MERAWAT LAUT DI PULAU TOMIA

Anak-anak berkumpul untuk mengikuti ritual Safara'a di Pulau Tomia, Wakatobi, Sulawesi Tenggara.
Pemuka adat membawa Loloa atau sesajian berbentuk perahu untuk dilarung ke laut di Pulau Tomia, Wakatobi, Sulawesi Tenggara.
Parade perahu nelayan dihiasi berbagai tanaman untuk menjemput tamu pada rangkaian Festival Pulau Tomia, Wakatobi, Sulawesi Tenggara.
Tari Lutunani ditampilkan pada rangkaian Festival Pulau Tomia, Wakatobi, Sulawesi Tenggara.
Sejumlah anak membawakan tari Sajo Moane di Pulau Tomia, Wakatobi, Sulawesi Tenggara.
Para tokoh dewan adat Pulau Tomia berpakaian tradisional dan memegang tongkat yang melambangkan jabatan masing-masing di Wakatobi, Sulawesi Tenggara.
Sejumlah ibu membuat kue Karasi di Pulau Tomia, Wakatobi, Sulawesi Tenggara.
Sejumlah ibu mengenakan sarung Homoru yaitu sarung tenun khas Wakatobi pada rangkaian Festival Pulau Tomia, Wakatobi, Sulawesi Tenggara.
Warga melakukan ritual Siri Wale di Pulau Tomia, Wakatobi, Sulawesi Tenggara.
Seorang anak memperlihatkan ketupat dan lapa-lapa pada rangkaian Festival Pulau Tomia, Wakatobi, Sulawesi Tenggara.
Pengunjung menikmati pemandangan pulau Tomia dari puncak Kahyangan di Wakatobi, Sulawesi Tenggara.
Panorama bawah laut di titik selam Mari Mabuk pulau Tomia Taman Nasional Wakatobi, Sulawesi Tenggara.
Kabupaten Wakatobi, di Provinsi Sulawesi Tenggara termasuk salah satu tujuan utama wisata bahari di kawasan timur Indonesia. Nama Wakatobi sebenarnya adalah singkatan dari nama-nama pulau yaitu Wangi-Wangi, Kaledupa, Tomia dan Binongko, yang tradisi dan budaya penduduknya dikenal sangat beragam pengaruhnya mulai dari pengaruh Buton, Bugis, Makassar, Maluku, Flores, Jawa dan bahkan Sumatera.

Pulau Tomia adalah salah satu tempat tujuan yang paling terkenal di Wakatobi, bahkan telah menjadi primadona wisatawan mancanegara karena memiliki 30 titik penyelaman dan ‘snorkeling’ yang oleh UNESCO telah ditetapkan sebagai pusat cagar biosfer dunia.

Baca SemuaLetak geografis pulau Tomia yang strategis di jalur maritim melahirkan keberagaman budaya hasil akulturasi dengan budaya lain di Nusantara. Seperti masyarakat bahari pada umumnya, masyarakat pulau Tomia menganggap laut sebagai penyelamat keberlangsungan hidup.

Untuk lebih meningkatkan daya tarik bagi wisatawan, akhir tahun lalu digelar Parade Budaya dan Festival Pulau Tomia, yang diisi dengan berbagai atraksi seni dan budaya warga setempat.

Berbagai tarian tradisional dipentaskan seperti Lutunani yaitu tarian menjemput tamu, tarian Sajo Moane sebuah tarian perang-perangan yang diiringi dengan gendang dan gamelan. Warga juga berbarengan membuat kue Karasi, kue camilan khas tradisi Wakatobi yang menyerupai benang yang saling berkait sebagai simbol kesatuan dalam ikatan. Festival diakhiri dengan ritual Siri Wale, dimana warga berkumpul di Pantai Lakota pulau Tomia melakukan ritual mandi bersama-sama dan makan di laut.

Masyarakat pulau Tomia meyakini bahwa laut adalah sumber berkah dan harus dijaga kelestariannya demi keberlangsungan anak cucu, gelaran festival tersebut menjadi wujud rasa syukur akan berkah laut yang tidak pernah putus dan pengaharapan kepada Tuhan Yang Maha Kuasa agar diberi keselamatan di darat serta di laut.

Foto dan Teks: Dewi Fajriani

Ringkas
Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use