20 Des 2014

Hancurnya Peradaban Brantas

hancurnya peradaban brantas

HANCURNYA PERADABAN BRANTAS

Air adalah kehidupan. Sungai adalah peradaban. Jika pada peradaban Mesir kuno ada Sungai Nil, maka Sejarah sungai Brantas adalah sejarah peradaban Jawa Timur, kerajaan-kerajaan besar Seperti Kadiri, Singosari dan Majapahit juga dibangun di sepanjang daerah aliran sungai Brantas.

Hingga kini, keberadaan Sungai Brantas, sangat vital bagi keberlangsungan kehidupan masyarakat Jawa Timur, 60 persen penduduk Jatim tinggal di DAS Brantas. Memiliki panjang 320 km dan daerah aliran sungai (DAS) seluas 12.000 km2, Sungai Brantas mencakup lebih kurang 25 persen luas provinsi Jawa Timur. Pemerintah menetapkan sebagai sungai strategis karena besarnya kontribusi daerah aliran sungai (DAS) Brantas pada stok pangan nasional.

Namun sayang kebijakan itu tidak diikuti dengan kebijakan pengelolaan dan kewenangan pengawasan. Akibatnya, Sungai Brantas saat ini menghadapi masalah kerusakan DAS yang serius. Sidikitnya terdapat 550 titik penyedotan pasir menggunakan mesin mekanik ditemukan disepanjang Tulungagung, Blitar, Kediri, Jombang hingga Mojokerto, yang setiap harinya menyedot pasir hampir 3 juta m3 pasir dari dasar sungai.

Penyedotan pasir besar-besaran ini menyebabkan berubahnya profil sungai, Pada daerah tertentu alur sungai yang semula sempit dan dangkal berubah menjadi lebar dan dalam, Pada daerah yang lain sebaliknya. Pengambilan pasir ini juga mengakibatkan ambruknya tebing-tebing sungai seperti yang banyak terlihat di daerah Papar, Kediri.

Menurut hasil riset Ecoton (Lembaga Pengkajian Ekologi dan Konservasi Lahan Basah) pada awal 2010, jika sebelumnya terdapat 56 jenis ikan air tawar yang hidup di Sungai Brantas, kini tinggal separuhnya, Padahal selain memberikan kehidupan bagi nelayan, ikan juga berfungsi sebagai dekomposer yang mengurai zat-zat kimia sehingga kandungan air tetap bersih dan aman dikonsumsi.

Akhirnya, sejauh manakah kita akan membiarkan upaya-upaya pengerusakan terus terjadi? Sejauh manakah kita mampu menanggung bencana akibat kerusakan itu yang sebenarnya telah tampak di depan mata?



Teks dan Foto : Arief Priyono

6/10/2010 21:20

17979 x dilihat