FESTIVAL PERANG AIR SELATPANJANG

Warga dan wisatawan saling siram pada Festival Perang Air di Kota Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau.
Pawai Tahun Baru Imlek keenam di Kota Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau.
Pawai Tahun Baru Imlek keenam di Kota Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau.
Sejumlah warga mengenakan baju tradisional untuk menggambarkan dewa saat meramaikan pawai di Kota Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau.
Ribuan warga keturunan Tionghoa meramaikan pawai merayakan Tahun Baru Imlek keenam di Kota Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau.
Bunga api dari hio yang hampir habis terbakar saat akhir perayaan Tahun Baru Imlek keenam di Kota Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau.
Warga dan wisatawan saling siram pada Festival Perang Air di Kota Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau.
Suasana Kota Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau, saat Festival Perang Air.
Sejumlah wisatawan asing mengikuti Festival Perang Air di Kota Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau.
Ekspresi warga saat terkena siraman air pada Festival Perang Air di Kota Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau.
Sejumlah warga mengisi air saat Festival Perang Air di Kota Selatpanjang, Kabupaten Kepulauan Meranti, Riau.
Puluhan ribu orang pada peringatan Tahun Baru Imlek 2568/2017 berkumpul di sebuah kota kecil di pesisir Provinsi Riau, yang bernama Selatpanjang. Mereka bersuka cita menghadiri Festival Perang Air, sebuah permainan bocah Selatpanjang yang kini mendunia. Hanya ada satu aturan atraksi “perang air” yang sudah bertahan selama puluhan tahun: "kalau Anda disiram, dilarang marah".

Perang air yang dalam bahasa Hokian disebut "Cian Cui", lebih seru ketimbang perang air "Songkran" di Thailand, karena berlangsung selama enam hari selama peringatan Tahun Baru Imlek (Lunar New Year). "Cian Cui" awalnya adalah cara anak-anak setempat untuk mengisi waktu selama perayaan Imlek dengan saling menyiram air.

Baca SemuaKeriangan main air ini kemudian menjadi tradisi, dan sejak 2013 pemerintah daerah setempat mengemasnya menjadi sebuah festival. Warga dan wisatawan yang berkeliling di "medan perang" dengan mengendarai becak, harus siap menerima serangan yang datang dari pinggir jalan. Perang berlangsung selama dua jam pada pukul 16.00 hingga 18.00 WIB.

Lokasinya ditentukan di lima jalan protokol, yakni Jl. Diponegoro, Kartini, Imam Bonjol, A. Yani dan Jl. Tebing Tinggi. Peserta tidak diperkenankan melemparkan air dengan kemasan plastik karena bisa melukai dan mengotori kota.

Data panitia perang air dari Pemerintah Kabupaten Kepulauan Meranti menyatakan, ada sekitar 36.000 wisatawan yang ikut menghadiri Festival Perang Air pada tahun ini. Sekitar lima persennya adalah turis mancanegara. Jumlah wisatawan meningkat dibandingkan 2016, yang mencapai 16.000 orang.

Festival berakhir ketika perayaan Imlek keenam, yang diisi dengan pawai kebudayaan. Warga Tionghoa berkeliling ke puluhan kelenteng dan vihara sebagai bentuk ritual perayaan. Meski begitu, karena kegiatan ini sudah dikemas untuk wisata, peserta pawai sekarang diisi dengan kegiatan multikultur karena terdapat juga Reog Ponorogo yang merupakan atraksi budaya dari Jawa Timur.

Rangkaian kegiatan itu kini menjadi sebuah wisata Imlek di Riau, yang menarik untuk disambangi setiap tahunnya.

Foto dan Teks: FB Anggoro

Ringkas
Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use