MELESTARIKAN JEJAK SEJARAH DI MOROTAI

Muhlis memeriksa teropong yang ia temukan dalam keadaan berfungsi di Pulau Morotai, Maluku Utara.
Army Dock, yang menjadi lokasi pelabuhan pendaratan alat tempur Sekutu di Pulau Morotai, Maluku Utara.
Hamparan pasir putih dan jernihnya air laut serta patung Jenderal Douglas MacArthur di Pulau Zumzum, Maluku Utara.
Muhlis Eso mencari peninggalan-peninggalan Perang Dunia ke-II hingga ke dalam gua di Pulau Morotai, Maluku Utara.
Dokumentasi Perang Dunia ke-II ditempel pada dinding rumah Muhlis Eso di Pulau Morotai, Maluku Utara.
Bangkai Tank Amphibi LVT-2 bekas Perang Dunia ke-II berada di perkebunan warga di Pulau Morotai, Maluku Utara.
Muhlis Eso menata peninggalan-peninggalan Perang Dunia ke-II di Pulau Morotai, Maluku Utara.
Muhlis Eso membawa senjata peninggalan Perang Dunia ke-II hasil temuannya di Pulau Morotai, Maluku Utara.
Kompas yang masih aktif ditemukan oleh Muhlis Eso di Pulau Morotai, Maluku Utara.
Peluru, Magasin dan granat peninggalan Perang Dunia ke-II di Pulau Morotai, Maluku Utara.
Tempat makan milik pasukan Sekutu pada Perang Dunia ke-II di Pulau Morotai, Maluku Utara.
Muhlis Eso memegang senjata peninggalan Perang Dunia ke-II hasil temuannya di Pulau Morotai, Maluku Utara.
Selain memiliki keindahan alamnya, Pulau Morotai yang berlokasi di ujung utara Provinsi Maluku Utara itu menyimpan banyak jejak-jejak sejarah peninggalan Perang Dunia ke-II.

Pada tahun 1942 pasukan Jepang menduduki di Pulau Morotai untuk memperluas wilayah kekuasaan di kawasan Pasifik. Namun pada September 1944, pasukan Sekutu yang dipimpin Jenderal Douglas MacArthur masuk ke Morotai untuk dijadikan pangkalan militer dengan membawa sekitar 3.000 kendaraan tempur sehingga pasukan Jepang melarikan diri dan masuk ke hutan.

Baca SemuaDari sisa-sisa Perang Dunia ke-II yang ada, menjadikan Morotai sebuah pulau yang memiliki nilai sejarah yang tinggi karena banyak ditemukan peninggalan-peninggalan dari militer Jepang dan Sekutu.

Banyaknya kendaraan baja serta benda-benda berbahan besi dan logam dari sisa peninggalan perang hingga banyak warga yang mengambil dan menjual untuk di daur ulang. Bahkan sekitar tahun 1980-1990 sebuah perusahaan industri baja mengambil banyak peninggalan-peninggalan tersebut untuk diolah dan dijadikan bahan baku.

Di tengah maraknya kegiatan warga yang berdampak hilangnya bukti-bukti sejarah Perang Dunia ke-II itu terdapat seorang pria bernama Muhlis Eso yang berusaha untuk menjaga sisa-sisa peninggalan perang untuk dilestarikan.

Pria kelahiran 20 April 1980 itu sejak kecil bersama kakeknya telah mencari dan mengumpulkan peninggalan-peninggalan perang dengan alat-alat seadanya untuk disimpan dan dilestarikan agar generasi selanjutnya dapat melihat bukti-bukti sejarah yang menjadi saksi bisu Perang Dunia ke-II di Pulau Morotai.

Dari bukti-bukti sejarah yang masih tersisa diharapkan Pulau Morotai menjadi destinasi wisata sejarah selain dari wisata alam dan baharinya yang telah dikenal akan keindahannya.

Foto dan Teks: Hafidz Mubarak A.

Ringkas
Copyright © 2017 ANTARA Foto Hak Siar Dilindungi UU Terms of Use