Semifinal Liga Champions

May Day dan Handuk Putih di Camp Nou?

Tanpa moral bertanding setinggi langit ke-tujuh, kerja keras serta determinasi yang dahsyat, maka tak pernah akan ada akhir yang menggembirakan bagi fans dan segenap tim Blaugrana saat menghadapi laga neraka melawan tamu yang gagah perkasa, Bayern Munich, Kamis (2 Mei) dinihari nanti, saat dunia memperingati Hari Buruh sedunia yang dikenal sebagai May Day. Pernyataan di atas merupakan saduran bebas komentar Andres Iniesta, gelandang elegan pekerja keras Barcelona yang kalem dan jarang berbicara itu, kepada pers. Seperti jebolan akademi La Masia lainnya, katakan Xavi Hernandes dan Lionel Messi yang sama-sama pendiamnya, maka pernyataan Iniesta yang muncul di The Guardian, segera menjadi perhatian publik sepakbola seantero bumi, khususnya rekan setimnya yang memang bermain sangat buruk saat berlaga di Allianz Arena pekan silam.

Berani memainkan pola serangan ala 4-3-3 khas Barcelona Football Club di kandang Allianz Arena yang angker, berarti pelatih Tito Vilanova telah menyiapkan segala taktik dan pola penyerangan yang diselenggarakan dengan tempo dan determinasi yang tinggi. Tanpa faktor itu, nada tiki-taka yang jadi khas tim Spanyol akan melempem terbenam ke lumpur nista yang memalukan. Waktu memukul bandul detik demi detik, tapi apa lacur, neraka akhirnya tersaji akibat para pemain Barca kehilangan kendali permainannya. Efektivitas Bayern yang para pemainnya berdisiplin jauh lebih tinggi dan memainkan "total football" yang sesungguhnya langsung meruntuhkan iman bertanding tim kesayangan warga Katalan ini. Semua lini kehilangan insting untuk melakukan tugasnya, tak ada infiltrasi dan mengiris bak sembilu seperti biasanya.

Introspeksi adalah awal mula penelusuran keruntuhan. Dari sana pernyataan Iniesta menjadi suara dari suatu konsolidasi mekanisme kerja yang menuju pada pelaksanaan taktik yang tepat. Yang lebih seru adalah laga ini terlanjur digiring pers menjadi parameter kebangsaan, bukan lagi sekadar klub, seperti motto tim Barcelona yang sepanjang dekade ini mengendalikan arus hegemoni klub sepakbola dunia. Kita mahfum betapa solidnya Bayern Munich dan juga BVB Dortmund secara mental sebagai tim Bundesliga meskipun secara kelas masih dianggap belum selevel dengan La Liga Spanyol dan Liga Primer Inggris yang sangat kompetitif. Mereka hanyalah liga sekelas Belanda dan Italia yang sekarang turun derajat. Itu alasan utama mendatangkan Pep Guardiola ke Jerman, tepatnya ke Allianz Arena.

Namun Jupp Heynckes, meskipun telah berusia 67 tahun, bukanlah pelatih biasa. Dia telah berada di ujung jalan kebenaran yang seolah memutar waktu kepada takdir nasib seperti kala dia melatih Real Madrid periode 1997-1998. Para petinggi dan punggawa sepuh legenda sepakbola Jerman ikut bicara untuk mendorong moral bertanding dua wakil Bundesliga itu ke ajang neraka yang sesungguhnya. Franz Beckenbauer, Uli Hoeness, Mathias Sammer, Karl Heinz Rummenige sampai Ottmar Hitzfeld perlu angkat bicara. Mereka seperti membisikkan pada 22 pemain yang akan bertarung dengan wasiat khusus, "ingat kalian membawa misi keramat, kalian tengah bertempur atas nama negara republik Jerman, yang harus kalian bela hingga titik darah terakhir. Ini bukan sekadar laga klub, ini perebutan supremasi. Kita harus menenggelamkan orang-orang Iberia itu di perairan mereka sendiri".

Di kubu Madrid, manajemen klub kaya itu terpaksa mendatangkan ujung tombak legendaris mereka, Alfredo Di Stefano yang sangat renta, juga untuk memompa semangat para pemain Los Blancos yang kehilangan nyali bertarung pekan silam sehingga di koyak-koyak empat gol Robert Lewandowski. Pelatih timnas Spanyol yang juga mantan pelatih Madrid, Vicente del Bosque, menyatakan bahwa tim-tim Spanyol akan bertarung untuk membalikkan keadaan. Jika pertarungan ini telah bergeser jalur mewakili negara dan otomatis bangsa, maka ini adalah pertarungan ulangan semi-final Piala Dunia Afsel 2010 di Durban, ketika racikan pemain-pemain Madrid-Barca vs Bayern-Dortmund bertarung atas nama negeri mereka.

Del Bosque adalah pelatih gaek yang pernah mempersembahkan dua trofi Liga Champions untuk Madrid dalam kurun tiga tahun. Dia adalah figur penerus pelatih renta berusia 74 tahun, Luis Aragones, yang berhasil mempersatukan hati pemain-pemain Spanyol untuk meraih supremasi Eropa dengan memenangkan Piala Eropa 2008, dimana Fernando Torres mencetak gol semata wayang untuk membuat tim Jerman berduka pada malam final. Setelah Aragones lengser, maka Del Bosque mengisi kursi lowong yang seolah diperuntukkan bagi pelatih senior yang mampu menjaga kejiwaan anak-anak Spanyol yang berjiwa pemberontak namun sangat berbahaya saat mereka menyatu hati untuk melibas siapapun lawan mereka.

Di final Piala Dunia 2010, Belanda bertekuk lutut, dan ramalan pelatih flamboyan Jerman Joachim Loew menjadi kenyataan: kesebelasan yang mengalahkan kami di semifinal sangat layak untuk menjuarai turnamen ini. Padahal lawan mereka, kesebelasan Belanda, sedang dalam form karena mereka baru saja mengalahkan favorit Brasil dan mengincar juara dunia untuk pertama kalinya, karena dua final sebelumnya berakhir dengan airmata. Partai semifinal Piala Dunia sendiri berlangsung sengit, tempo tinggi menekan pertahanan Jerman, sampai pada menit ke 72:34 kedudukan masih imbang kacamata ketika playmaker Xabi Alonso bersiap-siap mengambil sepak pojok di jantung kanan pertahanan Jerman yang dikawal kiper tangguh Manuel Neuer.

Bola matang Xabi yang notabene juga adalah playmaker Madrid melambung ke tengah areal penalti Neuer yang padat oleh pemain, termasuk dua bek Barcelona Gerard Pique dan Carles Puyol berlari lalu terbang menyongsong bola maut yang menyentuh tandukan Puyol terlebih dahulu melewati kepala-kepala dan juga kiper Neuer yang juga merupakan palang pintu terakhir Bayern Munich, yang tak mampu menjangkau bola yang mengarah keras ke jala Jerman. Sejak gol yang tercatat pada menit ke 72:37 itu, Jerman tak lagi mampu menjalankan taktik mereka yang terbenam oleh gol mematikan itu. Spanyol berangkat ke final membiarkan pemain-pemain Jerman yang tertunduk lesu di lapangan hijau.

Neuer pasti masih merasakan sakit itu dan kali ini tak boleh terjadi lagi. Dia dan seluruh rekan-rekannya pasti akan sepenuhnya yakin pada senioritas Heynckes seperti juga kala Spanyol ditangani Aragones dan Del Bosque. Heynckes dipecat pada tahun dimana dia mempersembahkan Trofi Liga Champions karena Los Blancos ternyata hanya bercokol pada urutan ke-4 klasemen akhir kompetisi La Liga. Itu berarti terpaut 11 poin dari sang juara, Barcelona, musuh bebuyutan Madrid yang kini ditantang oleh tim masa kininya Heyckes, Bayern Munich. Kenangan itu kini hadir kembali di Camp Nou, stadion termegah di Eropa, yang mampu menampung 98.934 penonton. Stadion ini masih lebih besar dari Wembley (97.000 penonton), London yang baru selesai direnovasi pada tahun 2007 dan akan menjadi ajang perhelatan final pada 25 Mei mendatang.

Demi misi Wembley, Heynckes datang untuk bertarung di Camp Nou. Dengan materi jiwa muda, berfisik prima, dengan intelejensia yang tinggi, maka Barca akan kesulitan berbuat banyak dalam wilayah Neuer, Dante, David Alaba dkk. Anak-anak muda Bayern yang telah menyatakan tekad berperang tanpa gentar sampai darah terakhir mereka. Heynckes, pelatih gaek berusia 67 tahun, tentu telah menyiapkan taktik yang paling jitu untuk tampil pada malam genting yang bertepatan dengan peringatan Hari Buruh Internasional itu. Jika semua berjalan dengan lancar maka inilah saatnya Tito Vilanova beroleh suatu pelajaran berharga perihal permainan kehidupan, seperti Konfusius mengajari murid-muridnya dalam praktek kerja di lapangan kehidupan yang sesungguhnya. Heynckes kini telah sampai di bekas pelabuhan Pep, yang akan menggantikan dirinya pada awal musim depan, dan mungkin akan memberi resep jitu untuk Tito agar tak perlu meneriakkan tanda bahaya: “Mayday… Mayday… Mayday” karena kapal yang dinakhodainya telah keburu karam.


oscar motuloh
kurator dan penikmat sepakbola

Foto: Pelatih Bayern Munich Jupp Heynckes saat laga leg pertama semifinal Liga Champions melawan Barcelona di stadion Arena, Munich, 23 April 2013 (Reuters/Kai Pfaffenbach)


Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use