Mengenang JJ Cale

Kala Cocaine Menggapai Nirwana

Tata lampu di Budokan Teater, Tokyo, yang terkenal itu perlahan meredup. Penghujung konser akhirnya tiba. Keriuhan dan yel-yel anak muda Tokyo bergemuruh melantangkan permintaan tambahan lagu. Cuaca Desember yang dingin memerangkap Tokyo, kecuali di dalam gedung berarsitektur tradisional dengan kubah oktagonal yang dibangun tahun 1964 dan pernah disinggahi kelompok the Beatles dua tahun kemudian. Suhu hangat kental terasa akibat gegap gemuruh yang terus berlangsung. Panggung telah gulita, namun hanya sebentar karena gemerlap lampu kembali memberkas menyoroti pentas. Gempita penonton semakin menjadi. Gitaris legendaris itu kembali menapak panggung sambil melambaikan tangan ke arah histeria massa dari belasan ribu penonton belia Jepang. "Clapton is God" yang dikumandangkan di Inggris menjalar ke Eropa serta menyeberang ke tanah Amerika. Kemudian menemukan massanya yang besar di Jepang.

Di panggung Eric Clapton memekikkan "Cocaine", satu komposisi yang dicuplik dari tembang pertama pada album "Slowhand" (1977 RSO Record). "Cocaine" diciptakan J.J. Cale, gitaris dan komposer blues terkenal AS yang adalah sahabat dan juga "guru" dari Clapton, khususnya dalam menggali akar blues pinggiran Amerika demi memperkuat karakter jiwa dan perangai musiknya.

Di depan pentas, para penonton telah hanyut bersama irama delta blues-rock yang digelindingkan dengan padu. Seketika karaoke massal melanda Budokan. Musisi di pentas dan penonton saling bersahutan memekikkan lirik. If you got bad news / You want to kick them blues / Cocaine. When your day is done / and you got to run / Cocaine. She don't lied … Cocaine. Itulah nomor yang menurut Clapton merupakan sebentuk pernyataan anti-narkoba. "Silahkan simak liriknya dengan teliti. Anda akan merasakannya," dalih Clapton pada majalah Rolling Stone.

Pada akhir tahun 1979 itu, Eric Clapton baru berusia 34 tahun. Untuk pertama kalinya dia tampil di Jepang bersama band blues-nya (Clapton: gitar, vokal; Henry Spinetti: drum; Chris Stainton: keyboard; Albert Lee: gitar pengiring dan Dave Markee: bass) setelah menjalani masa rehab yang panjang akibat kecanduan narkotika. Clapton adalah idola generasi muda Jepang yang melahap semua album-album "come-back" Clapton sejak "461 Ocean Boulevard" (1974), "On Every Crowd" (1975), "No Reason to Cry" (1976) dan "Backless" (1978). Kehadiran Clapton kali ini terkait dengan tur promosi album "Backless". Tapi secara anatomi musik, J.J. Cale cukup berpengaruh pada nafas blues yang disajikan Clapton pada album-album berikutnya di kemudian hari.

"Dia adalah musikus besar yang sangat saya kagumi," komentar Clapton pada Vanity Fair dalam suatu wawancara. Sampai kabar duka itu datang dari Rumah Sakit Scripps di LA Jolla, California, AS, pada Jumat, 26 Juli 2013, pukul 20.00 waktu setempat. Cale dinyatakan wafat karena serangan jantung.

Blantika musik blues dunia mengheningkan cipta untuk menghormati arwahnya. Usianya 74 tahun. Penyanyi Cheryl Crow pada AP menyatakan terkejut mendengar warta duka yang didengarnya pas baru mendarat di bandara dari suatu perjalanan. "Sungguh tragis. Padahal lagu-lagunya selalu membuat saya gembira," kata Crow.

Cale adalah musikus terkenal yang rendah hati. "Saya orang belakang layar. Saya senang jika lagu saya dapat diapresiasi meskipun dinyanyikan dan membuat orang lain terkenal, saya tak perduli. Yang penting karya saya dapat dinikmati orang lain," kata Cale kepada Chicago Sun Times pada suatu hari.

Di luar AS, Cale lebih dikenal karena Clapton selalu menyertakan sepasang komposisi ciptaannya dalam konser-konsernya hingga saat ini. Semuanya bermula ketika "Cocaine" dan "After Midnight" masuk dalam materi double-album "Just One Night" (1980) yang dicuplik dari live di Budokan Teater tadi. Album live yang sungguh nge-blues itu kemudian dirilis oleh RSO Record, dan diklaim oleh sejumlah media musik terkemuka global sebagai salah satu album live terbaik sepanjang masa. Dia disejajarkan dengan album live Jimi Hendrix ("Band of Gypsys"), Lynyrd Skynyrd ("One More From the Road"), the Who ("Live at Leeds"), Rolling Stones ("Get Yer Ya-Ya’s Out"), Allman Brothers Band ("At Fillmore East") dan Metallica ("San Francisco Symphony Orchestra" bersama Michael Kamen).

Cale memproduksi 14 album semasa hidupnya. Dilahirkan dengan nama John Weldon Cale di Oklahoma City, Tulsa, dia berhasil membentuk karakter musikalitasnya dengan aliran-aliran musik Amerika khususnya blues yang mengalir deras dalam darahnya.

Dengan suara santai yang berat karena mulutnya nyaris memakan microphone, musik Cale menjadi khas. Vokal dan permainan gitar dengan melodi yang dipersatukannya dalam kord gitar membuat penampilan musik blues gaya Cale terdengar begitu berjiwa. Dia seperti terayun di tengah variasi nada-nada. Yang terkadang kita dengar dalam musik folk, rockabily, cajun, secuplik jazz dan tentu saja musik rock cadas. Suara yang terdengar santai dan terkesan seperti ogah-ogahan itu justru menjadi cap musik ala J.J. Cale. Kharisma dan karakternya yang bebas setidaknya mempengaruhi gaya musik dari Mark Knopfler, Neil Young, Tom Petty, Rickie Lee Jones dan Carlos Santana.

Setelah "After Midnight" yang riang menjadi hit di Inggris dan AS, Cale juga membuat lagu yang kemudian menjadi merek dagang kelompok southern rock terkenal, Lynyrd Synyrd, dan menjadi lebih populer lagi. Komposisi "Call Me the Breeze" kemudian menjadi lagu legendaris yang menjadi nomor lain Cale yang menglobal. Bisa dikatakan sekelas Carlos Santana yang menjadikan "Oye Como Va" ciptaan Tito Puente menjadi anthem Santana, nyaris dalam setiap konsernya di seluruh dunia. Meskipun tak terlalu sukses secara komersial, album-album Cale selalu mendapat kritik positif dari para pengamat terkemuka di seantero negeri Paman Sam. Sejak meluncurkan album "Troubadour" pada 1974 hingga takdir memanggilnya, Cale memegang prinsip seperti yang dilakukan Arlo Guthrie, Neil Young, Pete Seeger dan tentu Bob Dylan pada ideologi yang berpusat pada suara bani kerah biru. Setidaknya menyuarakan kata hati rakyat AS yang terpinggirkan.

"Saat saya berjuang di antara para jawara gitar 70-an, saya melihat JJ Cale seperti obor dalam kegelapan. Dia menuntun saya menyusuri lorong yang lain sehingga menemukan keutuhan sebentuk geliat nada," komentar Clapton pada Rolling Stone. Sementara Cale memuji Clapton sebagai "figur yang sesungguhnya dari seorang gitaris yang dapat bernyanyi dengan baik. Itulah yang membedakan kami".

Persahabatan dua musikus gaek itu terbina sejak awal 70-an kala Clapton bergabung dengan satu band rock-blues "Delaney & Bonnie Bramlett" dan berkesempatan meluncurkan satu cakram single yang merilis "After Midnight" pada tahun 1970. Baru dua tahun kemudian Cale meluncurkan album perdananya, "Naturally" yang berisi "After Midnight" serta "Call Me the Breeze" yang kemudian dipopulerkan Lynyrd Skynyrd. Clapton kemudian jatuh bangun bersama narkotika. Baru tahun 1973, Clapton bangkit dan beraksi dalam satu konser yang diberi tajuk "Eric Clapton Rainbow Concert". Dalam konser yang ditutup dengan "After Midnight" tersebut, Clapton tampil bersama Ron Wood, Steve Winwood, Jim Capaldi, Rick Grech dan Pete Townshend.

Setelah konser itu Clapton berhasil come-back dengan meluncurkan album monumentalnya, "461 Ocean Boulevard" (1974), yang agak santai dengan sentuhan reggae dan sedikit ramuan gospel. Sentuhan dan kepekaan Clapton pada kord dan harmonisasi yang halus mengingatkan para penggemar folk-blues pada gaya musik JJ Cale.

Pada festival para gitaris (blues) yang disebut "Crossroads 2004" di Texas, Clapton sempat bermain bersama Cale dalam satu panggung. Dari pembicaraan setelah penampilan itu, muncul ide membuat album bersama. Dua tahun kemudian ide itu menjadi kenyataan. Album kolaborasi "Road to Escondido" diluncurkan dan meraih Grammy untuk kategori album blues terbaik tahun itu. Nama album diambil dari nama kota di California Selatan yang kebetulan berdekatan dengan kediaman Cale. Dalam album itu, mereka bernyanyi bersama, dibantu beberapa sahabat sebagai bintang tamu, Derek Trucks (slide gitar), John Mayer (gitar), Taj Mahal (harmonika) dan almarhum Billy Preston pada keyboard.

Dari malam bersejarah bagi Clapton di Teater Budokan yang menampilkan dua nomor Cale tempo hari, sampai Festival Crossroads dimana dua sahabat itu tampil berdampingan, seperti ada pertanda dalam kehidupan jika dikaitkan dengan komposisi blues. Yakni, waktu yang merebut jaman. Lirik Clapton dalam "Sporting Life Blues" tentu bukanlah firasat supranatural. Dia adalah ungkapan kejujuran seperti sifat filosofis dari blues. Melalui musik, ekspresi harus diungkapkan. Seperti mentari yang menanti fajar. Memainkan jemari yang terikat dalam cincin pipa, Cale memainkan sepucuk blues. Melengkingkan jeritan yang keluar dari sentuhan jari pada dawai-dawai gitarnya. Namun kali ini Cale berhadapan dengan takdir. Blues menjelma menjadi requeim, yang akan mengiringi pencipta "Cocaine" itu ke keabadian di atas sana.

I've got a letter
From my home
Most of my friends are
Dead and gone
I begin to worry
I begin to wonder
'bout days to come.


-Eric Clapton & JJ Cale
("Sporting Life Blues" dari album "Road to Escondido")

oscar motuloh

Foto: JJ Cale dalam sebuah konser 25 April 2006 (Wikipedia/Louis Ramirez)


Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use