21 Okt 2014 :: Diperbarui 10 jam lalu

KETIKA TABUIK PARIAMAN DIHOYAK

ketika tabuik pariaman dihoyak

KETIKA TABUIK PARIAMAN DIHOYAK

Sore di Pariaman, Sumatera Barat, tanggal 5 Muharram, 11 Desember 2010, samar-samar terdengar gemuruh dari kejauhan. Gemuruh genderang perang, dua anak nagari berarak-arakan menuju arah timur dan utara.

Mereka membawa tiang-tiang bambu berikatkan panji-panji dan obor, lainnya menghoyak (mengguncang-guncangkan) "Tabuik Mini", sementara para penabuh Gendang Tasa begitu bersemangat, sehingga dentuman dentuman "Gandang Tasa" (gendang tasa) makin membuat semarak pesta arak arakan itu.

Pesta Budaya Tabuik Pariaman menyambut bulan Muharram 1432 Hijriyah telah dimulai, dan Pariaman pun gempita menyambut perayaan tahunan tersebut.

Kata tabuik berasal dari bahasa Arab yang berarti ‘keranda’ atau ‘peti mati’. Sementara perayaan Tabuik merupakan upacara untuk tragedi memperingati meninggalnya Husein (Cucu Nabi Muhamad SAW) pada 61 Hijriah yang bertepatan dengan 680 Masehi.

Dan peringatan itu berkembang menjadi sebuah tradisi pesta budaya tahunan bagi masyarakat Pariaman hingga sekarang, yang ditandai dengan mengarak, menghoyak dan melarung tabuik atau keranda dan simbol-simbol tragedi meninggalnya cucu nabi itu ke laut.

Prosesi Pesta Budaya Tabuik berlangsung mulai dari 1 hingga 10 Muharram, yang diawali dengan "Maambiak Tanah" dilanjutkan dengan "Manabang Batang Pisang". Kemudian "Maarak panja" (jari-jari), artinya mengarak jari-jari yang diletakkan pada alat yang bernama panja. Mengarak jari-jari merupakan kegiatan membawa tiruan jari-jari Husein yang tercincang pada perang Karbala. Selanjutnya, "Maarak saroban", melambangkan kebesaran dan penghormatan terhadap seorang pemimpin.

Prosesi terus dilanjutkan hingga puncaknya pada 10 Muharram, di mana dua tabuik itu dihoyak-hoyak dan diadu yang menggambarkan peperangan Karbala diiringi tabuhan gendang tasa dan sorak sorai pengunjung, bahkan mereka ikut bergoyang mengikuti irama gendang.

Kemudian saat matahari tenggelam, dua Tabuik itu pun dibuang ke laut.



Teks dan Foto: Iggoy el Fitra



14/1/2011 14:25

16816 x dilihat