MENDULANG EMAS NAGARI SISAWAH

Aliran Sungai Batang Sumpur Lubuk Tasapik, Nagari Sisawah, menyimpan kekayaan emas yang menjadi daya tarik warga.
Warga mencari emas dengan mendulang di Sungai Batang Sumpur Lubuk Tasapik, Nagari Sisawah, Sumatera Barat.
Butiran emas berhasil didapat warga saat mendulang di Sungai Batang Sumpur Lubuk Tasapik, Nagari Sisawah, Sumatera Barat.
Warga menggunakan "Jae" yaitu peralatan sederhana terbuat dari kayu untuk mendulang emas di Sungai Batang Sumpur Lubuk Tasapik, Nagari Sisawah, Sumatera Barat.
Warga mencari emas dengan mendulang di Sungai Batang Sumpur Lubuk Tasapik, Nagari Sisawah, Sumatera Barat.
Warga mendulang di Sungai Batang Sumpur Lubuk Tasapik, Nagari Sisawah, Sumatera Barat.
Seorang anak mendulang emas di Sungai Batang Sumpur Lubuk Tasapik, Nagari Sisawah, Sumatera Barat.
Seorang wanita menyekop pasir dan bebatuan untuk didulang di Sungai Batang Sumpur Lubuk Tasapik, Nagari Sisawah, Sumatera Barat.
Butiran emas berhasil didapat warga saat mendulang di Sungai Batang Sumpur Lubuk Tasapik, Nagari Sisawah, Sumatera Barat.
Warga mencari emas dengan mendulang di Sungai Batang Sumpur Lubuk Tasapik, Nagari Sisawah, Sumatera Barat.
Warga mencari emas dengan mendulang di Sungai Batang Sumpur Lubuk Tasapik, Nagari Sisawah, Sumatera Barat.
Pasir dan bebatuan yang siap didulang di Sungai Batang Sumpur Lubuk Tasapik, Nagari Sisawah, Sumatera Barat.
Seusai hujan, di tepi jalan, harum tanah menguap bersama aroma getah yang mengeras pada akar pohon. Di bawahnya sungai mengalir ke hilir, mengantar jalan ke perkotaan. Di sungai Batang Sumpur Lubuk Tasapik, orang-orang datang ke tepian, sekadar mandi atau mencari serpihan emas yang berkilauan.

Nagari Sisawah, Kecamatan Sumpur Kudus, Kabupaten Sijunjung, Sumatera Barat, jaraknya cukup jauh dari perkotaan, sekitar dua jam perjalanan menggunakan roda empat. Kawasan yang kaya dengan lahan rotan dan karet itu, juga menyimpan kekayaan lain, yaitu emas.

Baca SemuaPada sebuah titik, terlihat sejumlah orang yang mencari emas di sungai itu. Mereka mencari emas secara tradisional dengan mendulang. Alat dulang yang mereka gunakan terbuat dari kayu berbentuk bulat dan biasanya disebut "jae". Selain itu juga ada sekop untuk mengeruk pasir atau batok kelapa yang dipotong agar bisa mengambil pasir dari sudut tersempit.

Mendulang emas sudah menjadi tradisi turun temurun di kawasan itu. Meskipun yang dicari hanya seserpih emas dalam bentuk butiran kecil, namun cukup untuk memenuhi kebutuhan mereka sehari-hari yang sebagian besar juga berprofesi sebagai petani.

Mereka sadar, sungai jernih itu merupakan alam yang harus dijaga. Maka, mencari emas akan tetap berlangsung secara tradisional, tanpa menggunakan mesin ataupun alat berat, yang tentunya akan merusak lingkungan tempat mereka tinggal.

Setiap hari, mereka rata-rata bisa mendapatkan dua hingga tiga buncis emas. Buncis merupakan satuan berat untuk butir-butiran kecil yang didapat dari mendulang. Per buncis harganya Rp43 ribu. Saat mereka mendapatkan 2,5 buncis emas, setara dengan satu gram emas murni. Emas hasil mendulang akan dibawa ke toko emas di Pasar Nagari Tanjung Ampalu, Sijunjung, untuk dijual.

Tidak hanya kaum orang tua, anak-anak pun ikut serta mendulang emas di sungai itu. Anak-anak biasanya mendulang sepulang sekolah sambil bermain atau mandi-mandi. Karena itu, pemerintah daerah setempat berniat untuk mengembangkan paket wisata mendulang di Nagari Sisawah.

Wisata mendulang dinilai akan menjadi hal yang menarik bagi para pendatang yang ingin mencoba mencari emas secara tradisional sekaligus mendapatkan emas yang bisa dibawa pulang.

Foto dan Teks: Iggoy el Fitra

Ringkas
Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use