Kepemimpinan Dalam Sepakbola dan Pers (Bagian Kedua)

Harimau! Antara Fergie, Mou dan Mochtar Lubis

Fergie resmi menutup hari-hari bersejarahnya saat menandangi Stadion the Hawthorns, markas besar the baggies, pasukan berseragam hitam-putih vertikal saling menyilang seperti zebra. West Bromwich Albion (WBA) terbilang sebagai kuda hitam yang meraih peringkat ke delapan pada klasemen akhir Liga Primer Inggris musim ini. Meskipun tak lagi berstatus sebagai laga menentukan, pertarungan pekan terakhir dalam ajang pamungkas ini berlangsung dalam tempo tinggi, karena anak-anak Setan Merah ingin memberi kado terakhir yang sungguh istimewa bagi pelatih abadi mereka, Sang Harimau lawas yang tetap perkasa di usia senjanya. Tapi hasrat saja tak cukup. Anak-anak WBA justru bermain tanpa beban, mereka tampil luar biasa inspiratif dan tentu saja, menghibur. Sementara anak-anak Manu bak setan yang terlena, mereka sudah unggul 2-5 sampai menit ke 68 saat mantan punggawa Manu, Ben Foster, hanya bisa mnggelengkan kepala begitu Chicarito membobol gawang WBA untuk kelima kalinya.

Setelah itu tim Setan Merah mengendurkan permainan seraya menurunkan tempo sampai tiba waktunya anak-anak WBA yang bermain kesetanan mencetak tiga gol dalam 10 menit waktu tersisa di penghujung laga untuk menyamakan kedudukan 5-5! Sepuluh gol dalam 90 menit. Meskipun niat mempersembahkan kado anak-anak Manu terbatalkan, namun pertarungan pamungkas itu merupakan suatu laga happy-ending bagi segenap penonton, termasuk Fergie. Seluruh penonton bersukacita, apalagi ketika Fergie menyambangi lalu menjabat erat pelatih the baggies, Steve Clarke, mantan bintang Chelsea yang juga orang Skotlandia. Dia lalu berkeliling lapangan melambai tanda sayonara kepada para fans berat Setan Merah dan juga pendukung tuan rumah yang terus bertepuk dan meneriakkan penghormatan untuk Sang Legenda hidup yang pada musim depan akan duduk di tribun kehormatan sebagai Direktur Kehormatan Teknik Manu, bersebelahan dengan legenda Manu lainnya, Bobby Charlton, yang selama ini duduk sendirian di sana.

Fergie telah menggenapkan teori pengelolaan kepemimpinan klasik Peter Drucker dengan cara, gaya dan kharisma Sang Harimau yang tak hanya gemar mengaum tapi mempersembahkan sejumlah gelar prestisius dan model kepemimpinan yang tak lekang digerogoti jaman. Sementara itu di kandang Real Madrid, Mou resmi dilepas buat dipinang klub manapun, termasuk Chelsea yang sangat berambisi memboyongnya kembali ke Stamford Bridge. Kepergiannya dirayakan pers Spanyol dengan cerca dan maki. Madridnistas sejatinya tak rela Real dilatih oleh seorang Portugis, musuh dalam selimut orang-orang Spanyol dalam catatan sejarah. Julukan the Special One yang diproklamirkan Mou untuk dirinya, tercampakkan di sana. Di tanah orang-orang Kastilia yang sangat merindukan kembalinya hegemoni sepakbola Benua Biru ke pangkuan mereka.

Harian sepakbola terbesar di Spanyol, Marca, menuliskan headline sinis berupa ucapan terima kasih pada Mou untuk tiga tahun yang tak terarti apa-apa. Sementara koran lainnya, El Mundo Deportivo, bahkan menyebut kepergian Mou ibarat suatu trofi bagi Real Madrid. Tapi sorotan paling sinis pada gaya kepemimpinan Mou terucapkan dari Johan Cruijff, legenda Barcelona yang telah lama sakit gigi mengamati perangai Mou yang kali ini tersandung kulit pisang yang dijatuhkannya sendiri. Pada pers Spanyol Cruijff melontarkan kritikannya, "Madrid adalah tim yang sangat baik, namun akan lebih baik seandainya musim ini Madrid bukan ditangani Mourinho. Dan alasan mereka belum mencapai apa-apa musim ini, adalah karena tingkah lakunya". Arogansi dan gaya kepemimpinan Mou tentu adalah ciri yang melekat pada dirinya. Fergie dan Jupp Heynckes tak menganut paham ke-PR-an macam yang diterapkan Mou. Bahkan pelatih seflamboyan Cesar Luis Menotti tak melakukannya.

Pers mirip dengan sepakbola. Karakteristik insannya hanya dapat terbentuk dari integritas pribadi yang kelak menjelma menjadi kekuatan yang dibutuhkan oleh institusi pers untuk melayarkan bahtera misi dan visi jurnalistiknya secara kolektif. Dari hilir, profesionalisme jurnalistik berlayar menuju ke hulu yang bernama trust alias kepercayaan. Dialah matahari bagi jurnalisme yang menyinari jiwa segenap insan pers, sekaligus dalam tinjauan pers sebagai industri. Ketika Kantor Berita Antara didirikan oleh empat pemuda yang belum berusia 30 tahun pada 13 Desember 1937: Adam Malik Batoebara (20 tahun), AM Sipahoetar (21), Pandoe Kartawigoena (23) dan Soemanang Soeriowinoto (29), integritas dan karakter mereka sebagai pemuda yang memilih pers sebagai ajang perjuangan Indonesia segera memperoleh determinasinya untuk melayarkan sampan kecil mereka mengarungi samudra kebebasan. Saat kemerdekaan Indonesia diproklamasikan pada 17 Agustus 1945, maka sampan itu telah menjadi bahtera pers Indonesia yang berdaulat.

Pada bahtera itu kemudian pemuda Mochtar Lubis menggabungkan diri pada 1945. Pria jangkung ini adalah putra Demang Kerinci, yang sempat menjadi guru SD di pulau Nias sebelum hijrah ke Jakarta pada masa kolonialisme Jepang. Dia bekerja sebagai anggota tim yang memonitor siaran radio sekutu di luar negeri untuk keperluan Gunseikanbu, Kantor Pemerintah Bala Tentara Dai Nippon. Dari catatan mendiang Rosihan Anwar, wartawan seangkatannya, Mochtar dianggap sebagai wartawan yang paling kokoh mempertahankan prinsip jurnalistik yang diyakininya. Dia, tulis Rosihan adalah wartawan yang paling berani menempuh risiko ketimbang empat wartawan lain yang menjadi sahabatnya, seperti BM DIah (Merdeka), S Tasrif (Abadi), dan Rosihan Anwar (Pedoman). Sikap militan Mochtar menyebabkan dirinya terjeruji dalam penjara Soekarno (9 tahun) dan sebulan di masa rezim Soeharto karena kasus Malari 1974, sekaligus memberangus harian Indonesia Raya untuk selamanya.

Setelah mengawal Biro Antara Jakarta karena Kantor Berita Antara ikut hijrah bersama Republik ke Yogyakarta, maka saat kembalinya pemerintah berdaulat Soekarno-Hatta ke Istana Merdeka, Mochtar mendirikan harian Indonesia Raya pada 29 Desember 1945. Janin yang begitu didambakannya. Pada tajuk pertama harian tersebut, Mochtar menuliskan antara lain, "Dalam badan penerbitan ini tergabung wartawan-wartawan Indonesia yang berpikiran merdeka, wartawan-wartawan yang tidak diikat oleh pendirian partai atau sesuatu golongan. Yang dikejar mereka hanya tujuan-tujuan jurnalistik semata-mata, yaitu mempertahankan kemerdekaan pers nasional yang kuat dan bebas serta mempertinggi mutunya jurnalistik Indonesia sejalan dengan kemajuan di lain lapangan yang kini diperjuangkan dengan hebat oleh segenap bangsa Indonesia". Mochtar bertahan di Antara hingga 1952, sebelum meninggalkan tempatnya menempa ilmu jurnalistik praktis untuk pertama kalinya, karena berselisih paham dengan pemred Antara Djawoto yang berpaham komunisme.

Persilangan pendapat adalah hal yang sangat lumrah dalam pers, tapi krisis kepemimpinan lain urusannya. Usai ditahan Orde Baru, Mochtar meluncurkan novel termasyhurnya, "Harimau! Harimau!", yang diterbitkan Pustaka Jaya pada tahun 1975 yang kelak meraih sejumlah penghargaan sastra prestisius. Dalam kisah yang dibangun oleh sejumlah karakternya, Mochtar menyorot dengan peka lemahnya tugas kepemimpinan Wan Katok dalam kelompok pencari damar di hutan yang ternyata juga dihuni oleh seekor harimau lapar yang menjadi tokoh utama dalam novel ini. Pertemuan kedua tokoh ini membuka tabir karakteristik Wan Katok yang sesungguhnya. Dia ternyata hanyalah pemimpin cemen yang gagal mengatur serta membina hubungan yang lebih baik antar bawahannya. Dia juga tak mampu melindungi anggota kelompoknya dari serangan lawan. Dia hanya mementingkan keselamatan dan kepentingan diri sendiri.

Adapun yang menjadi penyebab terjadinya permasalahan demikian adalah kepemimpinan yang bersifat lemah dan pura-pura. Kehebatan pemimpin hanya di mulut saja. Mulanya, memang dia dianggap sebagai pemimpin yang hebat dan berwibawa. Tetapi ketika dia dengan kelompoknya berada dalam suatu bahaya, dia gagal memperlihatkan semua janji-janji yang pernah diungkapnya dengan perkasa di depan anak buahnya. Akibatnya, anggota kelompok tak lagi menaruh hormat dan malah berbalik menentang kepemimpinannya. Semua kedok psikologis para karakter Mochtar dalam novel "Harimau! Harimau!" kemudian menggelinding menjadi alterego bagi siapapun. Bisa kepemimpinan Soekarno, Soeharto, Harmoko, Djawoto, bos agensi jurnalistik atau pemred manapun yang menganut paham Wan Katok. Saat kepercayaan lenyap, maka kharisma yang menjadi aura integritas otomatis akan menguap bersama puing-puing kepemimpinan yang gagal diembannya.

Kharisma seperti juga kebajikan dalam kehidupan akan terus kelihatan sebagai jiwa, tak sekadar di atas pusara para figur jurnalistik macam Mochtar Lubis atau Rosihan Anwar. Karena kharisma akan mewangi semerbak kemanapun. Dia akan terbawa abadi menyatu dengan cakrawala kehidupan.

Tak percaya? Sebut nama mereka-mereka yang wafat dalam keagungan. Jika ada getar penghormatan pada aliran syaraf kita, itu artinya kharisma tersebut melekat pada mereka untuk menjiwai refleksi sepak terjang kehidupan kita. Sementara bagi mereka-mereka yang masih hidup, memimpin dengan kebajikan, egaliter dan profesional adalah cara agar kharisma itu terus terpelihara hingga akhir hayat memanggil mereka pulang ke asalnya. Soal dalil Drucker? Yang pokok adalah bukti kepemimpinan, bukan retorika atas dalil-dalil.

"Setiap orang wajib melawan kezaliman di manapun kezaliman itu berada. Salahlah bagi orang yang memencilkan diri, dan pura-pura menutup mata terhadap kezaliman yang menimpa diri orang lain."
- Mochtar Lubis dalam "Harimau! Harimau!"

oscar motuloh
pewarta foto Antara

Foto: Jose Mourinho (REUTERS/Sergio Perez)


Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use