TRADISI BERBURU DAN KELESTARIAN HUTAN ADAT TANA' ULEN

Piyit (71, kiri) seorang warga suku Dayak Kenyah Uma'lung bersama anak dan cucunya berpose dengan persenjataan sumpit di Desa Setulang, Malinau, Kalimantan Utara.
Piyit memeriksa anak sumpit yang akan dipergunakan berburu di Desa Setulang, Malinau, Kalimantan Utara.
Perlengkapan sumpit yang akan dipergunakan berburu di Desa Setulang, Malinau, Kalimantan Utara.
Anugerah (31) menari Tari Penjaga Hutan diiringi alat musik sape yang dimainkan Basmairan (29) di sela peristirahatan berburu di Tana' Ulen, Desa Setulang, Malinau, Kalimantan Utara.
Anugerah (kiri) bersama Basmairan (kanan) mempersiapkan peralatan mereka di atas perahu ketika akan berburu di Tana' Ulen, Desa Setulang, Malinau, Kalimantan Utara.
Basmairan (29) menggunakan perahu melintasi sungai menuju tempat berburu di Tana' Ulen, Desa Setulang, Malinau, Kalimantan Utara.
Eli Safan (32) bersama Anugerah (31) beserta anjing peliharannya berada di atas perahu menuju tempat berburu di Tana' Ulen, Desa Setulang, Malinau, Kalimantan Utara.
Eli Safan (32) melintasi hutan ketika berburu di Tana' Ulen, Desa Setulang, Malinau, Kalimantan Utara.
Basmairan (29), Ali safan (32) dan Anugerah (31) berburu di Tana' Ulen, Desa Setulang, Malinau, Kalimantan Utara.
Basmairan (29) berburu di Tana' Ulen, Desa Setulang, Malinau, Kalimantan Utara.
Eli Safan (31) menggunakan sumpit ketika berburu di Tana' Ulen, Desa Setulang, Malinau, Kalimantan Utara.
Anugerah (31) mengangkat anjing peliharaannya ketika berburu di Tana' Ulen, Desa Setulang, Malinau, Kalimantan Utara.
(kiri ke kanan) Basmairan (29), Sion (7), Eli Safan (32) dan Anugerah (31) berpose dengan persenjataan berburu di Tana' Ulen, Desa Setulang, Malinau, Kalimantan Utara.
Eli Safan (32) berburu di Tana' Ulen, Desa Setulang, Malinau, Kalimantan Utara.
Pagi itu, empat pemuda bersiap-siap untuk berburu di hutan, seorang di antaranya menaikkan anjing peliharaannya ke atas perahu sementara yang lainnya menata peralatan berburu dan menyalakan mesin perahu, mereka adalah pemuda Dayak Kenyah Uma'lung yang tinggal di Desa Setulang, Malinau, Kalimantan Utara.

Mereka akan berburu di hutan adat Tana' Ulen, sebuah hutan yang sangat mereka hormati dan dijaga kelestariannya, karena bagi mereka alam memberikan semua kebutuhan yang diperlukan.

Baca SemuaBagi masyarakat Dayak, kegiatan berburu biasanya dilakukan selepas musim panen dan dilakukan secara berkelompok, hasil buruannya pun tidak dijual tetapi dibagi sesuai kebutuhan yang ikut berburu.

Mereka masih menggunakan alat tradisional seperti mandau, sumpit dan tombak terkadang memakai senapan. Mandau merupakan senjata utama dan senjata turun temurun yang dianggap keramat. Sumpit merupakan senjata yang paling efektif, tidak mengeluarkan bunyi namun mematikan. Sumpit biasanya terbuat dari kayu Ulin yang panjangnya bisa mencapai tiga meter dan bisa digunakan sebagai tombak. Sementara anak sumpit terbuat dari bilah bambu yang diolesi getah beracun.

Saat ini tradisi berburu masih sering dilakukan warga di desa itu, selain berladang dan beternak sebagai mata pencahariannya. Masyarakat Dayak yang bermukim di Desa Setulang berharap kearifan lokal yang mereka jaga dapat lestari hingga anak cucu mereka dan hutan adat tetap terjaga, walau pun saat ini beberapa perusahaan menginginkan hutan tersebut untuk dijadikan lahan perkebunan kelapa sawit.

Foto dan Teks: Zabur Karuru

Ringkas
Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use