21 Okt 2014 :: Diperbarui 3 jam lalu

MERAWAT DAN MERUWAT PENYU

merawat dan meruwat penyu

MERAWAT DAN MERUWAT PENYU

Sepertinya penyu ditakdirkan sebagai makhluk hidup yang susah untuk beranak-pinak, untuk tempat bertelur dan menetaskan telurnya saja perlu tempat yang terlindung dan dilindungi, maklum banyak predator yang hendak memangsa terlurnya, dan celakanya lagi salah satu predatornya itu

adalah manusia.



Tengok saja di tempat konservasi penyu di Taman Nasional Meru Betiri yang terletak di Pantai Sukamade, Banyuwangi, Jawa Timur, setiap bulannya sekitar 60 penyu mendarat di pesisir pantai Meru Betiri untuk bertelur dan ditanam dipasir pantai. Di pantai dengan panjang sekitar tiga kilometer itu menjadi tempat pendaratan sejumlah penyu untuk bertelur, seperti Penyu Hijau (Chelonia mydas), Penyu Lekang (Lepydochelys olivacea), Penyu Sisik (Eretmochelys imbricata), dan Penyu Belimbing (Dermochelys coriacea) yang kini makin jarang terlihat. 

Setiap malam mulai pukul 21.00 sejumlah petugas konservasi menyisir pantai untuk mengambil telur yang kemudian dipindahkan ke penangkaran buatan, dan ditanam dengan kedalaman 80 centimeter. Hal ini dilakukan untuk melindungi telur dari incaran predator seperti babi hutan dan lutung bahkan manusiapun kerap mencuri telur-telur itu. Petugas juga harus mengambil predator lain semacam parasit atau kerang yang nempel di tempurung penyu dewasa karena parasit bisa menembus tempurung dan menyebabkan kematian penyu.

Setelah menetaspun anak penyu terus diburu predator, telur-telur penyu menetas menjadi tukik (anak penyu) dalam waktu dua bulan, setelah lima hari menetas tukik akan dilepas ke laut. Namun ganasnya kehidupan laut menyebabkan kemungkinan hidupnya di laut hanya satu persen untuk bisa jadi penyu dewasa dengan perbandingan satu banding seribu.


M Risyal Hidayat

Pewartafoto Antara Surabaya



10/1/2012 13:0

12929 x dilihat