Jelang Pemakaman Nelson Mandela

Nyanyian Perdamaian Dari Pusara Kecoklatan

Dunia masih berduka sepanjang pekan ini. Kepergian Nelson Mandela dalam usia 95 tahun, Jumat silam, masih sulit diterima masyarakat dunia pecinta perdamaian. Padahal sejak 2010, ketika Afrika Selatan menjadi tuan rumah Piala Dunia, dirinya telah dirawat intensif karena penyakit kronis yang dideritanya. Setelah menyaksikan penutupan keriuhan perhelatan terbesar olahraga di seantero jagat itu yang berlangsung sukses, Mandela bolak-balik dirawat secara intensif di RS. Penyakit paru-parunya nan akut yang konon mulai diidapnya saat mendekam di penjara adalah pembunuh yang merengut nyawanya.

Kabar kematian Mandela yang dalam klan Zulu-nya akrab disapa dengan Madiba, diumumkan Presiden Afsel Jacob Zuma dengan wajah murung seraya menyampaikan 10 hari masa berkabung nasional. Puncaknya adalah prosesi upacara pemakaman kenegaraan bagi mendiang Madiba yang dijadwalkan berlangsung tanggal 15 Desember mendatang di desa kecil bernama Qunu, yang terletak di provinsi Eastern Cape. Di kawasan itulah Madiba dibesarkan sejak lahir di desa Mvezo pada 1918. Setelah ayahnya tak lagi menjabat kepala klan, keluarga Mandela pindah ke desa tetangga. Kala itu Madiba masih orok dan Qunu menjadi tempat tujuan mereka. Di tanah berundak dan berbukit inilah Madiba melewatkan masa kanak-kanan hingga dirinya beranjak remaja.

Di desa kecil (hanya berpenduduk kurang dari 250 jiwa) ini, Mandela dalam biografinya yang terkenal, "Long Walk to Freedom" mengisahkan sepotong masa kecilnya yang bahagia. Dengan gembira dia bermain pedang-pedangan dengan bocah sebayanya, main di ladang dan membantu ayahnya menggembala ternak mereka.

Seluruh kehidupan masa mudanya kemudian tercatat dalam sejarah kerap berhubungan dengan penahanan dan penjara. Maklum, dirinya kemudian menjadi aktivis politik yang menggelindingkan gerakan anti-apartheid yang butuh syaraf baja untuk menjalankannya. Kelak setelah dibebaskan oleh rezim Willem de Klerk, yang kemudian menjadi wakil presiden di era baru, Madiba membangun rumah sederhana di tanahnya dan setiap ada kesempatan dia menikmati pemandangan perbukitan dari jendela rumah di Qunu.

Di sepotong tanah dimana kebahagian masa kecil Madiba itulah berdiri Museum Nelson Mandela yang berisi kisah masa kecil dan tentu perjuangan bersama rakyat Afrika Selatan meruntuhkan tirani apartheid yang keji itu. Museum itu berdiri di antara pondok dan rumah penduduk yang masih sangat jarang, diterpa angin pesisir yang terkirim bersama hembusan Tanjung Pengharapan. Hembusan semilir yang sama dengan yang menerpa wajah Madiba setiap dia memandang pesisir dari kisi-kisi penjara Robben. Mendiang Nelson Mandela, yang oleh de Klerk disebut sebagai manusia sekaligus negarawan terpenting abad ini, akan dikebumikan di tanah bahagia ini.

Menlu Afsel Maite Nkoana-Mashabane mengatakan acara prosesi pemakaman Mandela bakal dihadiri 53 kepala negara dan perwakilan pemerintahan. Namun demikian, jumlah final pemimpin dunia yang akan hadir dalam upacara penghormatan pada Selasa ini, dan pemakaman pada Minggu pekan depan belum dapat dipastikan kehadirannya secara formal. Kantor Berita Reuters memberitakan Presiden AS Barrack dan Michele Obama akan hadir bersama empat bekas presiden George W. Bush, Bill Clinton dan Jimmy Carter. Ada juga nama Pangeran Charles, PM Inggris David Cameron, Presiden Prancis Francois Hollande, serta Sekjen PBB Ban Ki-moon.

Presiden Jerman Joachim Gauck, Presiden Komisi Uni Eropa Jose Manuel Barroso, Raja Belanda Willem-Alexander, dan Putra Mahkota Spanyol Felipe menyatakan memastikan hadir. Juga Presiden Brazil Dilma Rouseff, Presiden Palestina Mahmoud Abbas, dan Presiden India Pranab Mukherjee kemungkinan besar bakal menghadiri upara kenegaraan terbesar di dunia selama beberapa tahun ini. Presiden Iran Rouhani belum memastikan kehadirannya. Sementara Presiden Indonesia SBY, menurut Juru Bicara Presiden Julian Aldrin Pasha, dipastikan melewatkan kesempatan itu karena harus bertandang ke Tokyo. Begitu juga dengan PM Israel, Benyamin Netanyahu, yang membatalkan keberangkatannya karena ingin mengirit biaya perjalanan PM Israel ke luar negeri.

Para pesohor dalam blantika musik tak ketinggalan menyatakan akan hadir dan mengambil bagian dari prosesi penting bagi salah satu dari sangat sedikit negarawan terpenting abad ini. Peter Gabriel, pendiri kelompok rock-progresif Inggris, yang sejak penahanan Mandela tempo hari telah meneriakkan pembebasannya melalui gerakan yang didukung para pemusik dunia. Nomornya yang berjudul "Biko" menjadi hits dimana-mana. Gabriel mengangkat perjuangan aktivis dan wartawan anti-apartheid mendiang Stephen Bantu Biko yang tewas oleh kekejaman apartheid. Punggawa U2 Bono serta Paul Simon yang pernah membuat album "Graceland" bersama musisi Afsel mungkin akan terbang untuk menghormat Madiba.

Mereka akan bergabung bersama Marti Ahtisaari, mantan PM Finlandia, yang pada 2007 lalu membentuk kelompok musik The Elders untuk mempromosikan perdamaian dan hak asasi manusia, dimana dalam promosinya Mandela juga ikutan serta. Pembawa acara terkenal Oprah Winfrey juga menyatakan akan hadir. Presiden Afsel Jacob Zuma mengumumkan, "mantan presiden Mandela akan mendapatkan upacara pemakaman kenegaraan, di Qunu, Provinsi Eastern Cape, pada 15 Desember mendatang".

Sementara itu, perayaan doa nasional digelar pada 10 Desember di Stadion Soccer City, Soweto yang berkapasitas 95.000 jiwa. Stadion inilah yang menjadi tempat final Piala Dunia 2010 yang mempertemukan tim Spanyol vs kesebelasan Belanda. Di tempat inilah Mandela tampil di depan publik untuk terakhir kalinya. Pemerintah bakal menyiapkan tiga layar raksasa di luar stadion tersebut agar warga dapat mengikuti prosesi penghormatan untuk terakhir kalinya. Juru bicara pemerintah Afrika Selatan Phumla Williams mengatakan sejumlah kepala negara akan menghadiri upacara doa bersama di Soweto dan sebagian lainnya akan menghadiri upacara pemakaman Mandela.

Sayangnya, saat semua kenangan perihal bagaimana sulitnya Madiba mempersatukan suku bangsa yang terberai setelah pemerintahan apartheid runtuh, pesan perdamaian seperti sulit menemukan tempatnya. Bahkan untuk di kawasan itu sekalipun. Rekonsiliasi bahkan hanya menjadi semacam gincu pemanis yang tak lagi mampu memupur keindahan jiwa kelompok manusia pendamba kekerasan. Saat para kepala negara menghormati Madiba, baik dalam doa bersama ataupun pada prosesi pemakaman nanti, di Republik Afrika Tengah kelompok masyarakat saling bunuh untuk kepentingan politis yang kerdil. Sepeninggal kepemimpinan Jean Bedel Bokassa yang mengangkat dirinya sebagai kaisar, republik berpenduduk 5 juta jiwa itu seperti menuai pertikaian yang seolah tak berujung. Saat ini puluhan ribu penduduk Republik Afrika Tengah mengungsi ke negeri tetangga mereka.

Rasanya semilir angin perdamaian tak kunjung mampu mampir di sana. Sementara tak lama lagi jasad Madiba akan bersatu kembali dengan leluhur tanah kelahirannya. Bersatu dalam pusara bahagia masa kecilnya. Sebentuk misteri keagungan kehidupan telah terkuburkan dengan gunungan kembang-kembang cerah yang seolah meratap pada langit. Para tamu kehormatan mungkin telah berlalu ke hotel mewah tempat mereka menginap untuk segera berkemas pulang. Meninggalkan pusara yang sejatinya takkan pernah sepi karena doa begitu banyak warga dunia yang mencintainya. Kita akan senantiasa mendengarkan jiwa merdeka yang semilir seperti sedu bahagia dari kedalaman tanah pada pusara yang masih merekah kecoklatan. Jika tidak, artinya peradaban tak pernah bercermin dari sejarah keagungan seorang anak manusia bernama Nelson Mandela.

oscar motuloh
kurator GFJA

Foto: Pesan dan hadiah di depan rumah Nelson Mandela di Johannesburg, Minggu (8/12). (REUTERS/Kai Pfaffenbach)

Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use