Semifinal Liga Champions

Jerman Uber Arus

Peluit panjang wasit Bjorn Kuipers (Belanda) tak begitu terdengar karena pekik dan yel-yel pendukung BVB (Ballspielverein Borussia) alias Borussia Dortmund keburu membahana dan mendominasi cakrawala kuning yang penuh dengan aura kemenangan. Eforia penonton mengiringi Robert Lewandowski, ujung tombak kesayangan Borussia, yang berhasil menikam jantung Real Madrid hingga tersungkur menanti kematiannya. Stadion Signal Iduna Park di kota Dortmund menjadi lautan kuning hitam. Mereka baru saja membungkam opini sepakbola dunia.

Siapa yang menduga keperkasaan Real Madrid tumbang oleh pasukan zebra kuning-hitam yang bermain kesetanan pada Rabu Kamis dinihari itu? Supremasi sepakbola Spanyol seperti terhempas badai tsunami terdahsyat. Yang lebih mencengangkan, keempat gol itu dicetak Lewandowski pada menit 8, 50, 55, dan ditutup dengan eksekusi penalti pada menit ke-66 akibat pelanggaran yang dilakukan playmaker Madrid, Xabi Alonso.

Sebelum laga yang mempermalukan Madrid itu, secara sporadis Juergen Klopp (45 tahun), pelatih Dortmund, melancarkan perang psikologis terhadap rivalnya, Jose Mourinho. Suatu taktik semacam invasi awal sebelum Mou melakukannya terlebih dahulu. Beruntung Mou tak menggubrisnya. Seperti biasa Madrid memasuki stadion Signal dengan kepercayaan diri yang tinggi. Taktik Mou mendadak kehilangan momentum sejak gol yang diciptakan Lewandowski bersarang di tiang dekat kiper Madrid Diego Lopez pada menit ke-7 setelah mendapat umpan silang dari jantung kanan pertahanan Madrid. Bahkan setelah gol Cristiano Ronaldo akibat kesalahan bek Mats Hummels di penghujung babak pertama, Dortmund makin meningkatkan serangan. Mereka menggelontorkan invasi bertubi dan Lewandowski sukses berfungsi sebagai eksekutor yang menghujamkan empat belati ke jantung-hati harapan Madrid.

Barca juga menjadi korban keganasan sepakbola klub Jerman. Lionel Messi yang dipaksakan bermain oleh Tito Vilanova sama sekali tak berkutik. Tak hanya Messi, bahkan sejak tim masuk lapangan dan saling bersalaman sebagai simbol sportivitas, tak seorangpun anggota Barca yang memperlihatkan wajah optimistik. Mereka seperti terbenam dalam ketakutan. Gentar sebagai tim juara berbeda dengan gentar sebagai tim underdog, yang justru dapat mengubah rasa gentar menjadi angkara seperti yang diperlihatkan Barca saat menggulung AC Milan di markas Los Blaugrana, Camp Nou. Heynckes dan Klopp adalah dirigen dari semua lakon keberanian ini.

Kemenangan telak Dortmund 4-1 atas Real Madrid serta kehancuran Barcelona 0-4 pada malam sebelumnya, setidaknya membuat peta sepakbola Eropa berubah hanya dalam hitungan tiga jam. Hegemoni tim Spanyol mendadak berada di titiknya yang ternadir. Belum sampai 24 jam sebelumnya, orang-orang Bavaria bergempita merayakan kehancuran Barcelona yang dicukur habis oleh Bayern Munich di Allianz Arena. Messi hanya dapat menatap kecut ke arah papan skor di stadion di ibukota Jerman yang masih menunjukkan angka 0-4 meskipun 3 menit tambahan di ujung injury time telah diberikan wasit Viktor Kassai untuk mengubah keadaan. Penonton stadion memekikkan teriakan histeris, iringan orkestrasi suara penonton memang membahana sepanjang pertandingan mendukung ambisi tuan rumah dan rencana memberikan kado istimewa untuk pelatih istimewa mereka, Jupp Heycknes, yang akan meninggalkan markas kesebelasan kesayangan orang-orang Bavaria itu pada awal musim depan.

Di Allianz Arena, markas besar Bayern Munich, malam itu Heynckes berdiri di tepi lapangan dengan cool dan penuh percaya diri. Spirit yang sama juga terlihat pada seluruh pemain Bayern beberapa saat sebelum wasit Kassai meniupkan peluitnya. Dengan dingin Heynckes, mengamati pertandingan penting dalam babak yang genting itu. Masih terngiang, bagaimana Roberto di Matteo, pelatih muda Chelsea yang stylish itu berlari gembira saat pertandingan usai dan menjadi fakta kehancuran Bayern dalam kancah final piala Champions setahun silam yang kebetulan berlangsung di kandangnya sendiri. Jalan yang begitu panjang telah dilalui demi mencapai babak prestisius itu, berantakan persis setibanya di penghujung jalan.

Sekarang timnya telah unggul 3-0. Heynckes tetap konsisten menjaga ketenangan hatinya. Namun saat Thomas Mueller kembali melesakkan gol penutup sebelum digantikan Claudio Pizzaro diujung laga, mantan striker kesebelasan Jerman Barat yang legendaris ini tak lagi mampu bersikap jaim. Dia melonjak kegirangan. Penyerobotan gelar oleh di Matteo tempo hari untuk sementara terbayarkan deritanya. Beban Heynckes sebagai atlet dan pelatih sepakbola papan ataspun terbebaskan sudah. Bayern Munich hampir pasti akan mengulangi lagi kesempatan untuk membayar kesalahan sejarah trofi Champions yang diserobot dengan cerdik oleh anak-anak Kensington berkostum biru benhur. Setibanya di London, tim the blues dielukan bak dewa-dewa kehormatan Inggris. Di Wembley nanti, stadion yang terpilih sebagai arena final Trofi Champions 2013, kompetensi kepelatihan Heynckes akan diuji. Dia harus dapat memastikan kehadiran Bayern di stadion yang menjadi lokasi laga klasik Piala Dunia antara Inggris vs Jerman Barat pada tahun 1966.

Sebaliknya, dengan kehancuran telak ini, Tito Vilanova yang kalem, bakal semakin murung raut wajahnya. Apalagi jika dia teringat pada suatu masa dalam musim 1997-1998 di kancah yang sama, Barca juga pernah dipermalukan seperti ini. Di babak penyisihan grup, tim Dynamo Kiev menggunduli mereka dengan skor 0-4. Kiev akhirnya melaju sebelum dikandaskan Juventus yang terus melenggang hingga babak final menantang kampiun Iberia, Real Madrid. Sebelumnya harapan Jerman Borussia Dortmund ditekuk Madrid di babak semifinal. Akhirnya dalam laga final yang berlangsung sengit, Real Madrid berhasil meraih kembali mahkota yang telah hilang dari genggamannya sejak 32 tahun sebelumnya. Juventus malam itu menjalani partai final Piala Champions ketiganya berturut-turut tapi harus meratapi gol semata wayang dari Predrag Mijatovic pada menit ke 66 yang bertahan hingga laga berakhir. Fakta menariknya adalah, pelatih yang menukangi keberhasilan Madrid kala itu adalah Jupp Heynckes. Yang tetap dipecat setelah musim berakhir.

Jika obsesi orang-orang Bavaria ingin Bayern juara dan berjaya lagi menjadi kenyataan nanti, maka Heynckes akan menjadi pelatih Jerman pertama yang meraih dua trofi tertinggi hegemoni Eropa namun harus tersingkir setelah meraihnya. Perjalanan karir kepelatihan profesionalnya sebenarnya mirip-mirip dengan jalan yang juga dilalui Roberto di Matteo saat menghancurkan hatinya pada akhir Mei, setahun silam di stadion Allianz yang sama. Ketika itu Chelsea berhasil masuk ke areal berbahaya dan mencuri trofi Champions dalam laga menegangkan yang menenggelamkan Bayern dalam tangis yang menyesakkan dada. Kepedihan yang juga mungkin menjadi lecutan yang membuat mereka termotivasi untuk selalu tegar dan waspada.

Separuh jalan telah terlewati dengan gemilang, namun masih ada 3 jam neraka berikutnya di Santiago Bernabeu dan Camp Nou. Orang-orang Kastilia dan Katalan pasti akan melakukan vendetta. Namun kekalahan telak kedua tim Spanyol ini membuat mereka terperosok untuk melaksanakan operasi Misi Mustahil. Di antara sakratul harapan yang masih ada di dada mereka, maka posisi Madrid jelas jauh lebih baik karena Cristiano Ronaldo berhasil mencetak gol tandang yang amat penting. Target yang menyembul dari dasar gua beralaskan tombak-tombak yang lancipnya mengarah ke atas, siap menanti rontoknya atlet-atlet sepakbola terbaik di jagad ini. Sedikit saja kesalahan, maka tiga jam yang tersedia bagi kedua kampiun Spanyol itu segera menjadi ajang kematian yang hina-dina. Karena industri sepakbola hanya mengajarkan filosofi kejayaan. Tak ada tempat bagi sang pecundang, apapun prestasi yang telah mereka torehkan dalam sejarah sepakbola Eropa.


oscar motuloh
kurator, penikmat sepakbola

Foto: Pemain-pemain Borussia Dortmund merayakan kemenangan mereka atas Real Madrid (Reuters/Wolfgang Rattay)

Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use