Penghargaan World Press Photo 2014

Piramida Romantisme Kebuasan Manusia

Untuk pertama kalinya karya pewarta foto senior AS, John Stanmeyer, dari Agensi Foto VII meraih penghargaan tertinggi dalam kompetisi tahunan World Press Photo (WPP) 2014 yang diumumkan dalam konferensi pers di Amsterdam, Jumat malam (14/2). Fotografer Gary Knight, kolega Stanmeyer di Agensi VII, memimpin 20 juri pilihan WPP yang datang dari berbagai negara untuk menentukan karya berjudul "Signal" yang dimuat majalah National Geographic (NG) sebagai "Photo of the Year" sepanjang tahun 2013. Dalam salah satu penghargaan paling bergensi bagi belantara fotografi jurnalistik dunia tersebut, Stanmeyer menyisihkan 98.671 foto karya 5.754 fotografer yang berasal dari 132 negara. Meskipun tahun ini jumlah foto yang masuk lebih sedikit dari entri tahun lalu (103.481 imaji), namun jumlah peserta dan negara asal meningkat (5.666 fotogafer dari 124 negara).

"Signal" merupakan satu dari rangkaian 15 foto yang termuat menyertai kisah perjalanan penulis pemenang Pulitzer, Paul Salopek, yang melakukan petualangan jalan kaki mengikuti tetirah leluhur dari Afrika sampai Tierre de Fuego. Diterbitkan oleh NG sebagai serial bertajuk "To Walk the World" di edisi Desember 2013. Bagian pertama dari serial tersebut diberi judul "Out of Eden" dimana kisahnya dimulai dengan foto "Signal" yang memiliki kesan romantisme visual ala fotografi majalah NG yang terbit pertama kali pada 1888. Siluet tangan-tangan buruh mengacungkan tinggi telpon genggam mereka ke angkasa perairan Djibouti City pada suatu malam menggambarkan suatu tafsir yang dapat terbaca dalam beragam imajinasi setiap orang yang menatapnya.

Dikaitkan sebagai foto pembuka dari kisah perjalanan Salopek, "Signal" dapat bermakna sebagai suatu rumusan yang mendudukkan apakah suatu perjalanan adalah sebentuk petualangan atau sekedar jalan-jalan mengisi liburan. Dari sana, kita dapat merasakan perbedaan pengertian antara petualang dan pelancong. Petualang, kata novelis Paul Bowles yang menuliskan "Sheltering Sky" (1949), adalah seorang yang menjejakkan setiap langkahnya untuk suatu pengembaraan jiwa, hingga ke ujung dunia sekalipun. Mungkin seperti yang dilakukan Salopek. Sementara pelancong hanyalah sesosok manusia yang segera merasa kangen pulang setiap kaki menjejak tujuan wisatanya.

Namun ketika dengan cerdas Stanmeyer mencuplik satu foto, yakni "Signal", untuk diikutkan dalam kompetisi WPP 2014 maka makna yang terkandung di dalamnya menawarkan pembacaan lain yang lebih dari sekadar foto yang menyertai artikel dari perjalanan Salopek yang sangat fenomenal tersebut. Mendadak, kita seperti tergiring untuk mengenang imaji "Foto Terbaik 2009" yang dibuat pewarta foto lepas Pietro Matzuro di pelataran loteng-loteng kota Tehran setelah magrib. Tergambarkan suasana senja yang mencekam, dan keberanian seorang perempuan Iran meneriakkan protes atas kemenangan presiden Iran Ahmadinejad yang kontroversial itu. Suatu perlawanan tersembunyi. Namun harus dilantangkan dengan cerdik.

Sejak foto Matzuro itu, maka berturut-turut kita melihat Jodi Bieber (Afrika Selatan) memenangi "Foto Terbaik WPP" dengan potret perempuan Afghanistan Bibi Aisha tanpa hidung dan telinga akibat siksaan yang dideritanya dari keluarga suaminya. Lalu imaji "Pieta" yang muncul pada karya fotografer Spanyol Samuel Aranda yang mengabadikan seorang perempuan bercadar dengan kasih sayang merawat saudaranya yang terluka dalam suatu kerusuhan di kota Sana. Sementara tahun lalu kita melihat karya dramatis Paul Hansen (Swedia) ketika dia meliput pemakaman dua bocah Gaza yang menjadi korban kekejian tentara Israel. Sejak 2009 telah lima kali kawasan Timur Tengah dan sekitarnya terangkat oleh para juri WPP sebagai fokus perhatian.

Ada sandyakala ning pada imaji Stanmeyer, tapi muncul juga romantisme yang paradoks di dalamnya. Siluet para pekerja migran dengan gadget ditangan masing-masing sesungguhnya adalah perlambang piramida manusia, kekuasaan dan peradaban terkininya. Mereka tengah berupaya menangkap sinyal dari ujung teluk di seberang perairan negeri Eritrea sana yang tarifnya lebih murah. Imaji dua dunia yang terjepit oleh industri dan kemanusiaan adalah prasangka. Pada teluk itu, para buruh migran bercakap dengan rindu dendam saat mereka mendengar suara keluarga dan orang-orang yang mereka kasihi di tanah air masing-masing.

Langit biru menggelap memperkuat persepsi kita menatap romantisme modernitas dengan nyinyir. Sementara sosok dan gestur para migran itu tak hanya berarti seperti yang terpandang mata. Ratusan nyawa telah pergi untuk menjadi tumbal mimpi dan keinginan mereka untuk hidup lebih baik di kawasan Timur Tengah dan impian-impian Eropa mereka.

Perairan, cahya gadget dan suasana malam pada "Signal" seolah perlambang mimpi serta kehancuran. Dari pantulan sinar rembulan pada permukaan lautan, kita seperti melihat drama yang berlangsung dalam lengking tawa yang merindingkan bulu nyawa. Seperti derita para pencari suaka yang mengungsi dari negerinya di Iran sana melayarkan keluarganya menuju pulau Kanguru yang menyambut mereka dengan bedil. Juga suku Rohingya yang tak berkesudahan melayarkan manusia perahu mereka menuju daerah yang lebih aman.

Mengungsikan peruntungan karena tak lagi mampu berkompromi dengan sistem pemerintah yang mengendalikan roda pemerintahan tanah air mereka. Sementara gadget dan cahya-cahya berpendar seperti menjadi lambang kecanggihan semu yang mungkin mewakili jaman dan harapan di negeri di sebelah perairan ini. Karenanya tak berlebihan jika karya Stanmeyer yang meraih juara pada kategori Isu Kontemporer Tunggal, dipersunting dewan juri kali tahun ini sebagai "Photo of the Year" 2013. Dia seperti menjadi representasi fotografi jurnalistik dunia yang mencoba menatap anatomi peradaban sekaligus sejarah sebagai kesatuan.

Sebentuk cara pembacaan yang sejatinya memposisikan kemanusiaan di ujung peluru yang telah menjadi simbol kebencian dan penghancuran peradaban manusia. Mari simak karya metaforis menarik lainnya pada kategori yang sama. Karya Christopher Vanegas (Mexico), "Victim of Organized Crime", memperlihatkan betapa mayat tak ubahnya manekin yang dapat diperlakukan seperti mainan. Pemilihan sudut pengambilan membuat karya tersebut menjadi seolah suatu pertunjukan seni. Sebentuk kematian dalam kegemerlapan yang absurd.

Kantor berita Reuters dan AFP masing-masing memenangi satu kategori foto berita yang keras dan sudut human interest dari bencana topan dahsyat di Filipina. Goran Tomasevic (Serbia) dengan serial Spot News tentang pemberontakan anti-Assad di Syria. Dengan klik yang tepat, Goran mengabadikan bagaimana pecahan granat yang terlontar menghantam tembok tempat mereka berlindung. Suatu ketepatan menangkap momentum seperti yang juga dilakukan John Moore ketika mengabadikan ledakan bom bunuh diri yang menewaskan Benazir Bhutto saat berkampanye di Pakistan sekembalinya dari pengasingan.

Sementara pewarta foto AFP Phillipe Lopez menyajikan dengan elegan bagaimana ekspresi para penyintas yang bergerak membawa ikon agama yang berhasil mereka selamatkan dengan atmosfir bencana topan dahsyat yang menghancurkan Tolosa, yang terletak di pulau Leyte Filipina. Suatu imaji yang menjadi sudut pandang humanistik pada sisi lain mata uang fotografi jurnalistik bernama momentum peristiwa. Mari simak juga karya Steve Winter, salah satu fotografer alam liar beken yang memasang kamera perangkap di Griffith Park, untuk menangkap mimik dan ekspresi seekor cougar yang terlihat canggung dengan latar kota Los Angeles.

Kali ini tak ada subyek peristiwa yang tercuplik dari Indonesia. Runtuhnya Rana Plaza di Bangladesh yang menewaskan 1.000 lebih orang, penyanderaan di West Mall Nairobi, momentum sebelum hukuman gantung di Iran (Amir Pourman, General News Single), chaos di Bangui (William Daniels, General News Stories), kasus KDRT di Amerika Serikat (Sara Naomi, Contemporary Issue Stories), Nyanyian untuk Mendiang Jenderal di Burma (Julius Schrank, Daily Life Singles) dan satu potret grup remaja albino Bengali Barat, India (Brett Stirton) adalah karya-karya yang juga mendapat perhatian juri.

Stanmeyer yang malang melintang memenangi sejumlah penghargaan foto jurnalistik bergengsi dunia, sesungguhnya pertama kali dikenal dunia internasional atas liputannya di Indonesia pada periode Gerakan Reformasi yang berhasil menggulingkan rezim otoriter Soeharto. Dua serial foto yang dibuatnya pada tahun 1999 (bom mobil pada saat pelantikan Gus Dur menjadi presiden RI dan kematian tragis Bernandino Guterrez) diganjar penghargaan pertama dan ketiga dalam kategori foto cerita Spot News. Pria kelahiran Illinois tahun 1964 tersebut akan berusia tepat 50 tahun pada bulan Maret mendatang.

Sebelum membentuk Agensi Foto VII bersama Jim Nachtwey, pewarta foto kawakan yang beberapa pekan silam kakinya terserempet peluru saat meliput kerusuhan di Thailand, Stanmeyer adalah fotografer kontrakan untuk majalah berita Time antara 1998-2008. Dalam periode tersebut 18 fotonya menghiasi sampul depan majalah berita paling bergengsi di dunia itu. Dia sempat beberapa tahun menetap di pulau Bali dan menerbitkan satu buku foto personal tentang ritual dan keseharian Pulau Dewata tersebut yang diterbitkan penerbit buku premium Afterhours dengan judul "Island of Spirits" (September 2010).

Selama satu dekade belakangan ini Stanmeyer, yang bekerja secara nyaris ekslusif untuk majalah NG, telah berhasil membuat 12 foto cerita untuk majalah terkemuka di bidang alam dan lingkungan tersebut. Atas pencapaiannya, Stanmeyer menerima uang tunai sejumlah 10.000 Euro, sementara pemenang kategori memperoleh 1.500 Euro.

Akhirnya "Signal" juga menegaskan betapa pentingnya visi melihat dalam memandang suatu karya fotografi jurnalistik yang semakin subyektif representasinya. Demi fenomena yang semakin mengental tersebut, maka fotografi jurnalistik kontemporer di tanah air tak perlu kuatir atas kiblat visual yang semakin berubah arahnya. Kita tak perlu mengembalikkannya ke arah semula, karena jaman telah meniupkan kehendaknya. Dari siprit itu, maka pewarta foto diwajibkan mampu menghembuskan jiwa pada fotografinya. Dan, seperti pemeo orang-orang visual, seperti cahya di perairan Djibouti sana, "lebih baik menyalakan oncor, ketimbang kita memaki-maki kegelapan".

oscar motuloh
Galeri Foto Jurnalistik Antara

Foto: screenshot situs worldpressphoto.org yang menampilkan foto karya John Stanmeyer "Signal", peraih "Photo of the Year" 2013.

Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use