Pameran Foto 70 Tahun RI

Histori Masa Depan

Hari ini. Tujuh dasawarsa silam.
Dibidani dwitunggal Sukarno-Hatta - atas nama seluruh rakyat Indonesia – janin Proklamasi Kemerdekaan yang teramat didamba segenap insan tanah tumpah darah. Akhirnya terlahirkan juga di pangkuan Ibu Pertiwi. Sekarang. Tujuh rezim, telah menandai kepemimpinan Republik Indonesia sejak surga tropis yang bernama Nusantara menjadi koloni kerajaan Belanda dan imperium Jepang. Dinamika pasang surut demokrasi tentunya ikut mewarnai pemerintahan Republik pasca-proklamasi dari masa ke masa. Tak lengkap tanpa catatan sejarah yang terpeleset silih bergant. Menuruti selera yang berkuasa.

Karenanya tujuhbelasan tahun 2015 ini menjadi istimewa. Tak sekadar oleh umur Republik pas mencapai usianya yang ke tujuhpuluh. Tujuh dasawarsa, dimana 55 tahun keberadaannya didominasi dua rezim kepemimpinan. Selama duapuluhdua tahun kurang lima bulan orok Republik diasuh pemerintahan sipil presiden Sukarno dengan segala romantikanya. Sementara rezim militeristik Suharto membentuk karakternya sampai 32 tahun kemudian. Runtuhnya supremasi dua pemerintahan itu kemudian melahirkan generasi pemimpin baru yang ternyata masih jauh panggang dari api dengan harapan publik.

Meskipun sistem demokrasi terus dipoles menuju kedewasaannya. Parpol dan parlemen yang hakikinya berperan sebagai mesin pemikiran yang bertugas mencerdaskan bangsanya belum berhasil melakukan pendidikan politik yang fundamental bagi masyarakatnya. Hukum yang menjadi fokus harapan masih gagal ditegakkan dengan tegar. Paham kebencian dan hipokrasi bahkan dibiarkan mengusik kebangsaan. Korupsi terlanjur menjadi budaya. Sementara Pekik Merdeka! yang optimistik; gotong-royong yang tulus; slogan Bhineka Tunggal ika; seperti halnya juga (kemudian) istilah Reformasi; akhirnya hanya menjadi setumpuk tagline yang kalah. Kata yang letih. Dan seruan yang hampa.

Kita tak mungkin manarik waktu mundur. Namun dari sejarah kita belajar untuk merangkai masa depan. Sejarah bukan berhala yang perlu disembah dan disakralkan dengan varian dupa dan mitos kebohongan. Namun refleksinya dalam kehidupan adalah esensinya. Demi perjalanan menuju usia kematangan satu abad Republik nanti, perlu dirancang kembali bangun sejarah visual kita untuk diremajakan dalam semangat bagaimana negeri ini dahulu harus terlahirkan.

Kemajemukan adalah kekuatan yang merupakan akar dari lahirnya persatuan yang terbukti berhasil membebaskan Indonesia dari belenggu penjajahan. Rangkaian pameran memperingati 70 tahun Republik ini didasarkan pada semangat kemajemukan tersebut. Para kurator tamu dari rupa-rupa latar belakang tamu dengan antuasiasme yang tinggi bergabung untuk mencoba membentuk kembali mosaik yang tercecer menjadi suatu ikatan baru yang saling menguatkan.

Kurator independen Yudhi Soerjoatmdjo mengumpulkan para calon kurator muda untuk bersama-sama menemukan solusi penampilan mutakhir dari sejarah visual yang sepertinya terbelenggu dalam sakralisme sehingga terkesan repetitif penampilannya pada setiap agustusan sejak 70 tahun silam. Dari meja diskusi lahirlah metode pameran interaktif (terbaca sebagai augmented reality) yang barangkali tepat bagi generasi masa kini untuk menyebarkan rasa persatuan kita yang semakin hambar rasanya.

Pameran interaktif berbasis gawai (gadget) pada materi "24 Jam 17 Agustus" (dari studi kepustakaan) dan "13 untuk 13" (analisis teks dan 13 foto detik-detik Proklamsi yang dirancang oleh tim Yayasan Bung Karno yang terdiri dari Rusdhy Hoesein, Bambang Eryudhawan, Sigit Lingga dan Giat Wahyudi). Seluruh pameran dengan tema landasan Republik ini di fokuskan di lantai satu Museum Pers Antara dimana lokasi penyiaran berita Proklamasi Kemerdekaan RI untuk pertama kalinya dipancarluaskan ke seluruh dunia.

Pada ruang pamer utama GFJA, Neo Journalism Club dan Lorong Jurnalisme hadir pameran foto yang mempertemukan dua kutub fotografi periode Perang Revolusi Kemerdekaan (1945-1950) berdasarkan kerjasama Kantor Berita Antara dan Museum Bronbeek di Arnhem, Belanda. Hermanus Prihatna (Antara Foto), Pauljac Verhoeven dan Hans van den Akker (Museum Bronbeek) sepenuhnya membantu terhimpunnya ribuan materi foto, pamflet, poster propaganda bahkan komik gerilya untuk dikuratori menjadi rangkaian cerita untuk masa kini.

Koleksi filateli periode Revolusi Kemerdekaan yang langka dari Indra Kusuma, mural kemerdekaan yang dikerjakan Digie Sigit dan kawan-kawan, syair-syair dalam tulisan tangan asli dari pujangga Chairil Anwar, ikut dipamerkan bersama dengan variasi potret keseharian di bidang profesi diluar kemiliteran yang selama ini menjadi fokus repetitif narasi besar sejarah visual kita. Semua profesi yang mengalaskan amanah pekerjaannya demi Republik ini adalah pejuang. Mereka adalah pahlawan tanpa nisan dengan rupa-rupa nama mentereng.

Rangkaian Pameran dan penerbitan buku foto, "70 Tahun RI : Historia Masa Depan" adalah rejuvenasi atas sejarah visual kemerdekaan kita. Sebentuk persembahkan kecil dengan segala keterbatasannya bagi generasi baru Republik Indonesia. Mari bersulang merayakan refleksi makna kemerdekaan seraya merenungkan karakter para perintis negeri. Saksamai bagaimana majemuk dan egaliternya mereka, namun tegas pada komitmen kerja gotong royong yang penuh integritas, toleran atas perbedaan dan tulus demi negeri dan rakyatnya. Mungkin refleksi demikian yang dapat menginspirasi generasi masa kini untuk menuliskan kerangka sejarah masa depan kita.

Oscar Motuloh


Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use