah, perlawanan dengan ketapel batu atau peluncuran roket-roket amatir Hamas ke arah tanah Israel, yang bisa dijadikan alasan Israel untuk memerangi rakyat Palestina, namun lebih memilih bagaimana sesungguhnya penderitaan warga Palestina yang selalu diintai maut setiap saat.

Melihat foto itu semua orang barangkali pasti akan segera menangkap pesan yang ingin disampaikan. Sebuah pesan visual yang tidak hanya mampu menggerakkan pupil mata tapi juga mampu menohok hati nurani kita. Tidak ada lapis-lapis simbol dan estetika yang menghalangi sesorang untuk memahaminya. Sebuah gabungan kesederhanaan visual (simplicity) dan ketepatan menangkap decisive moment serta kedekatan sang fotografer dengan objeknya. Ketiga unsur itulah yang sesungguhnya menjadi ruh sebuah foto jurnalistik.

Barangkali dengan foto itu simpati terhadap perjuangan bangsa Palestina akan meningkat. Tapi seperti tahun-tahun sebelumnya, penindasan dan simpati tampak tak saling berkait. Dukungan terhadap perjuangan rakyat Palestina terus mengalir, namun penindasan dan kekerasan Israel terus saja berlangsung. Semoga foto Paul Hansen tidak sekedar menjadi pemicu gelombang dukungan, tapi menjadi ikon untuk mengakhiri, atau paling tidak mengurangi, aksi kekerasan terhadap bangsa Palestina.

Secara umum hasil WWP tahun ini masih menyuarakan tragedi dan sejarah muram kemanusiaan yang seolah tak berujung, selalu berkelindan dan berpilin menyatroni tiap sudut peradaban dunia secara bergantian. Kali ini titik-titik panasnya masih menyelimuti kawasan Timur Tengah dan Afrika. Foto-foto kondisi terakhir pergolakan revolusi Arab Spring yang kini tengah melanda Suriah mendapat porsi yang besar.

Kalaupun ada hal yang mengembirakan adalah terpilihnya foto berjudul Mimin karya Ali Lutfi dari Solo, Jawa Tengah, yang meraih hadiah kedua untuk kategori "Alam Lingkungan" perorangan. Ali Lutfi yang kini menjadi kontributor koran berbahasa Inggris The Jakarta Globe menyajikan foto seekor monyet bernama Mimin yang dilatih untuk diajak mengamen di sebuah perempatan di Solo.

Penghargaan yang diraih Ali setidaknya meneruskan tradisi bahwa selalu ada karya fotografer Indonesia yang masuk dalam deretan karya jurnalistik dunia yang menerima penghargaan bergengsi itu, meski foto itu masih menampilkan potret buram eksploitasi manusia terhadap makhluk lainnya. Nampaknya tragedi tidak hanya terjadi di sudut-sudut gang kota Gaza, Ali pun berhasil memotretnya di halaman rumah republik kita.

Zarqoni Maksum
editor foto di antarafoto.com

Foto: Gaza Burial karya Paul Hansen (sumber: worldpressphoto.org)


Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use